mimbarumum.co.id – Sanggar Techno’s Percut Sei Tuan Deliserdang keluar sebagai Juara I dalam Festival Drama Epos Perjuangan Tingkat Pelajar dan Mahasiswa Provinsi Sumatra Utara yang digelar pada 10 November 2025 di Taman Budaya Medan. Kemenangan itu diumumkan Dewan Juri seusai pertunjukan drama bangsawan “Sayembara Bohong” hasil workshop sekaligus penutupan Festival Sastra dan Peradaban II Teater GENERASI di gedung utama Taman Budaya Medan, Sabtu petang (15/11/2025).
Kelompok Teater Techno’s Percut Sei Tuan sukses menyabet tropi dan uang pembinaan sebesar Rp6.000.000 dengan membawakan naskah “Datuk Kwis & Buragas Kepala Tujuh (Legenda Batang Kwis)” karya Endra Mulyadi, disutradarai M. Yamin Fadhillah.
Kemenangan mereka semakin lengkap dengan menyapu tiga penghargaan individu sekaligus: Aktor Terbaik, Sutradara Terbaik, serta masuk dalam jajaran nomine Aktris Terbaik. Pencapaian ini menunjukkan kematangan garapan yang komprehensif, mulai dari penafsiran naskah, penyutradaraan, hingga eksekusi akting.
Kegiatan yang difasilitasi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini merupakan puncak dari rangkaian Festival Sastra dan Peradaban II Teater GENERASI Medan, diikuti sepuluh kelompok teater dari kalangan pelajar dan mahasiswa se-Sumatra Utara. Mereka memperebutkan total hadiah tunai senilai Rp16.250.000, meliputi kategori juara umum dan kategori khusus.
Selain Teater Techno’s Percut Sei Tuan sebagai Juara I, posisi Juara II diraih kelompok dengan NPP 02 (Teater Lapan Medan) yang juga membawakan naskah “Datuk Kwis dan Buragas Kepala Tujuh” dengan nilai 254. Juara III jatuh kepada kelompok NPP 03 (Klaster AW8 Medan) yang mementaskan “Legenda Batu Poraji” dengan nilai 215.
Untuk kategori khusus, penghargaan Aktor Terbaik diraih pemeran Datuk Kwis dari kelompok Teater Techno’s Percut Sei Tuan (NPP 07). Adapun Aktris Terbaik diperoleh pemeran Tiur dalam naskah “Legenda Batu Poraji” Klaster AW8 Medan (NPP 03). Sementara itu, Sutradara Terbaik disabet Techno’s Percut Sei Tuan. Penghargaan Kelompok Favorit diberikan kepada kelompok NPP 04 (Teater STAINI Tanjungbalai) yang mementaskan “Si Beru Dayang”.

Juara I memperoleh uang pembinaan sebesar Rp 6.000.000, Juara II Rp 4.500.000, Juara III Rp 3.000.000, Aktor Terbaik Rp 500.000, Aktris Terbaik, Sutradara Terbaik Rp 1.000.000, dan Kelompok Favorit Rp 750.000. Selain uang pembinaan, para pemenang juga menerima Tropi dan Sertifikat.
Catatan Kritis dari Dewan Juri
Proses penilaian dipimpin tiga juri berkompeten yang masing-masing memberikan sudut pandang mendalam. Harun Al Rasyid, juri bidang kesejarahan, dalam berita acara penetapan pemenang menekankan pentingnya kedalaman penelitian dan keotentikan dalam mengangkat epos lokal. Ia menilai, kelompok pemenang dinilai berhasil tidak hanya menampilkan cerita, tetapi juga menghadirkan nuansa sejarah dan nilai-nilai kearifan lokal yang kuat dalam naskah “Datuk Kwis”.
“Epos perjuangan bukan sekadar drama, tapi medium pelestarian memori kolektif bangsa,” ujarnya.
Teja Purnama Lubis, juri bidang keaktoran, dalam catatannya yang tajam mengapresiasi aktor-aktor yang telah berusaha “menghidupkan peristiwa” dan bukan sekadar menghafal dialog. “Aktor berinti di antara dua dunia: yang nyata dan yang imajiner. Menguasai keseimbangan ini adalah tugas terberat,” tulis Teja yang sedang berada di luar kota dalam catatan tertulis dibacakan panitia festival.
Ia khusus menyoroti konsistensi peran dan pemanfaatan ‘peralatan aktor’—tubuh, vokal, dan intelegensia—pada kelompok-kelompok terbaik. Namun, ia juga mengingatkan agar aktor tidak ‘lepas’ dari peran saat tidak berdialog, karena kehidupan teater justru bernapas di dalam jeda.
Suyadi San, juri bidang penyutradaraan, menitikberatkan pada visi artistik dan kedisiplinan panggung. Dalam berita acara nominasi, ia memasukkan lima kelompok dalam nominasi penyutradaraan terbaik, menunjukkan persaingan yang ketat. Sutradara terbaik, menurutnya, adalah yang mampu menerjemahkan naskah menjadi bahasa panggung yang hidup, mengatur dinamika, dan membimbing aktor untuk mencapai respons yang jujur terhadap situasi dramatik.
Misi Pelestarian Warisan Budaya
Festival Drama Epos Perjuangan ini bukan sekadar kompetisi, tetapi merupakan implementasi dari misi Festival Sastra dan Peradaban II untuk membangkitkan khazanah sastra dan teater lokal. Dengan mengusung cerita-cerita seperti “Datuk Kwis”, “Legenda Batu Poraji”, “Brandan Lautan Api”, “Araskabu”, dan “Si Beru Dayang”, festival ini berhasil menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan warisan budayanya sendiri.
Penyerahan hadiah secara resmi dilakukan dalam acara puncak penutupan festival pada 15 November 2025. Para pemenang tidak hanya pulang dengan trophy dan insentif finansial, tetapi juga sertifikat yang menjadi bukti partisipasi dan prestasi dalam sebuah event kebudayaan yang bermartabat.
Melalui kegiatan seperti ini, Teater GENERASI Medan terus memantapkan perannya sebagai “penyambung lidah peradaban” bagi generasi muda Sumatera Utara.
• Suyadi San


