Menyapa Kembali Ester Juwita di Aek Nauli

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Menuju Aek Nauli, terbayang bentangan alam luas berpadu hutan hijau pinus. Terlintas di pikiran, berapa langkah yang harus dilalui menyusuri jalan menuju kediaman Ester Juwita dan kawan-kawannya. Yang paling tergambar dalam benak, bagaimana nanti saat bertemu mereka.

Tanganku refleks, langsung membuka aplikasi penyimpan foto di handphone. Lama menggeser layar ke atas, dapat tulisan: Kamis, 14 Desember 2017. Tampak foto diriku yang sedang hamil lima bulan, tersenyum bangga bisa foto bersama Ester. Bangga mampu menyusuri jalan naik-turun yang cukup curam, bangga bisa memegang dan berfoto dengan Ester. Ternyata, sudah sembilan tahun berlalu sejak terakhir bertemu dia.

Sesampainya di Aek Nauli, diriku langsung terpapar sejuk dan hijaunya pepohonan pinus kawasan Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Waktu seolah berjalan dengan ritmenya sendiri.

Bagi sebagian orang, tempat ini mungkin sekadar kawasan konservasi biasa. Namun, bagi tujuh ekor gajah Sumatera yang menghuni kawasan, ini adalah rumah kedua. Dan Ester Juwita salah satu penghuninya. Gajah betina berusia 46 tahun itu, merupakan salah satu perintis di konservasi Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC).

Ester sedang ditunggangi sang mahout (pelatih), Yopie Widianto saat aku bertemu kembali. Gajah yang aku jumpai saat perjalanan bersama Pertamina Patra Niaga sembilan tahun lalu tersebut, ternyata berubah cukup banyak. Perubahan paling signifikan tampak pada bobotnya. Gajah betina yang dulu memiliki berat badan sekitar 1.900 kilogram, kini telah tumbuh besar dan sehat mencapai 2.425 kilogram.

“Perkembangannya sangat baiklah di sini. Per enam bulan kita periksa kesehatannya, Diberikan obat cacing, semua kita periksa. Kini setiap hari juga ditimbang berat badannya dengan alat timbang bantuan dari Pertamina,” terang Yopie saat disapa sedang duduk disisi kolam mandi gajah saat kunjungan ke ANECC, minggu lalu.

Yopie mengatakan, awal pindah dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Holiday Resort, Labuan Batu Selatan, Ester yang merupakan salah satu gajah perintis di ANECC, harus bertarung dengan cuaca. Suhu di Sibaganding yang lebih dingin membuatnya dan gajah lain, harus beradaptasi.

“Kurang lebih tiga tahun kemarin itu mereka harus beradapasi pada suhunya. Setiap mandi mereka kedinginan, gemeteran, tremor gitu. Tapi sekarang ini sudah biasa,” tuturnya.

Sekarang, Ester dan gajah-gajah lain di ANECC sudah terbiasa dengan cuaca dingin Aek Nauli. Mereka tampak menikmati mandi di kolam berukuran panjang yang sengaja disiapkan manajemen ANECC di sisi sungai. Lima gajah besar dan sehat tampak mandi sambil bermain, ada juga yang jahil menyemprotkan air melalui belalainya.

Memang selain Ester Juwita, kawasan konservasi gajah Aek Nauli yang berada di bawah naungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Utara ini, dihuni oleh enam ekor gajah lain. Gajah didatangkan dengan latar belakang perjalanan hidup yang beragam. Mereka adalah Luis Figo (20 tahun, jantan, berat 2.352 kg); Bongkar (46 tahun, jantan/induk Figo, berat 2.457 kg); Siti (47 tahun, betina, berat 2.268 kg); Pini Elpionita (36 tahun, betina, berat 1.979 kg); Dini Anjani (38 tahun, betina, berat 1.956 kg); dan Caicilia (39 tahun, betina).

Kepala Resort ANECC, Boby Natalius Purba mengungkapkan kehadiran gajah-gajah ini di Aek Nauli untuk mendukung pengembangan ekowisata dan pemanfaatan kawasan. Dari 7 ekor gajah yang ada, ungkapnya, sebanyak 6 ekor merupakan hasil penanganan dari konflik dengan masyarakat dan satu gajah merupakan hasil pengembangbiakan dari PLG Labuhan Batu.

Rutinitas gajah di Aek Nauli juga sudah disusun dengan baik. Setiap hari, gajah makan dari rumput dan tumbuhan yang ada di kawasan ini. Setiap pagi jam 09.00 WIB, gajah-gajah dipandu mahout masing-masing mulai beraktivitas untuk jalan mencari makan.

Kawasan  Aek Nauli yang memiliki luas kawasan mencapai sekitar 285 hektare memiliki struktur tanah yang naik-turun dan cukup curam, membuat mobilitas gajah terbatas dan perjalanan relatif berat. Makanya aktivitas gajah disusun agar lebih efisien. “Posisi landainya kan tidak terlalu luas, jadi di sini lebih banyak curam. Kasihan juga gajah kalau terlalu curam,” ucapnya.

