Oleh: Muhibbullah Azfa Manik
Rabu sore di sebuah kafe di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Rudi Santoso menyeruput cappuccino seharga Rp45 ribu. “Kalau enggak ngopi di sini, kayaknya enggak keren,” ujarnya, sambil sesekali melirik ponsel untuk memantau cicilan mobil barunya yang baru sebulan ia tebus lewat leasing. Rudi, 35 tahun, manajer pemasaran di sebuah perusahaan swasta, termasuk bagian dari kelas menengah kota besar yang kini kian terhimpit.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan memang melandai, tapi daya beli masyarakat tetap menurun. Gaji naik tak sebanding dengan lonjakan harga kebutuhan pokok. Sementara itu, laporan Bank Dunia tahun lalu menyebutkan kelas menengah Indonesia—sekitar 52 juta jiwa—berisiko “jatuh miskin” jika tak mampu mengelola keuangannya.
Fenomena ini membuat banyak pekerja kantoran seperti Rudi berada di persimpangan. Bertahan dengan gaya hidup konsumtif, atau menahan diri agar tidak terperosok ke kelas bawah?
Mobil Baru, Masalah Baru
Kesalahan paling umum kelas menengah adalah tergoda membeli mobil baru lewat cicilan. Alasannya macam-macam: gengsi, kebutuhan keluarga, atau sekadar promo leasing yang tampak menguntungkan. Padahal, seperti dikatakan analis keuangan Lestari Pramudita, cicilan kendaraan kerap menggerus porsi tabungan. “Mobil bukan aset produktif. Nilainya menyusut, bukan bertambah,” ujarnya.
Ia mencontohkan, jika seseorang menukar mobil lama dengan model baru senilai Rp300 juta lewat leasing lima tahun, beban cicilan bisa mencapai Rp6-7 juta per bulan. Bandingkan dengan penghasilan kelas menengah rata-rata di Jakarta sekitar Rp8-12 juta. “Praktis separuh penghasilan habis untuk mobil. Itu sama saja menggali lubang,” kata Lestari.
Solusinya: pakai dulu mobil yang ada. Jika kondisinya masih layak jalan, menunda membeli kendaraan baru adalah strategi bertahan.
Promosi Jangan Jadi Petaka
Kenaikan pangkat dan gaji seringkali diartikan sebagai lampu hijau untuk meningkatkan gaya hidup. Restoran lebih mahal, gadget terbaru, hingga cicilan rumah baru. Padahal, menurut Lestari, “kenaikan gaji sebaiknya langsung dialokasikan untuk tabungan hari tua atau investasi.”
Bayangkan seseorang naik gaji Rp3 juta. Jika seluruh tambahan itu dihabiskan untuk gaya hidup, tabungan tak bertambah sepeser pun. Namun, jika Rp2 juta diinvestasikan dalam reksa dana atau saham indeks, dalam 10 tahun nilainya bisa berlipat ganda. “Disiplin menabung saat gaji naik adalah penentu apakah kelas menengah bisa naik kelas atau malah turun,” ujarnya.
Healing: Ilusi yang Mahal
Belakangan istilah healing menjadi mantra populer. Setiap long weekend, jalan tol menuju Puncak dan Yogyakarta penuh sesak. Media sosial dijejali unggahan orang-orang yang pamer liburan. Namun, apa betul healing menyelesaikan masalah?
Bagi banyak kelas menengah, healing justru menambah pusing. “Sekali liburan keluarga bisa habis Rp5-10 juta. Pulangnya malah ditagih kartu kredit,” kata Doni Wijaya, karyawan swasta yang kini memilih liburan di rumah.
Seorang Psikolog, Ratna Dewi, menyebut fenomena healing ini sebagai “pelarian instan”. Menurutnya, ketenangan mental justru bisa didapat dari aktivitas sederhana yang tak harus mahal. “Bersepeda di taman dekat rumah atau sekadar membaca buku bisa jadi terapi yang lebih murah,” katanya.
Kopi Angkringan vs Kopi Kafe
Tak bisa dipungkiri, kafe menjadi simbol gaya hidup kelas menengah urban. Namun secangkir kopi Rp50 ribu, jika dikali lima kali seminggu, berarti Rp1 juta sebulan—jumlah signifikan bagi mereka yang masih berutang.
“Kalau memang butuh kopi, angkringan juga tak kalah nikmat,” ujar Ratna, sambil menyinggung dampak sosial. Ngopi di warung kecil bukan hanya menghemat pengeluaran, tapi juga membantu pedagang mikro bertahan.
Fenomena ini pernah diteliti oleh Urban Studies Center, sebuah lembaga riset. Mereka menemukan bahwa pengeluaran “ngopi cantik” rata-rata menyedot 12 persen dari pendapatan kelas menengah di kota besar. “Padahal angka ini bisa dialihkan ke tabungan atau asuransi,” kata Ratna.
Rumah Megah Bukan Jaminan
Godaan berikutnya: pindah rumah baru. Begitu tabungan terkumpul sedikit, banyak orang tergoda mengambil KPR rumah lebih besar. Alasannya, anak bertambah, status sosial, atau sekadar “biar keren”.
Namun, investasi paling aman justru bukan rumah mewah, melainkan aset likuid seperti emas atau saham. Sejarah mencatat, konglomerat legendaris Sudono Salim alias Om Liem tetap memilih tinggal di rumah lamanya di Gunung Sahari, Jakarta, meski ia mampu membeli istana.
“Rumah besar itu aset yang mahal dipelihara,” kata Lestari. Pajak bumi dan bangunan, perawatan, hingga listrik dan air bisa melonjak. Sementara emas dan saham relatif mudah dicairkan saat darurat.
Bertahan di Masa Sulit
Lalu, apa yang harus dilakukan kelas menengah agar tak tergelincir?
Pertama, tahan diri dari konsumsi besar berbasis utang: mobil, rumah, dan gaya hidup berlebihan. Kedua, maksimalkan kenaikan gaji untuk tabungan jangka panjang, bukan gaya hidup instan. Ketiga, koreksi kebiasaan pengeluaran kecil tapi rutin, seperti kopi kafe dan liburan berlebihan.
Krisis ekonomi memang menghantam semua lapisan. Namun kelas menengah punya posisi unik: jika salah langkah, bisa terjerumus ke kelas bawah; jika cerdas, bisa naik ke kelas atas. “Ini soal disiplin finansial, bukan sekadar soal gaji,” kata Lestari.
Di kafe Tebet sore itu, Rudi akhirnya mengaku mulai gelisah. Ia menghitung-hitung cicilan mobil dan tagihan kartu kredit. “Mungkin bulan depan saya harus berhenti ngopi di sini,” katanya. Mungkin, itu langkah kecil yang bisa menyelamatkan masa depannya.


