Oleh: Muhibbullah Azfa Manik
Di dunia yang serba daring ini, tempat kita menghabiskan lebih banyak waktu di layar ketimbang menatap langit, kebaikan pun kini punya alamat baru. Bukan lagi di catatan hati atau di Lauhul Mahfuz, melainkan di linimasa.
Setiap langkah kecil yang diambil – dari menyisihkan uang sedekah, membelikan kopi untuk petugas kebersihan, hingga sekadar menyapa satpam dengan senyum terbaik – berpotensi menjelma menjadi konten digital yang rapi dan menarik. Momen tersebut difoto dari sudut paling heroik, disunting dengan filter yang lembut, dan diunggah dengan caption bijak, tak lupa ditutup dengan tagar yang berkilau seolah memancarkan niat paling suci.
“Diduga tidak ingin merepotkan malaikat pencatat amal, beberapa orang menulis kebaikannya sendiri di media sosial.”
Kalimat satir ini seringkali dibagikan ulang, menghantam kesadaran kolektif kita dengan cara yang sopan tapi sangat telak. Ia menyinggung sebuah kebiasaan yang kini begitu jamak—bahkan mungkin kita semua pernah melakukannya—yakni lebih sibuk memastikan kebaikan itu terlihat daripada benar-benar terjadi di dunia nyata.
Kisah Lena: Mencari Validasi di Balik Filter
Mari kita hadirkan sosok Lena, seorang influencer muda yang dikenal sangat “peduli” di akun Instagram-nya.
Suatu sore, Lena melihat seorang ibu tua penjual kue keliling kesulitan mendorong gerobaknya di tanjakan. Naluri kemanusiaan Lena tersentuh. Namun, alih-alih langsung membantu, Lena sigap mengeluarkan ponselnya. Ia meminta temannya untuk merekam dari jarak ideal, memastikan pencahayaan di wajahnya saat ia mendekat, membeli semua kue, dan berpura-pura menawarkan bantuan mendorong gerobak, sebelum bergegas kembali ke mobil.
“Tolong fokus rekam ekspresi Ibu itu, ya. Angle aku harus terlihat tulus,” bisik Lena pada temannya.
Lima menit kemudian, video itu sudah tayang di Instagram Story Lena. Diberi musik latar menyentuh, caption yang berbunyi, “Sedikit rezeki hari ini untuk Ibu Hebat. Jangan pernah lelah berjuang! ❤️ #BerbagiItuIndah #KebaikanKecil,” dan tentu saja, tautan ke kanal donasi.
Bagi Lena, kebaikan hari itu bukan sekadar membantu ibu penjual kue; kebaikan itu baru benar-benar valid ketika ia sudah diukur dalam bentuk view dan like. Ibu itu terbantu, ya, tapi yang lebih penting, citra Lena sebagai ‘malaikat’ di linimasa ikut naik.
Inilah jebakan abad digital. Ruang maya telah mengaburkan batas yang paling sakral: antara niat murni dan pencitraan yang terencana. Di sana, kebaikan bukan lagi urusan hati, melainkan variabel dalam sebuah algoritma.
Moralitas sebagai Tontonan Publik
Beberapa tahun terakhir, kita hidup di era di mana moralitas telah bertransformasi menjadi tontonan publik, sebuah reality show tanpa henti.
Seperti yang diamati oleh para sosiolog, kita sedang berada di puncak zaman “virtue signaling” – di mana individu merasa wajib memperlihatkan seberapa baik, progresif, atau peduli dirinya demi mendapatkan pengakuan eksistensi dan status sosial.
Dalam psikologi sosial, perilaku Lena dan jutaan pengguna media sosial lainnya digolongkan sebagai performative altruism. Ini adalah kebaikan yang tampil di permukaan bukan semata-mata untuk meringankan beban orang lain, melainkan untuk menegaskan identitas diri sendiri kepada khalayak: “Lihat aku. Aku orang baik, lho.”
Ironisnya, di panggung pamer kebaikan ini, seringkali korban kebaikan itu sendiri yang dijadikan properti.
