Natuna: Ketika Mendu Hanya Bergema di Kenangan, Pantun yang Hampir Padam (3)

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Di balik gemuruh mesin pengeboran gas alam lepas pantai dan hiruk-pikuk pelabuhan ikan yang sibuk, Kabupaten Natuna menyimpan denyut seni tradisional yang semakin lama semakin samar. Mendu, tari topeng, pantun adat, dan berbagai bentuk kesenian Melayu lama kini hanya tinggal gema di ingatan para tetua.

Tim Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya (KOPK-CB) yang penulis pimpin didukung program DANA INDONESIANA Kemenbud RI dan LPDP, menghabiskan hari kedua hingga keempat ekspedisi di Kecamatan Bunguran Timur untuk mendengar langsung dari para penjaga tradisi. Dari rumah unik nan teduh di lereng Gunung Ranai hingga permukiman tak jauh dari tepi pantai, kami mengumpulkan potret keprihatinan yang sama: seni tradisional Natuna sedang terbilang sekarat.

Pantun Adat Nyaris Mati, Diganti Status WhatsApp

Di sebuah rumah kayu sederhana di kawasan Air Terjun, Bunguran Timur, H. Mursidi—tokoh adat tertua yang masih hidup—duduk termenung di beranda. Usianya 81 tahun, tapi ingatannya tentang kejayaan seni tradisional Natuna masih tajam.

“Dulu, setiap kali ada hajatan, saya yang diundang untuk berpantun. Pantun pembuka, pantun nasihat, pantun penutup. Sekarang, anak-anak muda lebih suka update status di WhatsApp daripada mendengar pantun.”

Ia kemudian melantunkan satu pantun khas Natuna yang ia hafal:

“Anak Cina bermain gasing,

Jatuh ke lubuk di Pulau Tiga.

Kalau tuan datang ke Natuna,

Jangan lupa budaya dijaga.”

Pak Mursidi mengkhawatirkan bahwa tanpa pantun, identitas kebahasaan Natuna akan hilang. Menurutnya, pantun bukan sekadar hiburan, tapi juga alat pendidikan karakter, mediasi konflik, dan penguat solidaritas antaretnis.

Perbincangan santai Tim KOPK-CB Dana Indonesiana dengan tokoh pantun Natuna, H. Mursidi.

“Dulu kalau ada pertengkaran antarwarga, kami selesaikan dengan pantun. Sindiran halus, tapi menyentuh. Sekarang, kalau ada masalah langsung lapor polisi. Bukan salah polisi, tapi kami kehilangan cara lama yang lebih manusiawi.”

Ia berharap, pemerintah daerah mulai memasukkan pantun dan sastra lisan ke dalam kurikulum muatan lokal sekolah. “Jangan hanya matematika dan IPA yang penting. Anak Natuna harus tahu dari mana mereka berasal,” tegasnya.

“Anak saya sendiri tidak bisa pantun. Generasi lainnya lebih hapal lagu Korea daripada pantun Melayu. Saya sedih, tapi apa daya?” ujarnya sambil menghela napas panjang.

Ia mengaku sudah beberapa kali mengusulkan ke pemerintah setempat agar dibuatkan sanggar tradisi, namun belum ada tindak lanjut. Mursidi kini hanya bisa menularkan ilmunya kepada siapa pun yang mau mendengar—dan jumlahnya tak sampai lima orang dalam lima tahun terakhir.

Dulu Mendu Semalam Suntuk, Sekarang Tak Ada Lagi

Fisabilillah (51), warga Bunguran Timur yang sehari-hari berdinas di Kesbangpol Natuna dan mendapat tugas tambahan menjadi Kepala Sekretariat Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Natuna, adalah salah satu dari segelintir orang yang masih bergiat di Teater Mendu.

“Dulu, kalau ada kenduri atau pesta panen, kami main Mendu semalam suntuk. Tiga sampai empat jam terus-menerus, cerita, pantun, dan lawakan. Semua orang datang, tua-muda, laki-perempuan. Sekarang? Tidak ada lagi. Anak-anak muda bilang ‘kuno’, ‘ndak kekinian’,” tuturnya dengan logat Melayu Natuna yang kental.

Tim KOPK-CB bersama tokoh Teater Mendu Natuna, Fisabilillah.

Mendu adalah seni teater rakyat khas Natuna yang memadukan dialog, nyanyian, pantun, dan gerak tari. Cerita Mendu yang dipentaskan di Natuna adalah tentang seorang pahlawan yang dikenal sebagai Dewa Mendu, seorang pahlawan Melayu mirip Panji dan petualangannya dengan saudaranya Angkaran Dewa di bumi.

Teater seni Mendu ini memerankan beberapa tokoh utama termasuk Raja Laksemanik, Raja Langkudara, Permansyah, Bakhailani, Raja Muda, Dewa Mendu, Angkaran Dewa, Puteri Raja, dan para pembesar.

