Siang itu, dapur redaksi Mimbar Umum mendapat tamu istimewa. Bupati Deliserdang, dr. Asri Ludin Tambunan, hadir dan berbincang hangat tentang banyak hal. Dari sekian isu yang dibicarakan, kemacetan di Tembung menjadi salah satu topik utama yang mencuat.
Bupati tidak menutup mata. Ia mengakui bahwa Jalan Besar Tembung memang kerap menjadi simpul macet. Badan jalan yang kecil tak sebanding dengan arus kendaraan yang terus meningkat. Ibarat wadah yang meluap, jalan itu sudah lama tak mampu menampung derasnya lalu lintas.
Dalam penjelasannya, Bupati menyinggung akar persoalan. Deliserdang, katanya, sejak awal tidak didesain untuk tumbuh sebesar sekarang. Kabupaten ini berkembang pesat sebagai penyangga Kota Medan, tetapi pembangunan jalan pada masa lalu tak dilakukan secara terintegrasi. Drainase diabaikan, jalan sempit dibiarkan, dan kini warisan itu berbuah kemacetan.
Namun ia juga membawa harapan. Ada 522 kilometer jalan utama yang sedang dimaksimalkan kondisinya. Ada rencana membuka jalan alternatif agar beban kendaraan tak bertumpuk di satu titik. Bahkan Pasar Gambir, yang selama ini menjadi biang keruwetan, tengah dirancang ulang melalui koordinasi dengan PTPN.
Langkah-langkah itu tentu patut diapresiasi. Tidak semua pemimpin mau datang dan mengakui persoalan di hadapan media. Tidak semua pula mau berbicara terus terang tentang keterbatasan masa lalu dan rencana ke depan.
Meski demikian, warga Tembung tentu menunggu bukti nyata. Sebab macet bukan hanya wacana, melainkan kenyataan sehari-hari yang melelahkan. Jalan sempit, pasar semrawut, dan drainase mampet adalah pemandangan yang setiap hari mereka hadapi.
Kehadiran Bupati di meja redaksi memberi isyarat baik bahwa masalah ini diakui dan dicari jalan keluarnya. Semoga dari pengakuan itu lahir langkah-langkah konkret. Sebab bagi rakyat, kemacetan bukan sekadar topik diskusi, melainkan soal waktu, tenaga, dan hidup yang terbuang di jalan.
Islam mengajarkan bahwa setiap kesulitan pasti disertai jalan keluar. Fa inna ma‘al ‘usri yusrā, inna ma‘al ‘usri yusrā. Maka, bila ikhtiar dilakukan dengan sungguh-sungguh dan amanah, kita percaya bahwa jalan Tembung yang sempit pun kelak bisa terbuka lebih lapang.
Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper https://myedisi.com/mimbarumum



Mantap bos, semoga sukses!