Jenderal Suyudi Akan Diuji oleh Perkara, Bukan Pidato

Berita Terkait

Program Jendral Suyudi Ario Setio sudah kita dengar. Sekarang waktunya ia bekerja. Sebab seorang Kapolri tidak akan dikenang karena pidatonya. Ia akan dikenang karena bagaimana polisi bekerja ketika berhadapan dengan perkara.

Suyudi sendiri sudah mengatakan ukuran keberhasilan penegakan hukum tidak boleh hanya dilihat dari banyaknya perkara yang ditangani. Yang lebih penting adalah kualitasnya. Tepat. Sah. Berbasis bukti. Memberikan kepastian. Dan berkeadilan.

Ini kalimat penting. Sebab polisi bisa saja mengungkap banyak perkara. Tetapi banyak perkara belum tentu berarti banyak keadilan. Orang bisa ditangkap. Orang bisa ditetapkan tersangka. Berkas bisa dilimpahkan. Tetapi pertanyaan akhirnya tetap sama: Apakah prosesnya benar?

Di situlah Kapolri Suyudi akan diuji.

Ia juga berjanji menghapus fenomena no viral, no justice. Menurutnya, masyarakat tidak seharusnya mencari akses informal atau membuat sebuah perkara viral hanya agar laporannya mendapat perhatian. Pelapor berhak mengetahui perkembangan perkara yang dapat dibuka kepadanya.

Ini terdengar sederhana. Tetapi bagi rakyat, ini bukan perkara kecil. Sebab orang yang datang ke kantor polisi sebenarnya sedang membawa harapan. Ia datang karena menganggap negara masih ada. Kalau setelah membuat laporan ia justru harus mencari kenalan, mencari wartawan atau membuat video agar didengar, berarti ada yang salah dalam sistem.

Karena itu, Suyudi tidak perlu buru-buru menunjukkan bahwa Polri sekarang berbeda. Biarkan masyarakat yang menilai. Ada laporan rakyat? Tangani. Ada bukti? Proses. Ada anggota polisi yang salah? Tindak. Ada orang kuat yang terbukti bersalah? Jangan berhenti karena namanya besar. Ada orang yang dituduh tetapi ternyata tidak cukup bukti? Jangan dipaksakan.

Itulah penegakan hukum. Bukan soal berapa banyak orang yang ditangkap. Tetapi berapa banyak perkara yang ditangani dengan benar.

Suyudi juga mengatakan Polri akan memperkuat case management, case review, supervisi, forensik, digital forensik, analisis keuangan dan asset tracking. Kalau semua itu benar-benar berjalan, masyarakat akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada slogan.

Mereka mendapatkan kepastian. Dan kepastian hukum adalah salah satu bentuk kehadiran negara yang paling nyata.

Maka mulai sekarang kita tidak perlu terlalu sibuk membandingkan Suyudi dengan Listyo. Kita juga tidak perlu terlalu cepat memberi nilai. Lihat saja perkara-perkara yang akan ditangani. Lihat siapa yang disentuh. Lihat siapa yang dilindungi. Lihat bagaimana anggota Polri diproses ketika melakukan pelanggaran. Dari sana karakter kepemimpinan akan terlihat. Sebab pidato bisa dibuat dalam satu malam. Tetapi keadilan tidak bisa dibuat dengan pidato.

Jendral Suyudi sudah berbicara. Sekarang biarkan perkara-perkara yang berbicara. Biarkan rakyat menjadi hakim pertama atas perubahan itu. Dan kita jug akan menunggu program-program Kapolri itu, apakah sampai ke Sumatera Utara.

Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform digital e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum

Tinggalkan Balasan

spot_img
spot_img

Berita Pilihan

Kapolda Sonny: Arahan Sudah Disampaikan, Perubahan Masih Ditunggu

Pergantian Kapolda Sumatera Utara sudah terjadi. Irjen Pol. Sonny Irawan menggantikan Irjen Pol. Whisnu Hermawan Februanto pada awal Oktober....