Ketika Sungai Menjadi Saksi: Hutan Diganti Tambang

Berita Terkait

Di sepanjang bantaran sungai yang kini rata tertimbun lumpur, warga tidak lagi menghitung jumlah harta yang hilang. Mereka hanya menghitung napas. Berapa kali lagi mereka harus dihantam air bah? Berapa kali lagi anak-anak mereka harus dipeluk erat di tengah malam, ketika suara gemuruh dari hulu datang seperti kabar kematian?

Sementara itu, di meja-meja rapat berpendingin udara, masih terdengar suara-suara yang seolah tidak tinggal di bumi yang sama. Mereka berucap. “Ini bukan karena hutan gundul.” “Ini bukan akibat aktivitas tambang.” “Curah hujan saja penyebabnya.”
Ucapan-ucapan ini bukan sekadar keliru. Ia adalah penghinaan pada akal sehat, sekaligus tamparan bagi para korban yang sedang memunguti sisa hidup antara kayu, lumpur, dan reruntuhan.

Jika benar semuanya hanya tentang hujan, pertanyaannya sederhana. Mengapa gelondongan kayu raksasa itu ikut turun? Apakah hujan juga yang menebang pohon dengan hasil potongan yang rapi dan terpisah dari dahan-dahan kecil? Apakah hujan juga yang membawa alat berat untuk mengeruk perut bumi demi emas dan galian lainnya?
Apakah hujan pula yang mengeluarkan izin penambangan, izin pembukaan jalan logging, izin pembabatan ribuan hektare vegetasi?

Pasti bukan. Semua itu adalah kerja tangan manusia. Tentu manusia-manusia serakah yang sudah entah kemana naluri kemanusiaannya. Dan ironinya, tangan-tangan itu kini sedang menunjuk langit, seakan-akan langit adalah pesakitan yang pantas disalahkan. Mereka seakan menunjuk wajah Tuhan sebagai biang dari bencana ini.

Sesungguhnya Allah telah memperingatkan manusia sejak lama: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh ulah tangan manusia…”
Ayat ini bukan metafora. Ia sedang terpampang nyata di depan mata kita, bahkan sudah berulang sejak bertahun sebelumnya. Pada batang-batang pohon yang hanyut, pada lahan yang tercukur botak, pada bukit-bukit yang berubah menjadi luka terbuka, dan pada sungai-sungai yang dipaksa menampung derita melebihi kapasitasnya.

Sementara warga tengah menitikkan air mata, para pemegang kuasa sibuk menorehkan tanda tangan. Malah ada yang menjadikan sebagai background berselfie sembari memastikani sepatunya telah memijak pinggiran lumpur. Ini untuk menjadi bukti kelak ketika musim suksesi, konstituen menganggapnya termasuk orang yang punya empati dan peduli. Sementara tangannya tetap menenteng segoni kecil bantuan agar keliatan dermawan.

*
Inilah tragedi paling menyayat dalam bencana ekologis. Alam rusak oleh kuasa, tetapi rakyatlah yang diminta menanggung akibatnya.

Kini warga bertanya tanpa suara, tapi dengan luka yang dalam. “Di mana negara ketika kami hanyut?” “Di mana pemerintah ketika bukit-bukit kami dicukur habis?” “Mengapa nyawa kami begitu murah dibandingkan izin tambang dan pembalakan?”

Ketika air surut, siapa yang berani berdiri di hadapan rakyat dan berkata jujur bahwa bencana ini adalah akibat keserakahan, bukan semata hujan? Sungai telah berkata dengan caranya sendiri. Hutan yang hilang telah memberi bukti lebih jujur daripada konferensi pers para pejabat. Dan masyarakat, yang kini hidup dalam puing-puing, sudah cukup sabar memendam rasa.

Pada akhirnya, bencana ini adalah cermin. Cermin yang memantulkan wajah pemerintah yang entah masih ada wajahnya, atau telah hilang sama sekali.
Apakah kita akan membiarkan edisi berikutnya dari tragedi ini ditulis oleh air bah lagi?
Ataukah kita berani menuntut perubahan sebelum sungai kembali mengamuk dan mengambil korban baru?

Tulisan ini isudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum dengan judul: Ketika Sungai Menjadi Saksi

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Tom Lembong dan Pertanyaan Tentang Kepercayaan kepada Hukum

Pada episode sebelumnya kita sampai pada satu pertanyaan, bagaimana kalau masyarakat tidak sepenuhnya percaya kepada orang yang diberi kewenangan...