Ketika pihak sekolah tempat anak kami “makan bangku” sekolah meminta persetujuan bahwa anak-anak akan mengikuti Program Makan Bergizi Gratis, saya hampir tidak berpikir lama. Pertanyaannya sederhana. Apakah setuju atau tidak.
Saya langsung menjawab setuju. Alasannya juga sederhana. Sangat sederhana malah.
Pertama, dengan adanya MBG tentu istri tidak lagi terlalu repot menyiapkan dua menu sekaligus setiap pagi. Biasanya ada sarapan dan ada juga bekal untuk dibawa ke sekolah. Anak-anak kami pulangnya siang. Jadi setiap pagi selalu ada kesibukan kecil yang berulang. Menyiapkan nasi. Menyiapkan lauk. Memastikan bekal masuk ke tas. Memastikan tidak ada yang tertinggal.
Bagi sebagian orang itu mungkin perkara kecil. Tapi bagi para ibu rumah tangga, terutama yang harus mengurus banyak hal dalam waktu bersamaan, itu bukan pekerjaan kecil.
Kedua, says juga berpikir akan ada penghematan. Belanja dapur tentu sedikit berkurang. Ada satu porsi makan yang tidak lagi perlu disiapkan di rumah. Mungkin tidak besar. Tapi dalam keadaan harga kebutuhan yang makin sulit ditebak, pengurangan kecil juga tetap terasa manfaatnya.
Itu yang terlintas di pikiran waktu itu. Oh iya ada juga alasan ketiga, saya merasa inilah saatnya bisa menikmati langsung uang negara yang notabene uang kita semua yang dihimpun lewat pajak. Karena memang keluarga kami sejauh ini tidak ada yang jadi pegawai negeri.
Saat itu, sebenarnya ada juga sedikit kekhawatiran seiring gencanya pemberitaan perihal siswa keracunan akibat MBG. Tetapi saya memilih berpikir positif. Namanya juga program baru. Mungkin ada kekurangan di awal. Pemerintah pasti melakukan perbaikan. Setidaknya itu yang aku pikirkan saat itu.
Lalu program itu mulai berjalan.
Seperti kebanyakan orang tua lain, aku juga mulai penasaran. Aku bertanya kepada anak-anak sepulang sekolah. “Gimana makanannya? Kayak gak ada rasa gitu?”
Mereka menjawab itu karena mungkin belum familiar dengan masakan selain olahan ibunya. Maklumlah, ibunya kalo memasak lebih berasa garam dan pedasnya.
Tapi setelah itu muncul kalimat berikutnya.
“Pun sedikit sekali, Afiq masih tetap lapar,” ucap anak. Aku diam. Mereka bercerita bahwa lauknya sedikit. Nasinya juga tidak terlalu banyak. Ada beberapa temannya yang juga mengaku masih lapar sebelum waktu pulang sekolah tiba. Sehingga sebagian iawannya tetap membawa bontot.
Di situ aku mulai berpikir. Sebenarnya berapa anggaean tang dialokasikan untuk sepiring nasi anak-anak kami sehingga porsi hidangan terlalu minimalis.
Pikiranpun semakin liar mempertanyakan kecukupan gizinya. Sebab bagi anak-anak usia sekolah dasar, makan bukan sekadar urusan masuknya makanan ke perut. Mereka sedang ada di usia tumbuh. Mereka berlari. Mereka bermain. Mereka belajar. Mereka menghabiskan energi jauh lebih cepat dibanding orang dewasa.
Lalu beberapa hari berikutnya aku mulai memperhatikan isi menu yang dibawa pulang dalam cerita mereka. Ada hari ketika isinya makanan ringan. Ada susu kotak. Ada biskui dan hampir rutin dua buah salak ukuean kecil.
Lalu muncul pertanyaan di kepalaku. Apakah itu cukup? Apakah itu benar-benar memenuhi kebutuhan gizi anak-anak yang sedang bertumbuh?
Bukankah kita sering mendengar bahwa usia sekolah dasar membutuhkan protein yang cukup. Membutuhkan asupan yang baik. Membutuhkan makanan yang bukan hanya mengenyangkan tetapi juga membangun tubuh mereka.
Belum lagi soal yang lain. Soal kebersihan, misalnya. Sungguh, saya belum sepenuhnya bisa menenangkan pikiran di bagian ini.
Karena sebelum makanan itu sampai ke tangan anak-anak, jalannya cukup panjang. Ada proses pengadaan bahan. Ada proses memasak. Ada proses pengemasan. Ada proses distribusi. Ada proses penyimpanan dan ada proses pembagian.
Semakin panjang perjalanan sebuah makanan, semakin banyak juga titik yang harus dijaga.
Dan dari situlah pikiranku mulai berjalan ke mana-mana. Mungkin persoalan MBG ternyata tidak sesederhana urusan memberi makan anak-anak sekolah.
Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform digital e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum


