JEJAK: Shantined, Dua Dekade Menyulam Kata, Dari Balikpapan ke Panggung Sastra Nasional

Berita Terkait

SUASANA haru sempat menyelimuti Aula Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), ketika Shantined—nama pena Harsanti—berkata dengan suara bergetar: “Acara peluncuran buku antologi puisi dan cerpen saya ini telah saya tunggu hampir 20 tahun. Luar biasa, saya terharu, seperti mimpi saja rasanya.” Di hadapan para sastrawan, akademisi, dan penggiat sastra, perempuan kelahiran Yogyakarta, 21 Oktober 1972 ini akhirnya menyaksikan karya terbaiknya terkumpul dalam dua buku yang menjadi penanda perjalanan dua dekadenya di dunia sastra.

Dua buku itu—”Saga, Serigala, dan Sebilah Mandau” dan “Kita yang Tersisa dari Luka Cuaca”—adalah kristalisasi dari perjalanan dua dekadenya dalam dunia sastra. Setelah 20 tahun menulis, akhirnya dia merasakan buah kesabaran dan ketekunannya.

Perjalanan Shantined dalam dunia sastra dimulai sejak usia sangat dini. “Mulai senang membuat sajak dan cerpen sejak usia 9 tahun,” kenang perempuan yang menghabiskan masa kecil di Yogyakarta ini. Bakat menulisnya terus terasah melalui berbagai lomba penulisan cerpen dan puisi selama masa sekolah. Namun, seperti banyak penulis lainnya, perjalanannya tidak selalu mulus. Ada periode “mati suri” yang cukup panjang sebelum akhirnya ia bangkit kembali dan aktif berkarya.

Kiprah Shantined di dunia sastra modern dimulai dengan karya-karya yang menghiasi berbagai media nasional antara tahun 2005-2007. Cerpen dan puisinya kerap muncul di Lampung Pos, Kaltim Post, Tribun Kaltim, bahkan majalah sastra legendaris Horison. Cerpen “Petir” karyanya masuk dalam antologi “Bingkisan Petir” yang diterbitkan Jaring Penulis Kalimantan Timur (JPK) pada 2005, menandai awal mula pengakuan terhadap bakat menulisnya.

Shantined dalam satu hajatan baca puisi di Jakarta.

Eksplorasi Sastra dan Komitmen pada Isu Perempuan

Salah satu cerpen Shantined yang paling banyak diperbincangkan adalah “Saga”, yang pertama kali dimuat di Jurnal Perempuan No. 58 tahun 2008. Karya ini tidak hanya menarik perhatian pembaca biasa, tetapi juga kalangan akademisi. Pada 2018, Tita Nurajeng Myasari dari Magister Ilmu Susastra Universitas Diponegoro menganalisis cerpen ini menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud, yang kemudian dipublikasikan dalam Jurnal Kebahasaan dan Kesusastraan Gramatika.

Kritikus sastra ternama Maman S Mahayana, menyoroti kekuatan karya-karyanya. “Cerpen Shantined sangat menarik. Tokoh-tokohnya sangat psikologis, karena cerpennya bisa ditarik kemana-mana,” ujarnya. Maman bahkan menarik paralel antara Shantined dan sastrawan besar Indonesia, “Seperti novelis Pramudya Ananta Tur, yang sangat cinta ibu dan menghormati perempuan, Shantined juga mencurahkan ideologi perempuan.”

Shantined bukan hanya penulis yang berdiam di menara gading. Ia aktif dalam berbagai organisasi dan komunitas sastra. Di Balikpapan, tempat ia lama berkarya, Shantined aktif di Dewan Kesenian Balikpapan (DKB) dengan membidangi Komite Sastra, serta tergabung dalam Jaring Penulis Kalimantan Timur (JPK) dan Borneo’s Women Community (BWC). Ia juga dikenal sebagai murid dari sastrawan Kalimantan Timur, Korrie Layun Rampan.

Komitmennya pada pengembangan sastra diwujudkan melalui pembentukan komunitas sastra di Balikpapan, dengan menghimpun grup kongkow seniman di Café Bandar Balikpapan setiap Sabtu sore. Aktivitas ini menunjukkan dedikasinya tidak hanya pada penciptaan karya, tetapi juga pada pembangunan ekosistem sastra yang sehat.

Kiprah Shantined dalam ranah sastra mencakup lebih dari sekadar aktivitas menulis. Dia terlibat aktif dalam berbagai even sastra nasional, antara lain Kongres Cerpen Indonesia tahun 2005 di Pekanbaru dan Pesta Penyair Indonesia tahun 2007 di Medan. Komitmennya terhadap pengembangan sastra juga tercermin dari peran sertanya dalam sejumlah komunitas sastra di Balikpapan dan Kalimantan Timur, termasuk ketika memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisi Ketua Divisi Sastra di Dewan Kesenian Balikpapan.

Kapabilitas Shantined diakui melalui kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk menjadi juri dalam sejumlah kompetisi menulis, salah satunya Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat DKI Jakarta pada 2021. Kepercayaan semacam ini mengukuhkan posisinya sebagai sastrawan yang mumpuni dan dihargai dalam ekosistem sastra Indonesia.

