mimbarumum.co.id – Dua guru madrasah asal Sumatera Utara, Magdalena Lubis, S.Pd dan Surya Sudariyanto, S.Pd, kembali mengharumkan nama daerah melalui kiprah literasi tingkat nasional dan ASEAN.
Keduanya turut mencatatkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dalam proyek Antologi Puisi Etnik Nusantara yang melibatkan 1.400 penulis, menjadikannya antologi dengan jumlah penulis terbanyak di kawasan ASEAN.
Magdalena merupakan guru di MTsS NU Kementerian Agama Kota Medan, sementara Surya bertugas di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Binjai. Keduanya aktif mengikuti berbagai event literasi yang digagas Perkumpulan Rumah Seni Asnur (PERRUAS) pimpinan Datok Sri Asrizal Nur, sebuah rumah kreatif seni budaya yang berpusat di Depok, Jawa Barat dan sejak 2014 konsisten menggelar kegiatan seni budaya nasional hingga ASEAN.
Perjalanan Menuju Rekor MURI
Magdalena menjelaskan bahwa PERRUAS pada tahun 2025 menggelar proyek antologi bertema “Etnik Nusantara”, yang membuka pendaftaran sejak 5 Februari hingga 10 April 2025. Peserta berasal dari negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand.
Peserta mendapat pelatihan kepenulisan via Zoom Meeting serta pendampingan melalui WhatsApp.
Menurut Asrizal Nur—sebagaimana dikutip dari perruas.com—antologi ini mengeksplorasi tradisi, budaya, sejarah, legenda, adat, hingga tokoh daerah di masing-masing negara peserta.
Hasilnya, buku Antologi Puisi Etnik Nusantara pun resmi mencatat Rekor MURI untuk kategori “Jumlah Penulis Terbanyak”. Piagam penghargaan diterima pimpinan PERRUAS di Jakarta, dan akan dilanjutkan dengan launching buku pada Desember 2025 di Provinsi Jambi.
Apresiasi dari Madrasah
Kepala MAN Binjai, Hasanuddin Hasibuan, S.Pd, M.Si, menyampaikan apresiasi kepada Surya yang berhasil kembali mencatat prestasi literasi tingkat nasional.
“Atas nama keluarga besar madrasah, kami bangga dan bersyukur. Ini adalah pencapaian luar biasa dan menjadi motivasi bagi guru serta siswa kami,” ujar Hasanuddin.
Sementara Magdalena sendiri telah mengukuhkan rekornya hingga lima kali bersama PERRUAS sejak 2020, melalui karya:
– Kumpulan Pantun Nasihat 1000 Guru Asean (2020)
– Kumpulan Gurindam Kalbu ASEAN (2022)
– Antologi Syair Dunia (2023)
– Antologi Karmina Asean (2024)
– Antologi Ouisi Etnik Nusantara (2025) dengan 1.400 penulis
Ia telah menghasilkan 35 buku sejak 2018, termasuk satu buku puisi tunggal berjudul “Jungkir Balik Musim”.
Sementara Surya mencatat dua kali Rekor MURI, yakni:
– Kumpulan Gurindam Kalbu ASEAN (2022)
– Antologi Etnik Nusantara (2025)
Pada kesempatan itu, Surya juga menyampaikan terima kasih kepada PERRUAS, pimpinan madrasah, serta sesama penulis, termasuk putranya Firaas Alfarisi Putra Surya (mahasiswa UNPAD) yang turut menjadi penulis dalam buku tersebut.
Mereka mengangkat karya bertema etnik Mandailing, yakni “Gondang Dohot Holong” oleh Magdalena Lubis, “Mangupa Upa” oleh Surya Sudariyanto dan “Mangulosi” oleh Firaas Alfarisi.
Pesan untuk Guru Indonesia
Dalam pernyataan bersama, Magdalena dan Surya mengajak para guru di seluruh Indonesia untuk terus aktif meningkatkan budaya literasi.
“Tetaplah semangat mencerdaskan generasi bangsa menuju Indonesia Emas 2045,” ujar keduanya.
Reporter: Ngatirin/rel


