mimbarumum.co.id — Ada kalanya pengalaman hidup tak cukup diceritakan melalui laporan riset atau deretan angka statistik. Ia membutuhkan bentuk lain yang lebih jujur, lebih dekat dengan denyut jiwa: puisi. Di sanalah larik-larik lahir sebagai ruang bagi kegelisahan, harapan, cinta, kehilangan, sekaligus ikhtiar memahami kehidupan yang terus bergerak.
Senin (27/7/26), Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas (PR BSK) BRIN menghelat peluncuran dan diskusi antologi puisi berjudul “Mengukir Jejak, Menggali Makna”. Acara yang berlangsung di Gedung Widya Graha Lantai 1, BRIN, Jakarta Selatan, ini menjadi panggung bagi perjumpaan kata, gagasan, dan makna yang selama ini mengendap dalam sanubari para periset.
Antologi “Mengukir Jejak, Menggali Makna” bukan sekadar kumpulan puisi biasa. Menggenggam 159 puisi dari 53 penulis—yang semuanya adalah periset di lingkungan PR BSK—buku ini merekam sebuah episode penting dalam kehidupan kelembagaan. Ia lahir dari pengalaman kolektif para periset yang harus berpindah dan beradaptasi dengan realitas baru di ibu kota sejak kebijakan homebase diberlakukan awal 2025.
“Kita diminta untuk mengumpulkan puisi dari para peneliti yang topiknya berkaitan dengan kesan-pesan selama tinggal di Jakarta,” tulis Syaifuddin Gani, penyunting antologi, dalam catatannya.
Gagasan ini, menurutnya, didasari pandangan bahwa banyak pengalaman dan kegalauan yang dialami periset—terutama saat harus tiba-tiba pindah ke Jakarta—tidak akan pernah muncul dalam artikel ilmiah mereka di jurnal internasional. “Hal ihwal yang terkait dengan suasana kebatinan dan gejolak jiwa manusia peneliti, tidak boleh masuk ke dalam artikel ilmiah,” sebutnya.
Maka, puisi menjadi jembatan. “Suara terdalam itu akan mendapatkan aksentuasi pengejawantahannya melalui puisi,” imbuh Gani.
Dari Kosan ke Gatot Subroto, dari Rindu ke Harapan
Para periset membocorkan faktualitas dunia mereka melalui kerja fiksionalitas. Membaca puisi-puisi dalam antologi ini, pembaca diajak menyelami pergulatan batin yang berlapis: meninggalkan keluarga, beradaptasi dengan ritme kota metropolitan yang keras, hingga belajar menemukan makna baru di ruang-ruang kerja yang asing.
Suyadi San, dalam prolognya yang tajam, menggambarkan antologi ini sebagai dokumen antropologis berskala besar. “Dengan 159 puisi dari 53 penulis, buku setebal 347 halaman ini merupakan sebuah dokumen antropologis berskala besar yang merekam dengan tajam sebuah peristiwa sosial yang langka: migrasi paksa kolektif yang dialami oleh para periset bahasa, sastra, dan komunitas dari seluruh Indonesia ke Jakarta.”
Ia menangkap bagaimana kebijakan administrasi yang dingin diterjemahkan menjadi kesunyian, kecemasan, solidaritas, dan bahkan perlawanan simbolik—melalui puisi. “Jakarta dalam antologi ini adalah suara knalpot, halte, kereta, Transjakarta, kamar kos, dompet yang menipis, dan layar laptop yang harus terus menyala demi kerja akademik,” tulis Suyadi.
Peluncuran ini menghadirkan diskusi yang menghidupkan suasana. Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra), Dr. Herry Jogaswara, M.A., dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala PR BSK, Ade Mulyanah, S.Pd., M.Hum.—dua figur yang disebut-sebut sebagai penggagas utama terbitnya buku ini.
Puncak acara adalah sesi diskusi yang menghadirkan dua narasumber: Dr. Ibnu Wahyudi, S.S., M.A., akademisi dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (Purnatugas) dan Universitas Prasetiya Mulya, serta Syaifuddin Gani, M.Sos., peneliti PR BSK yang juga bertindak sebagai penyunting antologi. Diskusi dimoderatori oleh Yeni Yulianti, S.S., M.A., yang juga merupakan peneliti di PR BSK.
