mimbarumum.co.id – Suasana berbeda menyambut hari pertama kerja Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang baru. Sejumlah karangan bunga dan baliho ucapan selamat terpampang di beberapa kantor BRIN, seperti di kawasan Gedung Habibie Jalan Thamrin, Jalan Jenderal Gatot Subroto, dan Rawamangun, Senin (17/11/2025). Aksi simbolis ini digelar para periset BRIN yang tergabung dalam kelompok “Para Periset BRIN – Pejuang Pulang Kampung” sebagai bentuk dukungan dan harapan terhadap kepemimpinan baru di lembaga strategis tersebut.
Dalam sejumlah spanduk dan karangan bunga, terlihat pesan-pesan seperti “Selamat & Sukses Prof. Dr. Arif Satria, SP.M.SI. Kepala BRIN & Prof. Dr. Ir. Amarulla Octavian Wakil Kepala BRIN. Selamat Mengemban Amanah Baru dan Bertugas” serta “Terima Kasih Atas Rencana Dikembalikannya Para Periset ke Daerah dengan Membawa Inovasi”. Pesan ini merefleksikan aspirasi kuat dari para peneliti agar kebijakan penempatan dan pengelolaan SDM riset lebih mempertimbangkan basis domisili dan potensi lokal.

Pembentangan karangan bunga tersebut direncanakan juga akan dilakukan di Istana Negara, Jakarta, namun diurungkan sekaitan prosedur dan protokoler yang tidak mudah.
Aksi tersebut bukan sekadar bentuk euforia, melainkan bagian dari gerakan sistematis yang didasari dokumen hasil sharing session lintas Organisasi Riset (OR) dan Pusat Riset (PR) BRIN pada Rabu, 12 November 2025. Dokumen setebal 35 halaman berjudul “Hasil Pokok Pemikiran Peneliti BRIN Lintas PR dan OR: Penguatan dan Akselerasi Pembangunan Ekosistem Riset di Daerah” itu berisi analisis komprehensif mengenai kondisi terkini BRIN, tantangan, serta sejumlah rekomendasi strategis untuk perbaikan ke depan.
Beberapa poin kritis yang diangkat dalam dokumen tersebut antara lain:
1. Desentralisasi Peneliti: Mendesak BRIN untuk mengembalikan peneliti ke home base berdasarkan domisili sebagai upaya penguatan riset di daerah.
2. Tata Kelola yang Efisien: Menyoroti birokrasi yang dinilai terlalu sentralistik dan gemuk, serta merekomendasikan penyederhanaan struktur dan mekanisme pendanaan.
3. Fleksibilitas Bekerja: Mengusulkan penyesuaian kebijakan Work From Office (WFO) bagi peneliti di daerah menjadi 4 kali setahun, bukan 2 hari per minggu, untuk mendukung riset lapangan.
4. Fokus Riset Strategis: Menekankan pentingnya riset yang selaras dengan agenda nasional seperti ketahanan pangan, energi, dan lingkungan, serta mengintegrasikan pendekatan Socio-STEMM (Science, Technology, Engineering, Mathematics, Medicine, dan Sosial Humaniora).
5. Infrastruktur dan Insentif: Optimalisasi laboratorium BRIN di daerah, penguatan Science Techno Park, serta reformasi sistem insentif dan karier berbasis kinerja dan dampak.
Dokumen ini juga menegaskan pentingnya BRIN memainkan peran sebagai strategic enabler dan science-policy interface yang mampu menghadirkan solusi berbasis bukti bagi pembangunan nasional dan daerah.
Arahan Strategis Kepala BRIN di Apel Pagi
Seolah menanggapi gelombang dukungan dan masukan tersebut, dalam apel pagi perdana yang digelar pada Senin, 17 November 2025, dan disiarkan langsung oleh kanal YouTube BRIN, Prof. Dr. Arif Satria menyampaikan arahan strategisnya di hadapan ribuan sivitas BRIN.
