Tradisi Petan: Ketika Kehangatan Percakapan Dikalahkan Layar Gawai

Berita Terkait

Penulis: Eka Sari Meidiana

Di tengah derasnya perkembangan teknologi, banyak kebiasaan lama perlahan menghilang tanpa benar-benar kita sadari. Salah satunya adalah tradisi petan, sebuah kebiasaan perempuan duduk bersama sambil mencari kutu di rambut satu sama lain.

Bagi sebagian orang, petan mungkin terdengar sederhana, bahkan dianggap tidak lagi relevan. Namun, di balik aktivitas itu tersimpan nilai sosial yang kini semakin sulit ditemukan.

Generasi yang lahir pada era digital mungkin tidak pernah melihat tradisi ini secara langsung. Padahal, dahulu petan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

Kegiatan itu dilakukan di teras rumah, di bawah pohon, atau selepas bekerja di sawah.

Sambil memetan, mereka berbincang, bertukar cerita, berbagi keluh kesah, hingga saling menguatkan. Tidak ada gawai, tidak ada media sosial, tetapi hubungan antarmanusia terasa begitu dekat.

Sayangnya, perubahan gaya hidup membuat tradisi tersebut perlahan ditinggalkan. Waktu berkumpul kini sering tergantikan oleh layar telepon genggam.

Ironisnya, kita semakin mudah terhubung dengan orang yang jauh, tetapi justru semakin jarang benar-benar hadir untuk orang-orang di sekitar kita.

Percakapan yang dulu mengalir tanpa batas kini berganti menjadi tatapan pada layar masing-masing.

Tentu, bukan berarti kita harus menghidupkan kembali petan persis seperti dahulu. Zaman telah berubah, begitu pula pola hidup masyarakat.

Namun, yang patut dipertahankan bukan sekadar kegiatannya, melainkan nilai yang terkandung di dalamnya. Petan mengajarkan bahwa kebersamaan tidak selalu membutuhkan acara besar. Duduk bersama, mendengarkan cerita orang lain, dan meluangkan waktu tanpa tergesa-gesa merupakan bentuk kepedulian sosial yang kini mulai langka.

Tradisi ini juga mengingatkan bahwa budaya tidak selalu hadir dalam bentuk upacara adat atau pertunjukan seni. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang diwariskan turun-temurun juga merupakan identitas budaya yang layak dikenang. Ketika tradisi seperti petan hilang, bukan hanya sebuah aktivitas yang lenyap, tetapi juga cara masyarakat membangun kedekatan, kepercayaan, dan rasa memiliki terhadap sesama.

Karena itu, mengenalkan kembali tradisi petan kepada generasi muda menjadi penting, setidaknya sebagai bagian dari pengetahuan budaya. Tidak harus dilakukan dalam bentuk yang sama, tetapi melalui cerita, tulisan, dokumentasi, maupun pendidikan budaya lokal.

Dengan begitu, generasi mendatang mengetahui bahwa bangsa ini pernah memiliki tradisi sederhana yang mampu mempererat hubungan antarmanusia.

Pada akhirnya, tradisi petan mengajarkan satu hal yang masih relevan hingga hari ini: manusia membutuhkan ruang untuk saling mendengar dan saling hadir.

Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan serba digital, mungkin yang sebenarnya kita rindukan bukan kegiatan memetan itu sendiri, melainkan kehangatan percakapan yang pernah tumbuh darinya. Jangan sampai tradisi ini hanya menjadi cerita yang dikenang, tanpa pernah dipahami makna yang ditinggalkannya.

*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UMA

TINGGALKAN KOMENTAR

Berita Pilihan

Ketika Putusan MA Menyentuh Kekuasaan, Sejauh Mana Hukum Ditegakkan?

Paimal Andri, S.Sos. (Guru, aktivis sosial, dan alumni Ilmu Politik UM Sumbar) Putusan Mahkamah Agung (MA) terkait keabsahan surat keterangan penyetaraan...