MBG Mungkin Membuat Anak-Anak Kenyang, tetapi Apakah Orang Tuanya Ikut Kuat?

Berita Terkait

Beberapa hari lalu saya kembali bertanya kepada anak-anak tentang menu Makan Bergizi Gratis di sekolah. Jawabannya hampir sama seperti sebelumnya. Kadang ayam. Kadang ikan. Kadang telur. Ada buah juga.

Saya kemudian bertanya lagi. “Masih lapar?” Mereka tersenyum. “Kadang masih, Bi.”
Jawaban itu tidak lagi membuat saya sibuk memikirkan besar kecilnya potongan ayam atau banyak sedikitnya nasi. Pikiran saya justru melompat ke pertanyaan yang jauh lebih besar. Anak-anak memang mulai kenyang. Tetapi apakah orang tuanya ikut menjadi lebih kuat?

Semakin lama saya mengikuti perjalanan program ini, saya semakin sadar bahwa manfaat itu hanya menyentuh satu bagian kecil dari kehidupan sebuah keluarga. Yang berubah adalah makan siang anak. Sementara kehidupan orang tuanya tetap berjalan seperti biasa. Dan kecemasan tentang masa depan keluarga tetap tidak banyak berubah.

Di situlah saya mulai bertanya.Apakah negara sedang membangun keluarga yang kuat? Atau hanya sedang mengurangi sebagian kecil beban keluarga?

Saya percaya setiap orang tua memiliki kebanggaan yang sama. Mereka ingin memberi makan anak-anaknya dengan hasil kerja sendiri. Mungkin lauknya hanya telur. Mungkin hanya ikan asin. Mungkin hanya tempe. Tetapi ada harga diri yang tidak bisa dihitung dengan uang. Karena makanan itu berasal dari keringat mereka. Bukan dari belas kasihan siapa pun.

Itulah sebabnya saya selalu percaya bahwa pekerjaan yang layak sering kali lebih bergizi daripada sepiring makan siang gratis. Kalimat itu mungkin terdengar aneh. Tetapi coba kita renungkan.

Pekerjaan yang layak memungkinkan seorang ayah membeli beras. Membeli ikan. Membeli telur. Membeli susu. Itu bias dilakukan setiap hari dan berkali. Bukan hanya pada jam makan siang di sekolah.

Pekerjaan yang layak membuat seorang ibu tidak lagi menghitung receh ketika anaknya meminta buah. Pekerjaan yang layak membuat keluarga memiliki pilihan. Dan pilihan adalah salah satu bentuk kemerdekaan yang paling nyata.

Saya khawatir, tanpa kita sadari, arah diskusi tentang MBG mulai bergeser. Kita terlalu sering menghitung berapa juta porsi makanan yang dibagikan. Berapa ribu dapur yang dibangun. Berapa banyak anak yang menerima manfaat.

Semua itu memang penting. Tetapi ada satu angka yang jauh lebih penting. Berapa banyak keluarga yang ekonominya menjadi lebih kuat sejak program ini berjalan? Kalau jawabannya belum ada, maka pekerjaan rumah kita masih sangat panjang. Karena anak tidak tumbuh hanya dari makan siang. Ia tumbuh di dalam keluarga. Kalau keluarganya rapuh, tantangan hidupnya tetap besar.

Tidak dinafikkan bahwa program MBG ini membantu para orang tua, terkhusus yang ekonominya pas-pasan. Tetapi mereka sebenarnya lebih berharap dan lebih senang jika pekerjaan selalu ada. Gaji bertambah. Harga BBM bahan kebutuhan tetap murah.

Menurut saya, itulah inti persoalan yang sebenarnya. Rakyat kecil tidak selalu meminta bantuan. Mereka lebih sering meminta kesempatan. Kesempatan bekerja. Kesempatan berdagang. Kesempatan memperoleh penghasilan yang cukup. Karena ketika penghasilannya cukup, mereka tidak hanya mampu membeli makan siang. Mereka mampu membangun masa depan keluarganya.

Saya kemudian membayangkan Indonesia dua puluh tahun dari sekarang. Anak-anak yang hari ini menerima MBG telah tumbuh dewasa. Mereka sudah menjadi ayah. Sudah menjadi ibu. Sudah memiliki anak-anak mereka sendiri.

Pertanyaannya sederhana. Apakah mereka nanti masih membutuhkan program yang sama? Kalau jawabannya iya, berarti ada sesuatu yang belum selesai. Tetapi kalau mereka sudah mampu menyediakan makanan bergizi dari hasil kerja mereka sendiri, di situlah saya percaya negara benar-benar berhasil.

Karena keberhasilan sebuah negara tidak diukur dari berapa lama rakyat menerima bantuan. Tetapi dari seberapa cepat rakyat tidak lagi membutuhkannya.

Saya tidak sedang mengajak negara menghentikan MBG. Sekali lagi, saya justru ingin program ini berhasil. Tetapi keberhasilan itu tidak boleh berhenti pada anak-anak yang kenyang. Ia harus berlanjut pada keluarga yang semakin mandiri. Pada lapangan kerja yang semakin luas. Pada usaha kecil yang semakin hidup. Pada harga pangan yang semakin stabil. Pada daya beli yang semakin kuat. Karena semua itu saling berkaitan.

Sepiring nasi memang bisa mengenyangkan seorang anak selama beberapa jam. Tetapi ekonomi keluarga yang kuat akan mengenyangkan mereka seumur hidup.
Mungkin di situlah letak cita-cita terbesar sebuah negara. Bukan membesarkan generasi yang terbiasa menerima bantuan. Melainkan membesarkan generasi yang suatu hari nanti mampu berkata kepada anak-anak mereka,

“Nak, makanlah. Ini hasil kerja Ayah. Ini hasil kerja Ibu.” Bagi saya, kalimat itu jauh lebih bergizi daripada apa pun yang pernah disajikan di atas sebuah ompreng.

Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform digital e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum

TINGGALKAN KOMENTAR

Berita Pilihan

Ketika Kewenangan Kehilangan Batas, Penyadapan Pun Menabrak Norma

Ada yang lebih berbahaya daripada penyalahgunaan kekuasaan. Yakni ketika orang yang memegang kekuasaan dan kewenangan merasa dirinya terlalu kuat...