Dua Buku Pertama: Puncak Perjalanan Dua Dekade

Setelah sekian lama berkarya dalam berbagai antologi bersama seperti “Dian Sastro For President #3”, “Surat Putih 3”, “Antologi Penyair Perempuan”, “Perkawinan Batu”, dan “DKJ”, akhirnya pada awal 2025 Shantined merilis dua buku pertamanya: “Saga, Serigala, dan Sebilah Mandau” (kumpulan cerpen) dan “Kita yang Tersisa dari Luka Cuaca” (kumpulan puisi).

Dua buku karya Shantined

Peluncuran kedua buku ini diselenggarakan oleh Penerbit Tarebooks Taresia bekerja sama dengan Jagat Sastra Milenia (JSM), didukung Jaring Penulis Kalimantan Timur (JPK) serta Majalah Elipsis. Acara digelar dalam dua format—daring melalui Zoom pada 26 Februari 2025 dan luring di TIM pada 27 Februari 2025—menunjukkan adaptasi terhadap perkembangan zaman sekaligus menjangkau audiens yang lebih luas.

Acara peluncuran buku Shantined beberapa waktu lalu itu menghadirkan diskusi mendalam bersama para narasumber ternama, seperti Maman S. Mahayana, Kurnia Effendi, Fanny J. Poyk, Mahwi Air Tawar, Olin Montero, dan Ririen Fina R. Kehadiran tokoh-tokoh sastra ini menunjukkan pengakuan terhadap kualitas karya Shantined.

Riri Satria, pakar teknologi digital sekaligus Ketua Komunitas Jagat Sastra Media (JSM), menyoroti pentingnya karya-karya Shantined. “Shantined adalah salah satu penulis yang memiliki daya eksplorasi luar biasa dalam menciptakan kisah dan puisi yang menggugah. Dua buku ini adalah refleksi dari perjalanan panjangnya dalam dunia sastra, yang patut diapresiasi,” ujarnya.

Pada buku kumpulan puisinya, “Kita yang Tersisa dari Luka Cuaca”, Shantined banyak mengusung tema seputar kerinduan, tapak perjalanan hidup, serta renungan sosial dan politik. Rasa rindu dalam puisinya diungkapkan dalam beragam bentuk—baik rindu akan seseorang, kenangan masa lampau, maupun tanah air. Melalui puisinya, ia menggambarkan upaya pencarian akan kedekatan dan keintiman yang mendalam, sebuah hal yang relevan dengan kehidupan modern yang serba cepat dan acapkali mispada kedalaman emosional. Pembaca diajak untuk merefleksikan kembali makna kehadiran, pertemuan, dan perpisahan.

Puisi-puisi Shantined juga merekam permenungannya akan perjalanan hidup, penggalian terhadap memori, serta upaya menemukan kekuatan dalam menghadapi tantangan. Hal ini sejalan dengan kondisi banyak individu di era modern yang kerap merasa terbelenggu rutinitas dan ingin menemukan makna yang lebih hakiki.

Kontribusi dan Warisan Sastra

Meski kini telah berpindah domisili ke Depok, Jawa Barat, semangat Shantined untuk berkarya tidak pernah surut. Dalam perbincangan singkat, ia menyampaikan harapannya: “Saya ingin tulisan saya dapat menjadi alternatif sudut pandang, memberikan refleksi, atau bahkan menjadi inspirasi bagi para pembaca.”

Kedua buku yang telah diluncurkannya bukan sekadar kumpulan karya, melainkan dokumentasi perjalanan batin dan intelektual seorang penulis selama dua dekade. “Saga, Serigala, dan Sebilah Mandau” menampilkan kumpulan cerpen dengan kisah yang kuat dan penuh eksplorasi psikologis, sementara “Kita yang Tersisa dari Luka Cuaca” menghadirkan puisi-puisi yang mengeksplorasi tema kerinduan, perjalanan hidup, dan refleksi sosial-politik.

Kemunculan dua buku Shantined adalah bukti bahwa konsistensi dan ketekunan pada akhirnya akan membuahkan hasil. Dari seorang gadis kecil yang mulai menulis sajak di Yogyakarta, hingga perempuan yang aktif berkarya di Balikpapan, dan kini hadir dengan karya-karya matang di panggung sastra nasional—perjalanan Shantined mengajarkan kita tentang arti kesetiaan pada panggilan jiwa.

Shantined merupakan bukti bahwa perjalanan sastra adalah proses panjang yang penuh dinamika. Karya-karyanya adalah dokumentasi perjalanan hidup yang kaya akan makna dan dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Dalam dunia sastra Indonesia yang terus berkembang, kehadiran Shantined dengan dua bukunya bagai oase—menyegarkan, menginspirasi, dan mengingatkan kita akan kekuatan kata-kata yang ditulis dengan ketulusan hati.

Dalam suatu percakapan, Shantined pernah menyampaikan bahwa dinamika kehidupannya menjadi sumber inspirasi terbesar bagi karyanya, baik puisi maupun cerpen. Baginya, menulis merupakan cara untuk menafsir ulang kehidupan dari sudut yang berbeda, menjalani hidup yang penuh gejolak, serta menyesuaikan cara pandang terhadap realita. Harapannya, seluruh tulisannya dapat menjadi bahan perbandingan, alternatif perspektif, dan—yang paling membahagiakan—jika mampu menginspirasi pembaca.

• Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Saat Penegak Hukum Memegang Senjata, Siapa yang Mengawasi?

Kita mulai lagi membicarakan tentang UU Perampasan asset. Dan pada kali ini kita sudah sampai pada satu persoalan penting....