Kamis, Mei 30, 2024

Bertindak Anarkis, PSMS Ingin PSSI Keluarkan Sanksi Untuk Persiraja

Baca Juga

mimbarumum.co.id –  Persiraja beserta suporternya diduga melakukan tindakan anarkis. Mereka melakukan aksi tak terpuji dengan melemparkan botol mineral, batu, bahkan juga melakukan aksi penyanderaan terhadap official, pelatih dan pemain PSMS Medan.

Insiden itu terjadi saat Persiraja menjamu PSMS Medan dalam lanjutan Liga 2 yang berlangsung di Stadion Harapan Bangsa, Sabtu (18/11/2023).

Seusai laga yang berakhir imbang dengan skor 0-0 tersebut, para suporter Persiraja melakukan aksi pelemparan botol mineral dan batu kepada official, pelatih dan juga pemain PSMS.

Selain itu para pemain PSMS juga disandera dan tak bisa meninggalkan stadion setelah dikepung ribuan suporter. Tim PSMS harus bertahan di ruang ganti karena minimnya aparatur keamanan.

Laga yang seharusnya berakhir pukul 23.00 WIB, namun karena tak bisa keluar, tim PSMS harus bertahan hingga Minggu dinihari (19/11/2023) Pukul 01.00 WIB setelah mendapatkan jaminan pengawalan ketat tim keamanan. Dua wiper dan kaca spion bus PSMS patah. Bus juga dilempar saat meninggalkan stadion bersama pemain dan ofisial di dalamnya.

Ironisnya, selain pelemparan dan penyanderaan, kapten PSMS, Rahmad Hidayat juga mengalami pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh wakil Presiden Persiraja, Yudi Cot Ara (Kana) dan rekannya yang mengakibatkan dirinya mengalami luka pukulan pada kepala bagian depan.

Alhasil manajemen PSMS Medan langsung bereaksi melayangkan protes resmi ke komisi disiplin PSSI.

“Soal protes kami (PSMS) ke PSSI, sudah kami layangkan langsung malam itu juga. Dan saya sudah berkoordinasi, berhubungan dengan Direktur PT Liga, Ferry Paulus terkait kejadian semalam (di markas Persiraja),” ujar Chief Operating Officer PT Kinantan Medan Indonesia, Andry Mahyar, Minggu, (19/11/2023).

Bahkan diririnya menyayangkan sikap pengurus Persiraja yang terlibat dalam aksi pengeroyokan terhadap kapten PSMS, Rachmad Hidayat.

“Ini suatu hal memalukan dalam persepakbolaan kita. Ada oknum pengurus sepak bola yang ikut terlibat dalam pengeroyokan terhadap salah satu pemain PSMS,” ungkapnya.
Untuk itu dirinya meminta Komdis PSSI tak hanya memberikan sanksi denda saja, namun juga sanksi yang lebih keras lagi seperti partai usiran, atau sanksi tanpa penonton, bahkan diskualifikasi.

“Dalam pasal 68 sampai 70 kode disiplin PSSI menjelaskan mengenai sanksi jika terjadi kerusuhan yakni pengusiran dan juga menggelar pertandingan tanpa penonton. Bahkan dalam sanksi tambahan juga ada pasal yang mengatur tentang diskualifikasi  jika terjadi kerusuhan,” ucap Andry.

Dia juga mengungkapkan, kejadian serupa bukan hanya sekali ini terjadi dan PSMS bukan satu-satunya korban. Disebutkannya, saat Persiraja melawan Sada Sumut, Semen Padang juga Sriwijaya ada kejadian yang tak jauh beda.

“Artinya sudah habit, ini enggak boleh terjadi sepak bola kita. Kalau hanya dengan denda akan dilulangi lagi. Persiraja harus ada hukuman tambahannya,” katanya lagi.

Sebelumnya peringatan keras juga pernah disampaikan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, kepada para suporter sepakbola agar tidak rusuh. Pasalnya, Indonesia terancam sanksi FIFA.

Dilansir dari sejumlah laman, Erick mengingatkan, Indonesia masih dalam pemantauan FIFA, imbas dari berbagai polemik sepak bola Tanah Air salah satunya tragedi Kanjuruhan.

Jika kembali terjadi kerusuhan, Erick mengatakan bahwa Indonesia bisa terkena sanksi keras dari FIFA.

“Suporter sejak awal sudah saya ingatkan. Kita ini bukan tidak dihukum oleh FIFA. Kita ini dipantau oleh FIFA. Kalau ada kejadian yang tidak diinginkan, pasti dihukum,” ucap Erick dalam konferensi pers, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Reporter: Zaim Dzaky

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

DPD AMPI Kota Medan serahkan SK PLT untuk 3 Kecamatan di Kota Medan

mimbarumum.co.id – Ketua DPD AMPI Kota Medan Rizky Nugraha menunjuk Bonny Paulus Manurung dan Nayyir Fauzan Ritonga sebagai Ketua...

Baca Artikel lainya