Oleh: Dr. Suasana Nikmat Ginting, SHi, MA
Ketua PW Pemuda Muslimin Indonesia Sumatera Utara / Wakil Ketua Syarikat Islam Sumut
PADA tanggal 16 Oktober 1905, di Pasar Laweyan Solo, seorang pengusaha batik bernama H. Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah (SDI). Ia tidak sedang mendirikan organisasi biasa. Ia mendirikan perlawanan. Perlawanan ekonomi umat terhadap dominasi pedagang Tionghoa dan kolonial Belanda.
Dari SDI yang kecil itu, lahirlah Syarikat Islam. Tahun 1912 di bawah Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, Syarikat Islam menjelma menjadi raksasa. 2,5 juta anggota tahun 1919. Organisasi modern pertama, terbesar, dan paling berpengaruh di Hindia Belanda. Dari rahim Syarikat Islam lahir Soekarno, Semaoen, Kartosuwiryo, Agus Salim, dan para pendiri bangsa lainnya. Bolehlah dikatakan, “Tanpa Syarikat Islam, tidak ada Indonesia”.
Hari ini, 16 Oktober 2026, Syarikat Islam berusia 121 tahun. Usia yang sangat matang. Jika manusia, sudah sepuh. Tapi jika organisasi, usia ini adalah ujian: apakah kita masih relevan? Atau hanya tinggal nama dan nostalgia sejarah?
Milad 121 tahun ini tidak boleh hanya dirayakan dengan potong tumpeng dan seminar seremonial. Milad ini harus menjadi momentum muhasabah besar.
Muhasabah itu bisa kita mulai dari usia Syarikat Islam yang sudah dijalani. Siklus alami di usia organisasi yang semakin tua maka perlu diperhatikan adalah, tiga penyakit tua yang harus disembuhkan di Kongres Nasional ke 42, yang akan dilaksanakan di Surabaya 17 sampai 20 Oktober 2026.
Pertama, adalah Krisis Kaderisasi.
Tidak ada yang berani membantah bahwa organisasi Syarikat Islam hebat dalam perjalanan sejarah bangsa ini, tetapi lemah dalam melahirkan kader baru. Pemuda Muslimin sebagai banom sudah melakukan gerakan kaderisasi dan memang seyogianya menjadi mesin kaderisasi.
Langkah Pemuda Muslim seyogianya mendapat support dan dukungan yang kuat dari induk organisasi, sehingga labolatorium kader bisa berjalan maksimal.
Untuk itu maka, di kongres SI yang akan berlangsung harus bisa menemukan pola yang bagus dalam menatap program kaderisasi. Sebagaimana dahulu Syarikat Islam mampu memiliki anggota yang banyak dan terdata dengan baik. Perlu kita sadari sedari dini, bahwa tanpa kader, maka SI akan jadi museum.
Kedua, Krisis Ekonomi. Syarikat Islam lahir dari ekonomi. H. Samanhudi berdagang batik. HOS Tjokro mengelola koran dan koperasi. Hari ini, kita terlalu banyak bicara politik, tapi lupa ekonomi umat. Di Milad 121 ini, kita harus kembali ke khittah ekonomi. Kongres harus melahirkan keputusan berani: Revitalisasi Koperasi Syarikat Islam, BMT Syarikat Islam, dan Jaringan Wirausaha Muslimin. Jangan lagi kader SI jadi penonton di negeri sendiri.
Jika koperasi, BMT dan wirausaha sudah dibetuk di daerah-daerah maka, keselarasan program dan dukungan dalam berbagai hal dari DPP dan DPW sangat diharapkan. Sehingga program pemerintah dapat dijalin kerjasama atau pola lain yang membuat koperasi SI hidup dan berkembang.
Dan yang ketiga adalah Krisis Manajerial.
Banyak organisasi kita besar semangat, tapi berantakan manajemennya. Inilah mengapa dibutuhkan pelatihan kepemimpinan bagi kader- kader SI maupun Pemuda Muslim, sehingga kader memiliki tanggungjawab dan manajemen yang baik dalam bidangnya masing-masing.
Kongres bukan hanya soal siapa ketua, tapi soal bagaimana organisasi ini dikelola secara modern, transparan, akuntabel, dan digital. SI harus bertransformasi dari organisasi perjuangan konvensional menjadi organisasi modern yang melek teknologi.
Menyongsong Kongres: Kongres Persatuan, Bukan Perpecahan
Isu Kongres selalu identik dengan konflik. Ketua, kubu-kubuan, dualisme. Sudah cukup ! Usia 121 tahun mengajarkan kita bahwa perpecahan adalah warisan kolonial untuk melemahkan kita. Belanda dulu sengaja memecah SI menjadi SI Putih dan SI Merah tahun 1921.
Kongres SI yang akan datang harus menjadi Kongres Kebangkitan, Kongres Persatuan, Kongres Rekonsiliasi.
Agenda utamanya bukan hanya memilih Presiden Lajnah Tanfidziyah yang baru, tapi: Meneguhkan Kembali Aqidah Islam sebagai Asas Perjuangan. Di tengah gempuran sekularisme dan liberalisme.
Konsolidasi Total Pimpinan Wilayah dan Cabang Se-Indonesia. Termasuk seluruh Cabang di Sumatera Utara yang siap menyukseskan Kongres.
Menyusun Peta Jalan (Roadmap) Syarikat Islam 2026-2045. Menuju Indonesia Emas, apa peran SI?
Menguatkan Peran Pemuda Muslim, dan banom lainnya sebagai Tulang Punggung Syarikat Islam. Sebab, dalam ajaran agama dijelaskan, kita ibarat satu bangunan yang satu sama lainnya saling menguatkan. Diusia senja yang sudah matang, tidak makomnya lagi saling mengedepankan ego ataupun status masing- masing. Bangunan yang kuat dan kokoh pasti didukung oleh semua unsur dan elemen.
Wahai seluruh kader Syarikat Islam, Pemuda Muslimin Indonesia, dan banom lainnya, dari Sabang sampai Merauke.
121 tahun yang lalu, kakek kita memulai dengan dagang batik. Hari ini, tugas kita bukan lagi melawan Belanda, tapi melawan kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan di negeri sendiri.
Jika HOS Tjokroaminoto masih hidup, apa yang akan beliau katakan melihat kita hari ini? Apakah beliau bangga? Atau kecewa?
Jawaban itu ada di tangan kita yang akan hadir di Kongres nanti atau pasca kongres berlangsung.
Selamat Milad ke-121 Syarikat Islam.
Sekali Syarikat Islam, Tetap Syarikat Islam.
“Sebersih-bersih Tauhid, Setinggi-tinggi Ilmu, dan Sepandai-pandai Siasah”
Hidup Kader Pemuda Muslimin Indonesia Sumut !
Billahi Fie Sabilil Haq, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.(*)


