Jeruk Berastagi Anjlok pada Harga Terendah

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Petani jeruk di Kabupaten Karo mengeluh, dikarenakan harga jeruk “anjlok” ke titik terendah, hanya Rp6000/Kg, dikarenakan masuknya jeruk asal Jember, Bali dan Indramayu ke Pasar Induk Kramat Jati Jakarta Timur dan Pasar Induk Tanah Tinggi Tanggerang yang merupakan tempat pemasaran jeruk terbesar asal Karo.

Hal itu diungkapkan petani yang sekaligus eksportir jeruk asal Tanah Karo Ferdinand Tarigan, petani jeruk Siti Aminah Peranginangin dan Satan Ginting Manik kepada wartawan, Selasa (24/7) di Medan menanggapi anjloknya harga jeruk di Kabupaten Karo pasca masuknya jeruk maupun mangga asal Jember, Bali dan Indramayu ke Pasar Induk Jakarta.

“Pemasaran jeruk Karo saat ini bersaing ketat dengan jeruk dan mangga asal Jember, Bali dan Indramayu di Jakarta. Hal ini juga menjadi salah satu faktor menurunnya harga jeruk di Karo menjadi Rp6000/kg. Padahal sebelumnya berada pada harga Rp8.000-Rp10.000/Kg,” ujar Ferdinand.

Menurut Ferdinand, selain harganya mengalami penurunan yang signifikan, keberadaan ataupun keluasan lahan jeruk Karo juga mengalami penurunan yang sangat drastis, karena tanaman itu tidak lagi menjanjikan bagi masyarakat petani pasca diserang lalat buah yang merusak jeruk.

“Dulu luas perkebunan jeruk di Karo mencapai ribuan hektar. Saat ini hanya tinggal seratusan hektar saja yang berada di Desa Barungkersap, Gurubenua, Sukaramai Kecamatan Merek, Kecamatan Barusjahe, Kecamatan Simpangempat, Tigapanah, Merdeka, Namanteran, Payung, Tiga Nderket, Kacinambun, Berastagi,” katanya.

Memang ada juga di wilayah Desa Kutakendit, Kutambelin dan Kuta Pengkih kawasan “Liangmelas” Kecamatan Tigabinanga, Laubaleng, Kutabuluh dan Mardinding. Tapi bukan untuk ekspor ke Jakarta, karena kurang tahan lama dalam perjalanan ke Pasar Induk yang diangkut melalui truk.

Berkaitan dengan itu, Ferdinand, Satan dan Siti Aminah sangat berharap kepada Pemkab Karo agar melakukan terobosan baru untuk menjaga stabilitas harga komoditi jeruk asal Karo ini tidak semakin hari semakin anjlok, agar petani bisa terhindar dari kerugian yang lebih besar.

“Kita sangat berharap agar jeruk khas asal Tanah Karo yang sudah menjadi ikon nasional yang disebut dengan “jeruk Berastagi” dapat dipertahankan dan dibangun kembali dengan keseriusan pemerintah terkait dalam menjaga stabilitas harga,” katanya.

Berdasarkan keterangan Ferdinand, Satan Ginting dan Siti Aminah, agar petani jeruk tidak mengalami kerugian yang sangat besar dan bisa menikmati keuntungan sedikit, harga minimal di pasaran berada pada posisi Rp8.000-Rp10.000/Kg. “Dengan harga Rp10.000/Kg, petani bisa menikmati keuntungan,” ujar Satan Ginting.(09)

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Petani Mengeluh ke Legislator PDIP Terkait Dampak Limbah Cair PKS – Industri di Sergai dan Tebingtinggi

mimbarumum.co.id - Para petani di Kabupaten Serdang Bedagai dan Kota Tebingtinggi menyampaikan keluhannya kepada anggota DPRD Sumut Delpin Barus,...