Menurut Fisabilillah yang juga staf pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna, terakhir kali pentas Mendu digelar di desanya sekitar tahun 2017. Sejak itu, tidak ada regenerasi. Para pemain tua sudah banyak yang meninggal atau pikun, sementara generasi muda tidak tertarik belajar.

Tari Topeng Hanya Tersisa di Foto

Wan Suhardi (63), adalah salah satu dari sedikit penari topeng Melayu Natuna yang masih hidup. Tari topeng Melayu Natuna berbeda dengan tari topeng Betawi atau Cirebon. Topengnya terbuat dari kayu ringan yang diukir dengan ekspresi khas—tersenyum tapi penuh wibawa. Gerakannya lambat dan penuh makna, mencerminkan budi pekerti orang Melayu yang halus dan santun.

Wan Suhardi menunjukkan koleksi foto-foto di media sosialnya. Di sana, ia masih muda, mengenakan busana lengkap dengan topeng kayu berwarna emas. Penonton memadati panggung darurat di lapangan desa. Kini, topeng-topeng itu tersimpan rapi dalam kotak kayu, nyaris mulai dimakan rayap.

“Saya sudah pasrah. Tapi kalau pemerintah benar-benar mau menghidupkan lagi, saya siap mengajar. Gratis. Asal ada yang mau belajar,” katanya tegas.

Tim KOPK-CB bersama Ketua LAM Natuna, Wan Suhardi.

Akar Kepunahan: Bukan Hanya Karena Zaman

Dari ketiga informan tersebut, Tim KOPK-CB beranggotakan penulis dan Jusmianti Garing (Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN) serta Fabio Testy Ariance Loren (Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang) mencatat beberapa akar masalah utama mengapa seni tradisional Natuna nyaris punah:

1. Tidak ada regenerasi – Generasi muda menganggap seni tradisional kuno, tidak keren, dan tidak mendatangkan uang.

2. Tidak ada panggung reguler – Pementasan hanya terjadi saat acara seremonial sesekali. Tidak ada festival rutin atau sanggar tetap.

3. Dokumentasi sangat minim – Tidak ada rekaman audio/video yang sistematis. Hanya foto-foto usang dan ingatan lisan.

4. Anggaran pelestarian kecil – Meskipun ada Perda Nomor 7 Tahun 2023 tentang Kota Tua Penagi dan Sabang Barat, implementasi di lapangan masih sangat terbatas.

5. Pengaruh budaya asing yang masif – Akses internet dan kedekatan geografis dengan Malaysia, Singapura, hingga Vietnam membuat budaya pop global lebih dominan.

Meski suram, H. Mursidi, Wan Suhardi, dan Fisabilillah belum kehilangan harapan. Mereka melihat adanya kesadaran baru dari sebagian kecil generasi muda yang mulai tertarik melestarikan budaya, meskipun masih sangat terbatas.

Beberapa anak muda di Bunguran Timur kini mulai belajar pantun dan tari Melayu melalui YouTube, meski tanpa guru langsung. Ada juga inisiatif tidak resmi dari guru-guru SMA seperti Adinda untuk mengintegrasikan sastra lokal ke dalam pembelajaran seni budaya.

“Saya berharap Mendu bangkit lagi. Mungkin tidak di zaman saya, tapi setidaknya saya sudah menanam benih,” ujar Fisabilillah.

Wan Suhardi juga optimis dengan hadirnya Peraturan Daerah Kabupaten Natuna Nomor 7 Tahun 2023 tentang Kota Tua Penagi dan Kota Tua Sabang Barat. Meskipun perda tersebut belum secara spesifik menyebut Mendu atau tari topeng, ia percaya bahwa semangat pelestarian kota tua harus disertai dengan pelestarian seni yang hidup di dalamnya.

“Kota tua tanpa seni tua sama saja dengan mayat. Kami menunggu tindakan nyata dari pemerintah.”

Saat matahari terbenam di Gunung Ranai, kami menulis dalam buku catatan:

“Natuna kehilangan suaranya. Mendu, tari topeng, pantun adat—semuanya perlahan menjadi bisu. Tiga lelaki tua ini masih berteriak, tapi entah siapa yang mendengar. Diplomasi kebahasaan tidak akan pernah berhasil jika di kampung halamannya sendiri, sastra lokal diabaikan. Negara hadir melalui perda, tapi rakyat masih menunggu denyut nyata.”

• Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Jelajah Kuliner Etnik FORKALA Medan Cicipi Nikmatnya Masakan Khas Jogja

mimbarumum.co.id - Forum Komunikasi Antar Lembaga Adat (FORKALA) Kota Medan menggelar kegiatan bertajuk 'Jelajah Kuliner Etnik' di Warung Jogja...