Dulu, Medan tumbuh dari air. Dari tepi Sungai Deli, kehidupan pertama kota ini bermula. Air menjadi urat nadi ekonomi, pelabuhan, dan perdagangan. Tapi kini, sungai yang dulu disembah, malah diusir dari peta modern. Kota yang lahir dari air, kini dicekik airnya sendiri.
Lihatlah Sungai Deli, Babura, dan Belawan yang dulu menjadi halaman depan peradaban Melayu Deli, kini berubah menjadi halaman belakang yang kotor, tertutup bangunan, dan dijadikan tempat buang limbah. Di banyak titik, sungai bahkan “hilang” dari pandangan, tertutup tembok dan jembatan liar yang dibangun tanpa izin. Airnya berubah hitam, mengalir pelan seperti menanggung beban sejarah yang dilupakan.
Banjir di Medan bukan hanya persoalan teknis, tapi juga moral. Ini tentang bagaimana pemerintah dan warga secara bersama-sama menyingkirkan sungai dari kesadaran kota. Sungai dianggap masalah, bukan kawan. Padahal, setiap kali hujan deras turun dan air meluap ke jalan-jalan kota, itu cara alam mengingatkan bahwa “kalian telah menutup jalan pulangku.”
Sementara di ruang-ruang rapat, proyek-proyek besar terus digulirkan atas nama penanganan banjir. Kolam retensi, pompa, hingga dinding penahan air semuanya dibangun megah, tapi jarang menyentuh akar masalah. Tak ada keberanian untuk menertibkan bangunan di bantaran, tak ada kebijakan serius membuka ruang hijau di tepian sungai. Kota ini ingin melawan air dengan beton, bukan dengan kesadaran ekologis.
Ironinya, tiap tahun anggaran miliaran rupiah dikucurkan untuk proyek drainase dan normalisasi sungai. Tapi hasilnya tetap sama. Air kembali ke jalan, bukan ke sungai. Mungkin karena dalam tata ruang kota, sungai memang tak lagi punya tempat. Ia diusir, disempitkan, dan diubah jadi saluran beton yang kering di musim kemarau, tapi mengamuk di musim hujan.
Bila kota terus memunggungi sungai, maka setiap proyek hanyalah kamuflase dari keserakahan. Di balik banjir, selalu ada cerita tentang tanah yang dijual, ruang hijau yang dihapus, dan izin bangunan yang longgar demi keuntungan sesaat. Air tak pernah berdusta , ia akan selalu kembali menuntut ruang yang dirampas darinya.
Medan mestinya belajar dari masa lalunya sendiri. Kota ini lahir dari sungai, dan akan mati bila terus melupakannya. Menata sungai bukan soal proyek, tapi soal menata kesadaran bahwa air bukan musuh, melainkan guru yang paling sabar.
Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum dengan judul : Sungai yang Disingkirkan: Sejarah Air dan Keserakahan Kota