Dalam paparannya, Syaifuddin Gani menyoroti bagaimana antologi ini berbicara tentang the other voice—suara yang lain. “Pada permukaan ia berkisah tentang perpindahan kerja, Jakarta, keluarga, pulang, rindu. Tetapi di lapisan terdalam, antologi ini berbicara mengenai bagaimana manusia mempertahankan kemanusiaannya ketika sistem administrasi mengubah kehidupannya, dalam posisi yang tak dapat memilih,” jelasnya.

Pembacaan Puisi: Saat Kata-kata Berbicara
Suasana semakin mengharu saat sesi pembacaan puisi tiba. Sejumlah periset bergantian secara luring dan daring tampil membacakan karya mereka. Nia Kurnia, Suyadi San, Ridwan, Sri Yono, Erlinda Rosita, Ade Mulyanah, dan lainnya, melantunkan bait-bait tentang rindu, perjalanan, dan harapan.
Kepala OR Arbastra Herry Jogaswara yang membuka acara dan Kepala PR MLTL Sastri Sunarti turut pula membersamai dengan membacakan puisi-puisi dari periset bahasa, sastra, dan komunitas BRIN tersebut.
Erlinda Rosita membacakan puisinya tentang “Gang Lisa”—gang sempit di Pasar Minggu yang menjadi saksi bisu kegundahan para perantau. Sementara Fairul Zabadi menggambarkan “Jumat Pagi di Lantai Empat” sebagai ruang di mana raket bulu tangkis dan tarian zumba menjadi terapi kolektif melawan sepi dan jarak.
Salah satu momen yang paling menyentuh adalah ketika pembacaan puisi tentang anak dan keluarga. Dalam puisinya, Eka Suryatin menulis:
“Dia perempuan dengan doa yang tak pernah benar-benar tidur, menggendong anak dalam rindu, menopang orang tua yang sakit dengan sabar yang sering tak sempat menangis.”
Larik ini menggambarkan beban ganda yang dipikul para periset perempuan yang harus berpisah dari keluarga demi tugas.
Arsip Kemanusiaan
Suyadi San, dalam prolognya, menyebut antologi ini sebagai “suaka” bagi jiwa-jiwa yang lelah. “Di tengah dinginnya birokrasi dan kerasnya kota, puisi menjadi tempat perlindungan terakhir,” tulisnya.
Ia juga mencatat bahwa dengan dominasi penulis perempuan (66,04%), antologi ini menjadi perspektif yang kaya tentang pengalaman migrasi dan kerinduan dari sudut pandang feminin.
“Jika kelak pembaca masih dapat mendengar gema Jakarta, sunyi kamar kos, kerinduan kepada keluarga, kegelisahan akan perubahan, serta harapan yang tumbuh diam-diam di sela rutinitas penelitian,” kata Syaifuddin Gani.
“Puisi-puisi dalam buku ini telah melampaui fungsinya sebagai karya sastra. Ia menjadi cara sebuah generasi peneliti memastikan bahwa setiap perubahan besar tidak hanya tercatat dalam sejarah organisasi, tetapi juga hidup dalam ingatan kebudayaan,” sebut Herry Jogaswara saat membuka acara
Peluncuran antologi ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap capaian riset dan angka-angka kinerja, selalu ada kisah-kisah kemanusiaan yang layak dikenang. Seperti yang ditulis Ade Mulyanah dalam kata pengantarnya: “Mengukir Jejak Menggali Makna bukan sekadar judul yang tersemat di sampul buku ini. Ia adalah gema dari perjalanan yang pernah kami lalui bersama—jejak-jejak yang terukir oleh langkah-langkah yang berani meninggalkan rumah.”
Dengan berakhirnya acara, antologi ini resmi meluncur. Ia bukan sekadar dokumentasi sebuah masa, tetapi juga penanda bahwa perjalanan boleh berganti arah, namun jejak persaudaraan dan semangat berkarya akan tetap tinggal, menyala, dan menemukan ruangnya di mana pun para periset berkarya—lewat kata-kata, lewat puisi.
• Zaim Dzaky Sanjaya || • Editor: Suyadi