“Saya menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh sivitas BRIN—lebih dari 13 ribu sivitas dan lebih dari 7 ribu peneliti—yang telah bekerja keras, berkontribusi, dan menjaga komitmen terhadap kemajuan iptek Indonesia,” ujarnya.
Kepala BRIN menekankan pentingnya kolaborasi yang sinergis, egaliter, dan berorientasi keberlanjutan sebagai fondasi untuk mewujudkan BRIN values. Ia juga menegaskan posisi sentral peneliti sebagai garda depan dalam menghasilkan karya yang bermakna.
“Peneliti semakin dihargai, tidak hanya di internal, tetapi juga dimuliakan oleh para pemangku kepentingan berkat prestasi dan kontribusi nyata yang berdampak bagi bangsa,” tegas Arif Satria yang juga Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat dan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.
Dalam arahan yang sarat motivasi tersebut, Prof. Arif juga mendorong sivitas BRIN untuk memiliki mindset positif, kepercayaan diri, dan keberanian melakukan perubahan. “Yang dibutuhkan bukan hanya best practice, tetapi juga future practice — cara baru melihat ke depan, membangun ketetapan hati, kesepakatan kolektif, serta kesediaan bersama untuk tumbuh.”
Ia menggarisbawahi pentingnya kejelasan arah luaran riset yang mendukung agenda strategis nasional seperti ketahanan pangan, energi, air, pertahanan, kesehatan, dan lingkungan. Untuk jangka pendek, BRIN akan fokus pada quick wins, terutama dalam pembenahan dan penataan SDM agar lebih gesit dan responsif.
“Peneliti BRIN diharapkan semakin dekat dengan realitas lapangan, memahami kebutuhan masyarakat, dan menjadi bagian dari solusi berbagai persoalan, baik di pusat maupun daerah,” pesannya, seraya menekankan bahwa kepekaan terhadap dinamika lokal menjadi kunci relevansi dan manfaat riset.
Di akhir sambutan, dengan semangat dan keceriaan, Kepala BRIN membacakan dia bait pantun: “//Ke Pasar Baru beli ikan/Warnanya indah memikat mata/Selamat pagi seluruh insan BRIN/Mari berkarya demi bangsa Indonesia tercinta//Ke halaman lihat kucing berlari/Kucingnya lagi mengejar kupu-kupu/Pagi pagi BRIN sudah ramai berseri/Dengan semangatnya bikin hati ingin hidup baru//”.
Pantun ini seakan menyiratkan semangat baru yang ingin dihadirkan di lingkungan BRIN—semangat yang dinamis, penuh harapan, dan siap menyambut perubahan.
Sinergi Aspirasi dan Arah Kebijakan Baru
Aksi karangan bunga dan pemasangan baliho, yang diiringi dengan penyusunan pokok pikiran mendalam, serta arahan strategis dari pimpinan baru, menurut periset bahasa dan sastra W. Damayanti, mencerminkan sebuah momen penting bagi BRIN. Terdapat titik temu antara aspirasi akar rumput dari para periset dengan visi yang digaungkan pimpinan, khususnya dalam hal penempatan peneliti di daerah, penciptaan ekosistem riset yang kondusif, dan orientasi pada dampak nyata.
“Dengan kepemimpinan Prof. Arif, peluang riset daerah lebih intens digiatkan dan menggali potensi lokal guna pemerataan riset secara Nasional,” katanya.
Dengan semangat baru yang dikobarkan pada apel perdana ini, dan didukung oleh masukan konstruktif dari para pejuang pulang kampung, BRIN di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Arif Satria dan Prof. Dr. Ir. Amarulla Octavian diharapkan dapat segera merealisasikan langkah-langkah transformatif. Langkah yang tidak hanya memperkuat posisi BRIN sebagai rumah bersama para peneliti, tetapi juga sebagai penggerak utama inovasi yang solutif bagi kemajuan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
• Suyadi San


