mimbarumum.co.id – Taman Ismail Marzuki (TIM) menjadi episentrum sastra Nusantara. Kamis malam, (11/9/25), gelora kata dan irama menyatu dalam Malam Pembukaan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII. Acara yang digelar di Teater Kecil TIM ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah pernyataan tentang kekuatan puisi yang tetap relevan menghunjam dalam jantung zaman.
Malam itu bukan hanya dibuka dengan pidato, melainkan juga denyut nadi budaya Betawi. Sejak pukul 19.30, lobi Teater Kecil sudah riuh oleh alunan Sapun dari sastrawan senior Yahya Andi Saputra, diiringi grup musik Galeri Betawi. Prosesi penyambutan ini langsung menancapkan kesan bahwa PPN adalah pertemuan yang menghargai akar budaya.
Suasana kian hangat dengan pertunjukan Gambang Kromong dari Grup Sinar Muda pimpinan Bapak Wahab, yang membawa seluruh undangan larut dalam semangat kebersamaan sebelum memasuki auditorium.
Ketua Panitia PPN XIII, Ahmadun Yosi Herfanda, dalam laporan singkat namun padat, menekankan bahwa PPN XIII tidak hanya menjadi ajang silaturahmi para penyair, tetapi juga sebuah upaya strategis untuk memperkuat posisi sastra Indonesia dalam peta sastra Asia Tenggara dan dunia.
“Malam ini, kita tidak hanya berkumpul untuk merayakan kata. Kita berkumpul untuk merawat ingatan, merajut narasi kemanusiaan, dan membangun jembatan budaya antarbangsa,” ujarnya disambut tepuk tangan meriah.
Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Bambang Prihadi, dalam kapasitasnya sebagai tuan rumah, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat dan menegaskan komitmen DKJ untuk terus menjadi rumah bagi segala bentuk ekspresi kesenian, termasuk sastra yang sering disebut sebagai “ibu dari segala seni”.
Gubernur DKI Jakarta diwakili Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochammad Miftahulloh Tamary, menyatakan kebanggaannya melihat Jakarta kembali menjadi tuan rumah perhelatan sastra nasional. “Jakarta adalah melting pot, tempat berbagai budaya bertemu. Sangat tepat jika puisi, yang adalah suara hati dan nurani, dibacakan dengan megah di sini. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen penuh mendukung event-event budaya seperti ini, yang memperkaya rohani warga kota,” tegasnya.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia diwakili Direktur Bina SDM, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan Irini Dewi Wanti, menyampaikan pesan yang selaras. Ia menekankan pentingnya budaya digital dalam mendokumentasikan dan mendiseminasikan karya sastra.
“Apa yang terjadi malam ini tidak boleh berhenti di sini. Melalui platform digital, gegap gempita puisi ini harus sampai ke pelosok Nusantara dan mancanegara. Itulah tugas kami, memastikan warisan budaya tak benda seperti puisi tetap hidup dan dinikmati generasi mendatang,” ujar alumnus Universitas Sumatera Utara itu.
Dua peristiwa simbolis menandai resminya acara, peresmian Malam Pembukaan PPN XIII dan peluncuran Buku Antologi Puisi PPN XIII. Momen itu disusul dengan penyerahan souvenir dari Kementerian Pariwisata kepada panitia dan pemberian piagam penghargaan, mengukuhkan kolaborasi erat antara dunia sastra dan pariwisata budaya.
Setelah rangkaian sambutan, panggung sepenuhnya diserahkan kepada puisi. Komposer kenamaan Ananda Sukarlan membuka pentas dengan “Musik Puisi” yang memukau, menyatukan tutur kata dan alunan nada dalam harmoni yang menyentuh jiwa.
Kemudian, secara bergiliran, para penyair dari dalam dan luar negeri naik ke panggung. Penyair sekaligus akademisi Malaysia Dr. Haryati Abd. Rahman membacakan puisi dengan khidmat, menunjukkan bahwa estetika dan akademisi dapat berjalan beriringan. Penyair Singapura, Samsudin Said, membawakan puisinya yang kaya metafora, diikuti kekuatan kata dari Aceh yang dibawakan penyair gaek LK Ara.
Dunia internasional semakin terwakili dengan gemuruh tepuk tangan paling meriah, salah satunya disambut untuk legenda sastra Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Dengan gaya khasnya yang mantap dan penuh karisma, Sutardji membacakan puisinya dengan memesona, mengingatkan semua orang pada kekuatan primordial kata, diikuti kekuatan naratif Helvy Tiana Rosa dan kekuatan kontemplatif Imam Ma’arif.
Ananda Sukarlan kembali menutup rangkaian pembacaan puisi dengan karya musik puisinya, memberikan kesimpulan yang pas untuk malam yang penuh dengan emosi dan kekayaan artistik tersebut.
Malam Pembukaan PPN XIII telah meletakkan fondasi yang kuat untuk hari-hari berikutnya. Acara ini sukses membuktikan bahwa puisi tetap menjadi medium yang kuat untuk menyatukan orang dari berbagai latar belakang, merayakan perbedaan, dan menyuarakan kebenaran universal yang mengatasi sekat-sekat geografis dan politik.
Semua mata kini tertuju pada rangkaian acara PPN XIII selanjutnya, dengan harapan akan lebih banyak lagi kejutan dan inspirasi yang lahir dari pertemuan akbar para pencinta katakata se-nusantara ini.
• Suyadi San


