mimbarumum.co.id – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Suyadi, mengemukakan gagasan inovatif dalam Seminar Internasional BIPA 2026 di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Kamis (4/6/2026). Ia mendorong integrasi tokoh lokal abad ke-16, Hamzah Fansuri dari Barus, Sumatra Utara, ke dalam pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) berbasis budaya.
Menurut Suyadi, tokoh sufi dan penyair yang dikenal sebagai “penghela bahasa Melayu” itu tidak hanya memperkaya kosakata melalui serapan Arab-Persia, tetapi juga menawarkan nilai-nilai akulturasi, inovasi kebahasaan, dan kearifan lokal yang dapat meningkatkan kompetensi linguistik sekaligus apresiasi pemelajar asing terhadap keberagaman Nusantara.
“Karya-karya Hamzah Fansuri seperti Syair Perahu dan Asrar al-‘Arifin bukan hanya fondasi sastra Melayu-Indonesia, tetapi juga cermin akulturasi Islam dengan budaya lokal. Mengintegrasikan tokoh ini dalam pembelajaran BIPA dapat meningkatkan kompetensi linguistik sekaligus menumbuhkan apresiasi pemelajar asing terhadap keberagaman budaya Nusantara,” papar Suyadi di hadapan peserta diskusi paralel seminar
Seminar Internasional Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (SEBIPA) 2026 yang digelar Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) itu resmi dibuka Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Hafidz Muksin, S.Sos., turut dihadiri Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim, M.Pd., Dekan FKIP UMSU, serta Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara.
Dalam makalah yang ditulis bersama Medtolia Jurlianti dari Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, Suyadi mengungkapkan bahwa Hamzah Fansuri—sufi dan penyair abad ke-16 asal Barus, Sumatera Utara—merupakan “penghela bahasa Melayu” pertama yang menulis syair dalam bentuk modern serta memperkaya kosakata Melayu dengan serapan Arab-Persia.
Lebih lanjut, Suyadi mengidentifikasi empat nilai utama dari Hamzah Fansuri yang relevan untuk pengajaran BIPA. Pertama, inovasi kebahasaan, karena Hamzah Fansuri menjadi pelopor penggunaan bahasa Melayu untuk menulis puisi dan risalah falsafah dengan menciptakan bentuk syair berima a-a-a-a.
Kedua, akulturasi dan kosmopolitanisme, tercermin dari lebih dari 700 kata serapan bahasa Arab dan Persia yang diperkayanya ke dalam kosakata Melayu. Ketiga, spiritualitas dan nilai moral universal yang terkandung dalam syair-syairnya seperti kejujuran dan kesederhanaan.
“Selain itu, kearifan lokal Barus sebagai pusat perdagangan dan peradaban kuno yang membentuk wawasan multikultural Hamzah Fansuri,” kata Suyadi yang baru meraih gelar Doktor Teknologi Pendidikan dari Universitas Negeri Medan ini.
Peneliti BRIN itu juga memaparkan bahwa lingkungan kelahiran Hamzah Fansuri di Barus—kota pelabuhan kuno di pantai barat Sumatera—merupakan “laboratorium linguistik Nusantara”. Di wilayah ini, berbagai bahasa seperti Tamil, Sanskerta, Arab, Persia, dan Cina berinteraksi dengan bahasa Melayu Kuno sejak abad ke-7 Masehi, sebagaimana dibuktikan oleh temuan epigrafi seperti Prasasti Tamil Lobu Tua (1088 M) dan batu nisan Islam tertua.
Kondisi kosmopolitan inilah, kata Suyadi, yang membentuk kepekaan Hamzah Fansuri terhadap potensi bahasa Melayu sebagai medium ekspresi sastra, falsafah, dan tasawuf setara dengan bahasa-bahasa besar dunia.
Dalam sesi seminar, Suyadi mencontohkan kegiatan pembelajaran konkret yang dapat langsung diterapkan di kelas BIPA, salah satunya berjudul “Menggali Makna di Balik Syair Perahu”. Kegiatan ini bisa dimulai dengan guru membagikan teks syair 4-6 bait, dilanjutkan dengan mendengarkan rekaman pembacaan berirama tradisional, lalu diskusi kelompok kecil tentang metafora perahu, layar, nakhoda, dan samudra sebagai gambaran kehidupan manusia.
“Setiap kelompok kemudian membandingkan dengan peribahasa atau puisi dari budaya asal masing-masing yang menggunakan metafora perjalanan, sebelum akhirnya menulis refleksi singkat tentang nilai kehidupan yang dipelajari dari Hamzah Fansuri,” sebutnya.
Peneliti BRIN tersebut mengakui adanya tantangan dalam integrasi tokoh lokal ini, terutama keterbatasan bahan ajar yang mudah dipahami pemelajar asing serta kompleksitas ajaran tasawuf. Namun, solusinya adalah dengan menyederhanakan materi dan fokus pada aspek kebahasaan dan budaya yang lebih ringan, seperti kosakata serapan, metafora, dan konteks sejarah.
Suyadi menekankan perlunya kerja sama antara ahli sejarah, filolog, dan pengajar BIPA untuk mengembangkan modul ajar digital interaktif yang adaptif. Ke depan, ia merekomendasikan uji coba empiris model integrasi tersebut di kelas BIPA serta pengembangan bahan ajar digital tentang Hamzah Fansuri yang dapat diakses secara luas.
Peneliti BRIN itu juga memperkenalkan Model ITB (Integrasi Tokoh Lokal Berbasis Budaya) yang terdiri atas tiga tahap: Pengenalan, Eksplorasi, dan Aplikasi dengan memanfaatkan teknologi digital. Model ini dirancang untuk menjadikan pembelajaran BIPA lebih kontekstual, interaktif, dan bermakna bagi penutur asing di era global.
Seminar yang mengusung subtema “Pengajaran Bahasa Berbasis Budaya” ini menghadirkan empat pemakalah kunci, yakni Prof. Dr. Khairil Ansari, M.Pd., Dr. Cut Novita Srikandi, M.Hum., Prof. Dr. Gatut Susanto, M.M., M.Pd., serta Sean Ryan Hyink, BSc., dengan moderator Yulhasni, S.S., M.Si.
Kegiatan yang dirangkaikan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Badan Bahasa Kemendikdasmen dan Rektor UMSU ini diharapkan menjadi momentum penguatan pengajaran BIPA yang lebih berbasis budaya dan berakar pada kearifan lokal Nusantara.
Reporter: Zaim Dzaky Sanjaya


