CORONG: Generasi Milenial Penyambung Lidah Peradaban?

Berita Terkait

DALAM gegap gempita dunia yang semakin terdigitalisasi, suara generasi milenial sering kali terdengar samar, tenggelam dalam hiruk-pikuk media sosial dan percepatan zaman. Namun, di tengah arus deras ini, sebuah ruang alternatif hadir untuk menampung dan mengolah suara mereka menjadi sesuatu yang lebih substantif: Festival Sastra dan Peradaban II yang ditaja oleh Teater GENERASI dan difasilitasi Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dimulai dengan Pelatihan Menulis Naskah Drama, festival ini bukan sekadar ajang kesenian, melainkan sebuah upaya kultural untuk menempatkan generasi milenial sebagai penyambung lidah peradaban. Disusul, 10 November 2025 Festival Drama Epos Perjuangan dan 11–14 November 2025 Workshop Drama Tradisional Bangsawan.

Langkah pertama dalam festival ini adalah Pelatihan Menulis Naskah Drama. Pelatihan ini menjadi fondasi yang krusial, karena di sinilah para peserta—kebanyakan generasi milenial—diajak untuk tidak hanya menjadi konsumen pasif budaya, tetapi menjadi produsen aktif yang mencipta narasi. Mereka belajar untuk merangkai konflik, membangun karakter, dan menyusun dialog yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan refleksi sosial.

Dalam pelatihan ini, para peserta tidak hanya diajarkan teknik penulisan, tetapi juga digugah untuk menggali isu-isu kontemporer yang mereka hadapi sehari-hari. Mulai dari masalah identitas di era globalisasi, tekanan sosial media, hingga kegelisahan eksistensial sebagai generasi yang terjepit antara tradisi dan modernitas.

Proses ini adalah upaya untuk mentransformasi kegelisahan individu menjadi energi kreatif kolektif. Dengan demikian, naskah drama yang dihasilkan bukanlah karya yang mengawang-awang, tetapi bersumber dari denyut nadi zaman yang mereka alami langsung.

Teater GENERASI, sebagai penaja festival, berperan sebagai wadah yang menghidupkan naskah-naskah tersebut di atas panggung. Nama “GENERASI” sendiri sudah menunjukkan komitmen untuk menjadi corong bagi suara generasi muda. Dalam konteks ini, teater tidak hanya dipandang sebagai medium hiburan, tetapi sebagai ruang dialektika dimana gagasan-gagasan segar dan kritis dapat disampaikan kepada khalayak yang lebih luas.

Fasilitasi dari Badan Bahasa memberikan dimensi yang berbeda sekaligus vital bagi festival ini. Badan Bahasa, sebagai institusi negara yang konsern pada pembinaan dan pengembangan bahasa, memberikan semacam legitimasi dan kerangka kelembagaan yang menjamin kualitas dan keberlanjutan Bantuan Pemerintah (Banpem) untuk Komunitas Sastra. Dukungan ini menunjukkan bahwa negara, dalam hal ini, mengakui pentingnya peran generasi muda dalam merawat dan mengembangkan khazanah sastra dan budaya Indonesia.

Lalu, bagaimana tepatnya generasi milenial berperan sebagai “penyambung lidah peradaban” melalui even semacam ini?

Pertama, mereka menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas. Generasi milenial adalah generasi yang hidup di persimpangan; mereka akrab dengan nilai-nilai tradisi warisan leluhur, tetapi juga terkoneksi dengan nilai-nilai global. Dalam karya-karya mereka, unsur-unsur tradisi—seperti cerita rakyat, mitologi, atau nilai-nilai kearifan lokal—dapat diolah dan dihadirkan kembali dengan kemasan dan perspektif yang segar, sehingga relevan bagi penonton zaman now. Dengan cara ini, mereka menyambung lidah peradaban masa lalu untuk tetap berbicara di masa kini.

Kedua, mereka adalah penerjemah semangat zaman yang efektif. Isu-isu seperti kecemasan iklim, kesetaraan gender, kesehatan mental, dan keadilan sosial adalah konsern utama milenial. Melalui medium sastra dan teater, mereka menerjemahkan kegelisaban global tersebut ke dalam narasi-narasi lokal yang mudah dicerna dan dipahami oleh masyarakat akar rumput. Mereka menjadi penyambung lidah yang menyuarakan isu-isu peradaban global dalam konteks lokal Indonesia.

Ketiga, mereka adalah agen regenerasi budaya. Festival yang dimulai dari pelatihan menulis ini pada dasarnya adalah proses alih pengetahuan dan passion. Para peserta yang adalah generasi muda akan menjadi duta-duta baru yang membawa estafet kesenian dan pemikiran kritis ke lingkungan mereka masing-masing. Mereka memastikan bahwa percakapan tentang sastra, seni, dan peradaban tidak putus di tengah jalan.

Festival Sastra dan Peradaban II yang diinisiasi Teater GENERASI dengan fasilitasi Badan Bahasa adalah sebuah contoh nyata bagaimana seni, khususnya sastra dan teater, dapat menjadi jalan untuk membangun peradaban yang lebih manusiawi. Dalam konteks ini, generasi milenial tidak dipandang sebagai objek pasif yang harus dicekoki dengan nilai-nilai lama, melainkan sebagai subjek aktif yang memiliki kemampuan dan hak untuk ikut membentuk wajah peradaban masa depan.

Mereka adalah “penyambung lidah” karena mereka memiliki kemampuan untuk mendengarkan bisikan masa lalu, memahami gemuruh masa kini, dan kemudian menerjemahkannya menjadi sebuah narasi yang dapat didengar dan dimengerti oleh semua generasi. Melalui kata-kata yang mereka tulis dalam naskah dan mereka ucapkan di atas panggung, mereka sedang merajut kembali tenun kebudayaan kita yang mungkin mulai robek di beberapa bagian.

Kegiatan semacam ini adalah investasi kultural yang sangat berharga. Ia tidak hanya melatih keterampilan menulis atau berteater. Yang lebih penting, ia membangun kepercayaan diri generasi muda untuk menyuarakan pikiran dan perasaan mereka, terlibat dalam percakapan peradaban, dan pada akhirnya, menjadi penyambung lidah yang akan membawa bangsa ini melangkah lebih mantap menuju masa depan. Dalam tangan merekalah, lidah peradaban ini akan tetap bersuara, penuh makna, dan menyala-nyala.

• Suyadi San, pegiat budaya, Ombudsman Koran Mimbar Umum, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Sidak Kantor Camat Hinai, Plt. Bupati Langkat Tiorita Tekankan Disiplin dan Pembenahan Pelayanan Publik

mimbarumum.co.id-Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Langkat Tiorita Br. Surbakti, S.H., melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Kantor Camat Hinai, Kamis (8/10/2026),...