BENGKEL sederhana di Tanjung Morawa, Deliserdang, pria berusia 65 tahun itu masih setia memahat, mengukir, dan menyempurnakan bentuk-bentuk kayu nangka menjadi Gambus Belalang. Syahrial Felani, yang lebih dikenal sebagai Mak Yal Gambus, telah menghabiskan 36 tahun hidupnya untuk melestarikan dan mengembangkan alat musik tradisional Melayu yang nyaris punah ini. Hingga hari ini, ia telah memproduksi 405 Gambus Belalang – setiap buahnya mengandung cerita, setiap dawai menyimpan sejarah.
Tiga tahun lalu, penulis secara khusus mewawancarai Syahrial Felani di kantor redaksi Mimbar Umum. Wawancara ini bisa ditonton di kanal MIMBAR TV di tautan htps://youtu.be/h39tflMwajw?si=CVI-oxvfVZ-oq_Vr. Lanjut berbincang di sela persiapan Workshop Drama Bangsawan ditaja Teater GENERASI, di Medan.
Mak Yal menuturkan, ia lahir di Medan pada 15 November 1959 dan besar di lingkungan yang keras. “Asrama anak-anak karyawan kereta api itu terletak di Gang Buntu,” kenangnya tentang masa kecil di Jalan Veteran, tepat di hadapan stasiun kereta api Medan. Di tengah kepadatan dan persaingan tidak sehat, ia menemukan pelarian di Gedung Kesenian Medan yang tak jauh dari kompleks kereta api.
“Sentuhan kesenian dalam hidupku total dari pergaulan dan pandai-pandai aku bermain,” ujar anak kelima dari sepuluh bersaudara ini. Darah seni tidak mengalir dari orang tuanya – ayahnya berdarah Jawa dari Purwokerto, ibunya boru Harahap dari Tapanuli Selatan. Tapi jiwa seninya tumbuh dari pengalaman hidup yang keras.
Sebelum menemukan panggung seni, Mak Yal harus berjibaku dengan berbagai pekerjaan kasar. Menjadi kernet angkot, kuli bangunan, penjual es, penggembala kambing, pencuci gerbong kereta api, pelayan kedai kopi, hingga pelayan SPBU. “Tak terbayang kemudian kalau itu semua dilakukan dengan meninggalkan sekolah,” katanya.
Justru dalam kesulitan itulah, ia menemukan keteguhan hati. Setiap mengantar kambing ke pasar, ia selalu melewati Gedung Kesenian Medan. “Kadang ia berhenti lama. Mencari tahu apa sebenarnya yang dilakukan orang-orang di dalam gedung itu,” kenangnya.
Tahun 1977 menjadi titik balik. Mak Yal mulai belajar kesenian di Taman Budaya Medan. Seni musik ia pelajari dari almarhum Pak Wakijo Bina Musika, seni teater dari Burhan Piliang, Dahri Uhum NST, Darwis Rifa’i Harahap, dan Boy Harjo – para tokoh teater Sumatra Utara. Seni tari ia pelajari dari Ibu Ani Trisna Asril, murid Sauti pencipta tari Serampang Duabelas.
Perjalanan keseniannya semakin mantap ketika tahun 1982 ia bergabung dengan Lembaga Studi Tari Patria pimpinan Yose Rizal Firdaus. Di sinilah ia semakin dekat dengan dunia Gambus. Momen penentuan datang tahun 1984 ketika ia ikut sebagai penari dalam Festival Tari Rakyat di Jakarta.
“Di festival itu, Mak Yal memperhatikan begitu beragamnya alat musik petik yang dibawa seniman-seniman daerah,” ceritanya. Kebanyakan adalah jenis Gambus, alat musik chordopone yang bunyinya bersumber dari getaran dawai.
Kelahiran Sebuah Masterpiece: Gambus Belalang
Minatnya pada Gambus mulai mengkristal. Dengan peralatan serba manual, ia mulai membuat Gambus hasil penafsirannya sendiri. “Pertama mengerjakannya cukup berat. Bukan karena soal bahan dan tenaga, melainkan pandangan orang-orang sekelilingnya yang seakan asing melihat pekerjaan itu,” kenangnya.

