mimbarumum.co.id – Di sebuah sudut sederhana di Desa Cinta Rakyat, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deliserdang, kisah kecil tapi besar makna lahir dari rekaman CCTV mushola SD Negeri. Rekaman itu tidak menampilkan keributan, bukan pula kejadian kriminal. Justru sebaliknya. Seorang bocah diam-diam membersihkan mushola sekolahnya tanpa ada yang memerintah.
Anak itu bernama Aqil. Tubuhnya mungil, langkahnya ringan, namun hati dan tindakannya membuat banyak orang dewasa tertegun. Setiap pulang sekolah, ketika teman-temannya bergegas pulang, Aqil memilih tinggal lebih lama. Ia menyapu lantai mushola, menata sajadah, merapikan rak Al-Qur’an, lalu pergi tanpa berkata-kata.
Awalnya para guru hanya heran melihat mushola selalu bersih dan tertata. Mereka bertanya-tanya siapa yang melakukannya. Rasa curiga sempat hinggap, apalagi Aqil sering pulang lebih lambat dari kawan-kawannya. Hingga akhirnya, rekaman CCTV sekolah mengungkap semuanya. Bukan petugas kebersihan, bukan pula arahan guru, melainkan inisiatif tulus Aqil dan dua orang temannya.
Kisah sederhana itu sampai ke telinga seorang tokoh nasional. Muhammad Nuh, anggota DPD RI/MPR RI asal Sumatera Utara, terenyuh. Dari Jakarta, ia bergegas terbang ke Kualanamu, lalu menuju rumah Aqil di Desa Cinta Rakyat. “Di tengah kondisi sebagian anak-anak di negeri ini yang memprihatinkan, ternyata masih ada yang mempunyai sikap mulia seperti ini,” ujarnya penuh haru.
Di hadapan Aqil dan keluarganya, Nuh berulang kali mengucap syukur. Baginya, sikap kecil yang lahir dari hati suci anak-anak ini adalah harapan besar bagi bangsa. “Ada generasi penerus yang kelak mewarisi negeri ini dengan akhlak yang mulia,” katanya.
Momen itu kian mengharukan ketika Nuh menyerahkan hadiah kepada Aqil. Senyum bocah itu merekah, wajahnya memancarkan rasa bahagia yang tulus. Orang tuanya pun tak kalah gembira. Bagi mereka, kunjungan seorang senator ke rumah sederhana mereka adalah sebuah kehormatan sekaligus dukungan moral yang besar untuk terus menanamkan kebaikan pada anak-anaknya.
Tak hanya itu, Nuh juga mengajak Aqil berbelanja perlengkapan sekolah dan menjanjikan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke pesantren. Ia ingin memastikan anak-anak seperti Aqil tumbuh dengan pendidikan terbaik dan lingkungan yang mendukung.
Di mushola kecil SD Negeri Desa Cinta Rakyat, langkah Aqil memang sederhana: menyapu, merapikan, membersihkan. Namun ketulusan yang ditinggalkannya meninggalkan jejak besar. Bukan hanya bagi teman-temannya yang kini bisa ngaji dengan lebih nyaman, tetapi juga bagi para orang tua, guru, dan bahkan pejabat negara, yang tersentuh oleh kebaikan tanpa pamrih seorang anak.
Repporter : Ngatirin


