Infrastruktur di Deliserdang, Jalan Berlubang yang Kadang Berdebu Kadang Berkuah

Berita Terkait

Orang Percut Sei Tuan barangkali sudah lupa bagaimana rasanya berkendara di jalan yang mulus. Setiap hari, mereka disambut aspal yang terkelupas seperti kulit luka lama yang tak kunjung sembuh. Jalan Kapten Batu Sihombing Desa Medan Estate, misalnya. Panjangnya lebih dari satu kilometer, tapi tak ada sejengkal pun yang betul-betul rata. Lubang di mana-mana. Kalau musim hujan, genangan air dan lumpur jadi ranjau. Kalau kemarau, debu mengepul seperti kabut pagi, tapi berisi partikel yang menggerus paru-paru dan mata.

Di sana, jalan tak lagi sekadar infrastruktur. Ia adalah kesaksian bahwa negara ini kadang bisa begitu jauh dari rakyatnya.

Jalan Laut Dendang menuju Meteorologi tak kalah menyedihkan. Di tepinya, pasar ilegal tumbuh tak karuan, menggerogoti badan jalan yang sempit, dan memperparah kemacetan yang seolah tak kenal pagi atau petang. Di depan Kampus Unimed – tempat ribuan mahasiswa dan pelajar melintas saban hari – aspal pun bergelombang dan berlubang. Jalan yang mestinya membuka ilmu, justru bisa menjebak pengendara ke rumah sakit.
Jalan Sederhana di Desa Sambirejo Timur? Tak se-sederhana urusannya. Tiga kilometer panjangnya, dan tak satupun bagiannya bisa disebut baik-baik saja. Begitu jalan Trimurti di kawasan desa Bandar Klippa, kondisinya tak kalah parah. Orang kampung barangkali sudah lelah berharap, dan mulai percaya bahwa jalan berlubang adalah bagian dari hidup. Seperti hujan bulan Desember yang datang tanpa diundang.

Baca juga : Macet Setiap Hari di Tembung, Pemkab Deliserdang Tak Pernah Hadir

Padahal, janji-janji itu sudah pernah diucapkan. Bupati Deli Serdang, Asri Ludin Tambunan, bahkan sempat meninjau langsung ke Jalan Pendidikan I di Desa Sei Rotan beberapa waktu lalu. Katanya, perbaikan akan dimulai Juni 2025. Tapi Juli sudah habis, dan tak ada satu alat berat pun yang terlihat. Warga mulai menyebutnya “janji manis yang basi.” Mereka tak lagi menghitung waktu dengan kalender, tapi dengan jumlah lubang yang kian menganga di jalan.

Akses ke SMP Negeri 9 Percut Sei Tuan di Desa Amplas juga baru mulai disentuh, setelah keluhan warga memuncak. Dan itupun masih sekadar rencana, katanya akan diaspal sebelum akhir tahun. Semoga tak sekadar jadi daftar kegiatan musiman menjelang tahun anggaran habis.

Tentu, kita bisa menyalahkan anggaran. Bisa pula menyudutkan birokrasi yang ruwet. Tapi, apa cukup hanya dengan menyalahkan? Sementara rakyat terus menambal jalan secara swadaya dengan pecahan batu pembongkaran bangunan dan doa. Harapan mereka sederhana, agar perjalanan mereka lancar dan aman serta minimalis kemacetan.

***
Ada satu kisah lama yang selalu membuat saya bergidik setiap kali menulis tentang pemimpin dan pelayanan. Umar bin Khattab, khalifah besar yang adil itu, pernah berkata dalam satu malam yang sunyi: “Seandainya seekor keledai jatuh di jalanan Irak karena jalannya tak rata, aku takut Allah akan menanyai aku di Hari Kiamat: mengapa engkau tidak ratakan jalan itu, wahai Umar?”

Ia tak sedang bersajak. Ia sedang bergumul dengan rasa tanggung jawab yang begitu dalam. Ia tahu, pemimpin tak hanya bertanggung jawab atas rapat dan pidato, tapi juga atas lubang-lubang kecil yang bisa saja merenggut nyawa makhluk-Nya.

Baca Juga : Pasar Liar di Deliserdang: Bahu Jalan Dikuasai, Kemacetan Tak Terbendung

Lalu, jika Umar bisa takut masuk neraka karena seekor hewan, bagaimana dengan pemimpin hari ini yang membiarkan ribuan rakyatnya melintas di jalan rusak setiap hari, menghirup debu, terjerembab dalam genangan, atau jatuh tergelincir?

Barangkali terlalu naif berharap ada Umar di masa kini. Tapi setidaknya, kita boleh berharap ada yang masih mau mendengar jeritan dari balik lubang di jalan itu.

Dan semoga, jalan-jalan yang rusak itu bukan cermin dari hati-hati yang ikut retak di gedung-gedung pemerintahan.

Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform digital https://www.myedisi.com/mimbarumum

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Ketika Rasulullah Bertanya: “Hadiah Itu Karena Siapa?”

Kita sering mendengar pejabat menerima hadiah. Kadang disebut tanda terima kasih. Kadang disebut pemberian pribadi. Kadang pula dianggap hal...