mimbarumum.co.id — Zakat dinilai memiliki potensi lebih luas daripada sekadar bantuan sosial bagi masyarakat miskin. Jika dikelola secara produktif dan terintegrasi dengan pelatihan kewirausahaan, dana zakat dinilai dapat membantu mustahik membangun usaha hingga berpeluang menjadi muzakki.
Gagasan tersebut diangkat Ahmad Riyansyah Parinduri yang akrab disapa Riyan setelah meraih gelar Doctor of Philosophy (PhD) bidang Ekonomi dari Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia. Gelar doktor itu diterimanya dalam prosesi wisuda di kampus utama UniSZA, Gong Badak, Kuala Terengganu, sebagaimana keterangan yang diterima.
Dalam keterangannya, Riyan menekankan pentingnya pengelolaan zakat berbasis data dan program pemberdayaan ekonomi yang terukur. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat memperluas manfaat zakat, terutama dalam membantu masyarakat berpenghasilan rendah membangun kemandirian ekonomi.
“Zakat memiliki kekuatan finansial inklusif yang sangat besar. Jika dikelola secara berbasis data dan terintegrasi dengan pelatihan kewirausahaan, dana zakat sanggup mengentaskan kemiskinan sekaligus mencetak ribuan UMKM tangguh dan pengusaha baru dari kalangan mustahik,” ujarnya.
Gagasan tersebut menempatkan zakat produktif sebagai salah satu instrumen pemberdayaan ekonomi. Bantuan tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan mendesak penerima, tetapi juga dapat dikembangkan melalui dukungan modal usaha, pendampingan, dan peningkatan keterampilan.
Namun, keberhasilan pendekatan ini bergantung pada ketepatan sasaran penerima, kapasitas pengelola, keberlanjutan pendampingan, serta kemampuan usaha yang dibangun untuk bertahan di tengah persaingan pasar.
Lulusan UIN Sumatera Utara
Ahmad Riyansyah parinduri merupakan lulusan program sarjana dan magister Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumut). Setelah menyelesaikan pendidikan magister, ia memulai karier sebagai dosen dan kemudian mengabdi di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Mandailing Natal.
Riset doktoralnya berfokus pada peran zakat dalam mendorong lahirnya wirausahawan baru dan memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menurut Riyan, pemanfaatan zakat secara produktif juga relevan dengan agenda pengentasan kemiskinan dan penguatan ekonomi kerakyatan. Ia menilai program pemberdayaan yang terencana dapat membuka peluang bagi mustahik untuk meningkatkan pendapatan dan secara bertahap mencapai kemandirian ekonomi.
Dalam konteks pembangunan nasional, ia berharap pemikiran dan hasil riset tersebut dapat berkontribusi terhadap program pemberdayaan masyarakat, termasuk agenda menuju Indonesia Emas 2045.
Dari Mustahik Menjadi Muzakki
Salah satu tujuan yang ditekankan dalam gagasan tersebut adalah membuka peluang perubahan status penerima zakat atau mustahik menjadi muzakki, yakni orang yang memenuhi syarat untuk membayar zakat.
Perubahan itu tentu tidak berlangsung secara otomatis. Selain dukungan modal, calon wirausahawan membutuhkan pelatihan, pendampingan usaha, akses pasar, dan evaluasi berkala agar bantuan yang diberikan menghasilkan dampak berkelanjutan.
Pada bagian lain pernyataannya, anak asli Medan itu menyatakan kesediaannya menyumbangkan pengetahuan dan pengalaman akademiknya untuk mendukung pengembangan kebijakan ekonomi berbasis kerakyatan.
Baginya, pencapaian gelar doktor bukan sekadar capaian akademik, tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan gagasan yang dapat diterapkan bagi masyarakat.
“Ilmu tertinggi yang diraih ini sepenuhnya ditujukan untuk kebermanfaatan (kepada) masyarakat luas. Kami siap mendedikasikan seluruh kepakaran, pengalaman, dan tenaga untuk mendukung Presiden dan Pemerintah Republik Indonesia dalam mengawal eksekusi Asta Cita demi mengantarkan bangsa ini mencapai puncak Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Dia menyakini, ilmu setinggi apa pun yang diraih seseorang tidak akan berdampak maksimal jika tidak dimanifestasikan dalam bentuk kebijakan publik yang nyata bagi kebermanfaatan orang banyak.
Keberhasilan Riyan dalam memadukan teori ekonomi Islam modern dengan formulasi kebijakan praktis menempatkan dirinya sebagai salah satu pakar dan pemikir strategis yang dibutuhkannegeri ini.
Reporter: Ngatirin/rel