Lima tahun pertama, ia belum menemukan bentuk yang spesial. Namun pertemuannya dengan beberapa tokoh Gambus dan Zapin di Sumatra Utara – termasuk almarhum Hasan Hamdi, Anjang Nurdin Paitan, dan Bang Rizaldi Siagian – menguatkan tekadnya untuk meneruskan dan merawat tradisi Gambus Belalang.
“Gambus Belalang adalah konsep tentang bagaimana masyarakat Melayu menyatakan dirinya di tengah hubungan dengan alam lingkungannya,” jelas Mak Yal tentang filosofi di balik karya besarnya.
Gambus pertama yang dibuat Mak Yal adalah hasil rekonstruksi dari Gambus asli yang dibelinya seharga 35 ribu rupiah di sebuah toko di Pelabuhan Belawan. “Ini barang pusaka peradaban yang harus diselamatkan dari amuk anak-anak zaman yang tak kenal leluhurnya,” tegasnya.
Gambus Belalang buatan Mak Yal memiliki sembilan dawai – delapan dawai ditala berpasangan, dan satu dawai tunggal di paling atas. Yang unik, Gambus Belalang tidak memiliki fret (ruas nada) seperti gitar. “Penetapan nadanya berdasarkan rasa pitch pemainnya,” jelasnya.
Proses pembuatannya masih mengandalkan pahatan dan tarahan manual tanpa mesin. Bahan utamanya kayu nangka yang dipilih karena “seratnya liat dan mengikat kuat, sehingga tak mudah pecah atau patah.”
Konsistensi Mak Yal tidak sia-sia. Pesanan mulai berdatangan tidak hanya dari Sumatra Utara, tapi juga dari berbagai provinsi lain. Mahasiswa Etnomusikologi Universitas Sumatra Utara memesan 10 buah, disusul pesanan dari Riau, dan ISI Padang Panjang.
Yang membanggakan, tahun 1999, karyanya sudah dipesan dari Singapura, Malaysia, Amerika, dan Eropa. Prestasinya terus berlanjut dengan berbagai penghargaan, termasuk menjadi komposer dan penata musik terbaik dalam berbagai festival nasional.
Kiprah di Berbagai Bidang Seni
Tidak hanya sebagai pembuat Gambus, Mak Yal juga handal memainkannya. Tahun 1988, ia mendirikan Group Tari Al Fakam di Tanjung Mulia Medan dan Group Tari Tamora 88 di Tanjung Morawa yang bertahan hingga sekarang.
Tahun 1994, ia mendirikan Pondok Seni Tiara, disusul penyelenggaraan Medan Annual Choreographer Showcase pada 1995 dan 1996. Karya-karyanya seperti “Nguncah”, “Zapin Sapta Langka”, dan “Ini Aku Ini Kita Ini Kami” menjadi bukti produktivitasnya.

Di usianya yang ke-65, Mak Yal masih aktif membina generasi muda. Ia mendirikan Komunitas Tari dan Musik Medan, Kumpulan Pak Pong Medan, dan Kumpulan Pak Pong Labura. Ia juga menjadi instruktur utama di Sanggar Seni Tari Permata Labura.
“Tak jarang Mak Yal memberi workshop pembuatan dan permainan Gambus dari tingkat lokal, nasional, hingga internasional,” ujarnya.
Setelah 36 tahun berkarya, Mak Yal memahami bahwa yang dilakukannya bukan sekadar profesi. “Pekerjaan teramat penting untuk merawat tradisi yang tidak semua orang mampu mewarisinya, memperbaharuinya, dan mengembangkannya,” katanya.
Dari anak yang harus berjuang keras untuk bertahan hidup, kini Mak Yal telah menjadi maestro yang karyanya menghiasi berbagai institusi kebudayaan di Sumatra Utara. Setiap Gambus Belalang yang ia ciptakan bukan hanya alat musik, melainkan penjaga memori kolektif masyarakat Melayu.
Di tangannya, Gambus Belalang bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan living tradition yang terus bernapas, berbicara, dan menyentuh hati generasi sekarang. Dan di bengkel sederhananya di Deliserdang, Mak Yal terus bekerja – bukan untuk mencari ketenaran, melainkan untuk memastikan bahwa jiwa Melayu tidak akan pernah mati ditelan zaman.
• Suyadi San