Kondisi ini juga membuat para mahout kesulitan mencari kawasan untuk melepas gajah mencari makan. Karena itu para mahout harus membuat rencana aktivitas pagi sebelum masuk kandang lagi.

“Jadi kita beri waktu lima jam untuk aktivitas pagi. Dan jam dua siang, para mahout akan menggiring para gajah kembali ke sini (kandang di tepi sungai) untuk mandi dan beristirahat di kandang terbuka,” tutur Boby.

Setelah mandi, sambungnya, mahout wajib memeriksakan kondisi gajah ke petugas kesehatan. Petugas kesehatan ini akan datang pada jam 14.00 WIB hingga 16.00 WIB setiap harinya. Kemudian gajah-gajah akan mendapatkan makanan tambahan berupa nanas, semangka, batang tebu, pepaya, pelepah kelapa sawit, hingga batang pisang.  “Untuk pemeriksaan kesehatan, ada atau tidak ada luka pada gajah, wajib kami periksa setiap sore,” kata Bobby.

Keterbatasan Pakan Alami Jadi Tantangan

Meski sudah menyusun rutinitas yang baik, para mahout dan pengelola dihadapkan pada satu tantangan utama. Keterbatasan pakan alami berupa rumput di dalam hutan. Dengan kebutuhan pakan harian mencapai 10 persen dari berat tubuh masing-masing, ketersediaan pakan menjadi aspek krusial.

Selama ini, pengelola dibantu oleh berbagai mitra, termasuk Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, yang telah lama bekerja sama dalam mendukung operasional, penyediaan sarana prasarana, hingga penanaman rumput gajah seluas 1 hektare di area seberang perumahan BPSI atau Balai Penerapan Standar Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli.

“Kami berharap kerja sama semacam ini dapat terus diperpanjang dan diperluas. Gajah-gajah ini adalah bagian dari alam, dan idealnya program pakan tambahan seperti penanaman rumput gajah dapat terus berjalan agar keberlangsungan hidup mereka semakin mandiri,” ujarnya.

Diungkap Boby, sinergi lintas sektor, termasuk dukungan dari BKSDA, akademisi, masyarakat, serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti Pertamina, terbukti menjadi pilar penting dalam menopang operasional harian. Termasuk pemenuhan nutrisi, pemeriksaan kesehatan rutin tiap enam bulan sekali, hingga penyediaan infrastruktur pendukung di pusat konservasi ini.

Dia juga mengatakan, selain menjadi tempat perlindungan, Aek Nauli dirancang untuk menjadi jendela edukasi bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda dan anak sekolah. Melalui kunjungan edukatif, para pengunjung diajak untuk mengenal lebih dekat kehidupan satwa dilindungi ini, memahami pentingnya mitigasi konflik satwa, serta menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian alam.

Boby menjelaskan kawasan Aek Nauli ini sudah dibuka sejak 2017. Kawasan dibuka untuk menggalakkan pencarian lima Bali baru, sebagai salah satu program wisata di bawah pemerintahan Presiden RI Joko Widodo. Aek Nauli yang hanya berjarak sekitar lima menit dari kawasan Danau Toba, dipercaya dapat menjadi magnet wisata dengan kehadiran gajah.

Awalnya, kawasan ini ingin dibuat menjadi Taman Wisata Alam, sehingga dapat dibuka untuk umum. Namun, hingga kini perizinan terkait alih fungsi tersebut masih belum ada. Jadi sekarang, ANECC hanya menerima rombongan edukasi, tidak bisa dibuka untuk umum.  Selain gajah, ucapnya, kawasan ini juga menjadi tempat tinggal bagi hewan langka lainnya mulai dari beruang, kambing hutan, macan, dan berbagai jenis burung.

Fuel Terminal Manager Pematang Siantar Pertamina Patra Niaga, Zakharia Habibuw menjelaskan sejak tahun 2017, Pertamina terus memberikan dukungan kelestarian gajah yang ada di kawasan Aek Nauli ini. Bantuan yang diberikan berupa vitamin dan obat untuk gajah, lahan untuk pembibitan tanaman makanan gajah, hingga timbangan untuk gajah.

“Bantuan ini diberikan sebagai program tanjung jawab sosial atau TJSL terhadap gajah. Bantuan diharapkan dapat mendukung wilayah konservasi Aek Nauli dan kelestarian alam di sana. Mudah-mudahan, kita akan terus memberikan dukungan untuk kelestarian gajah-gajah ini,” terangnya.

Diungkapkan Zakharia, gajah merupakan hewan yang dilindungi dengan populasi yang sudah tidak banyak lagi. Karenanya, Pertamina mendukung pelestarian gajah di Aek Nauli ini, sekaligus menjadi edukasi kepada generasi muda.

 

Reporter : Siti Amelia

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Vikram Sinha Lanjut Pimpin Indosat, Gaspol Proyek Strategis AI North Star

mimbarumum.co.id - PT Indosat Tbk (Indosat atau IOH) secara resmi mengesahkan perpanjangan masa jabatan Vikram Sinha sebagai Presiden Direktur...