Bayangkan Pak Usman, seorang pedagang kecil yang tiba-tiba direkam saat menerima sumbangan atau bantuan. Kamera ponsel menyorot kondisi rumahnya yang reyot, pakaiannya yang lusuh, dan—yang paling dicari—raut wajahnya yang terharu.
Pak Usman merasa senang dibantu. Tapi ia juga merasa harga dirinya tergores. Ia tidak pernah meminta kondisi getirnya menjadi tontonan publik. Ia tidak meminta donatur tersebut menjadi pahlawan di mata jutaan followers dengan menjadikannya objek belas kasihan. Namun, ia diam saja. Sebab, menolak difoto berarti menolak bantuan.
Dengan cara ini, unggahan “niat baik” secara tak sadar melahirkan hierarki moral baru yang kejam: siapa yang lebih dermawan (dan pandai mempublikasikannya), siapa yang lebih peduli, dan siapa yang layak dinobatkan sebagai manusia paling “berhati mulia” di jagat maya.
Kapan Kebaikan Berubah Menjadi Komoditas?
Tentu saja, kita tidak boleh skeptis secara buta. Tidak semua yang diunggah itu buruk. Banyak orang menggunakan platform mereka untuk benar-benar menginspirasi, menularkan semangat berbagi, atau menggalang dana untuk tujuan mulia. Ada pula niat tulus yang berujung viral, dan itu baik.
Namun, yang berbahaya adalah ketika niat baik secara perlahan berubah menjadi komoditas atau strategi branding.
Bagi sebagian orang, kebaikan adalah mata uang sosial. Semakin banyak “aset” kebaikan yang dipamerkan, semakin tinggi nilai moral mereka di mata followers. Mereka mengukur kesuksesan kebaikan bukan dari dampak nyatanya, melainkan dari metrik digital: engagement rate, jumlah share, dan komentar pujian yang membanjiri.
Pertanyaannya, lantas di mana letak ikhlas itu?
Dalam tradisi spiritual mana pun, ⁸kebaikan sejati adalah kebaikan yang dilakukan diam-diam, yang kiri tidak tahu apa yang dilakukan kanan. Tujuannya tunggal: menolong orang, berbuat benar, dan mencari ridho Illahi (atau rasa damai universal). Kebaikan sejati tidak membutuhkan aplaus atau tepuk tangan, apalagi notifikasi like. Ia cukup menjadi urusan pribadi antara individu dengan Sang Pencipta atau nuraninya sendiri.
Ketika kebaikan harus dibingkai, diberi hashtag yang catchy, dan dipertontonkan agar “menginspirasi”, ia seringkali hanya menjadi panggung bagi ego yang terselubung. Kita menjadi pecandu validasi digital, di mana nilai diri kita diukur dari seberapa banyak orang setuju bahwa kita adalah orang baik.
Jalan Keluar: Mencari Kepuasan Batin, Bukan Kepuasan Algoritma
Kasus Lena dan Pak Usman hanyalah contoh kecil dari sebuah fenomena besar. Kita tidak bisa melarang orang memposting. Dunia sudah berubah menjadi ruang share. Namun, kita bisa mengubah cara kita menavigasinya.
Langkah pertama adalah memeriksa niat di balik unggahan. Sebelum menekan tombol “posting,” tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini benar-benar untuk menginspirasi atau sekadar mencari pujian dan applause? Apakah saya mengobjektifikasi orang yang saya bantu? Apakah saya merampas martabat mereka demi citra diri saya?
Kebaikan sejati, pada akhirnya, adalah tentang dampak, bukan tontonan.
Kita bisa belajar dari mereka yang menjadi “malaikat” tanpa perlu badge digital. Mereka yang menyumbang tanpa harus difoto. Mereka yang menolong tanpa harus live report di Instagram Story. Mereka yang mencari kepuasan batin yang mendalam, yang tak bisa dikalahkan oleh jumlah like terbanyak sekalipun.
Sebab, di akhir hari, yang dicatat adalah perbuatan itu sendiri, bukan caption yang menyertainya. Dan keadilan sejati akan tetap menjadi urusan antara kita, nurani kita, dan alam semesta—jauh dari kebisingan dan drama linimasa.


