Setiap Iduladha tiba, suasana euforia menyelimuti banyak penjuru negeri. Masjid-masjid dipenuhi kegiatan penyembelihan hewan kurban. Relawan sibuk membagikan daging ke warga, sementara media sosial dan berita online penuh dokumentasi kegiatan bertajuk “berbagi”.
Namun, di balik semarak ritual Iduladha ini, pertanyaan mendasar mencuat, sudahkah kurban yang kita lakukan benar-benar menyentuh makna terdalamnya, atau justru berubah menjadi ritual tahunan yang kehilangan ruh keadilan sosial?
Makna Kurban
Kurban dalam ajaran Islam bukan semata soal menyembelih sapi atau kambing. Lebih dari itu, ia adalah simbol pengorbanan spiritual, ketundukan kepada Allah SWT, dan bentuk solidaritas sosial terhadap sesama, terutama mereka yang hidup dalam kondisi kekurangan.
Namun kini, fungsi kurban perlahan bergeser. Esensi kurban berubah menjadi formalitas. Pengorbanan menjelma ajang pencitraan. Semangat berbagi diredusir menjadi distribusi satu-dua kantong plastik daging, seolah masalah kemiskinan cukup ditambal dalam satu hari.
Distribusi daging kurban sering kali tidak tepat sasaran. Bahkan orang yang tergolong mampu pun tak jarang ikut menerima jatah. Sementara mereka yang benar-benar membutuhkan, justru kerap terlewatkan.
Jika pun daging itu sampai ke tangan orang miskin, maka wajah-wajah penerima bantuan itu nyaris tak berubah dari tahun ke tahun. Mereka tetap mengantre, menerima daging, lalu kembali ke siklus kemiskinan yang sama, tanpa perubahan berarti.
Padahal, kurban seharusnya menjadi pemantik perubahan sosial. Bagaimana agar masyarakat yang selama ini hanya sebagai penerima, suatu hari bisa menjadi bagian dari sistem yang berdaya, bahkan menjadi shohibul qurban.
Tanpa Keberlanjutan
Jika dicermati, semangat kepedulian kita ternyata hanya meledak di bulan Zulhijjah saja. Setelah itu, perhatian pada kaum lemah kembali meredup.
Kondisi ini, jika kita jujur, telah mengerdilkan makna kurban menjadi sekadar ritual seremonial yang temporer. Padahal, nilai kurban adalah tentang keberlanjutan pengorbanan diri, waktu, harta, dan kenyamanan demi kemaslahatan orang lain. Bukan hanya sekali dalam setahun tetapi sepanjang tahun.
Saatnya kita berpikir ulang. Bisakah kurban dikembangkan menjadi instrumen sosial yang lebih berdampak.
Iduladha semestinya menjadi momen perenungan spiritual dan sosial. Kurban bukan hanya tentang sapi dan kambing, melainkan tentang keberpihakan.
Bila kurban kita belum mampu mengangkat derajat kaum miskin, barangkali yang perlu dikorbankan bukan hanya hewan, tapi juga ego, pola pikir konsumtif, dan sistem distribusi yang tidak adil.
Semoga esensi pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang penuh keikhlasan dan ketundukan total pada Tuhan menjadi inspirasi untuk melawan egoisme sosial dan sistem ekonomi kapitalis yang timpang. Sekaligus momentum menyatukan hati di tengah luka masyarakat akibat ketimpangan, korupsi, dan kemiskinan yang kian menganga.


