Medan hari ini dipenuhi gedung-gedung menjulang. Apartemen baru, ruko bertingkat, mal besar. Dari jauh, kota ini tampak gagah, seperti simbol kemajuan. Tapi di balik kaca-kaca yang berkilau, ada rapuh yang tak terlihat: moral para pengurus kotanya.
Satu demi satu izin bangunan bermasalah muncul. Ada yang berdiri tanpa PBG, ada yang mengabaikan sempadan jalan, ada yang tak jelas kontribusi PAD-nya. Mestinya segel ditegakkan, pembongkaran dijalankan. Nyatanya, selembar amplop bisa menghapus cat merah di dinding. Aturan hanya jadi hiasan, hukum jadi barang dagangan.
DPRD yang seharusnya bersuara lantang ikut kehilangan wibawa. Rapat ribut, sidang gaduh, tapi hasilnya nihil. Bangunan tetap berdiri, rakyat tetap kecewa. Gedung megah itu seperti cermin: makin tinggi menjulang, makin dalam moral kita runtuh.
Rakyat kecil yang terkena imbas. Bangun pagar rumah ditegur. Tambah dapur langsung dipaksa bongkar. Tapi ratusan miliar mengalir ke proyek besar bisa berjalan tanpa halangan. Inilah wajah hukum yang timpang, tajam ke bawah, tumpul ke atas.
Islam sudah lama mengingatkan: “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11). Kalau pejabat dan dewan terus memilih jalan bancakan, jangan harap Medan akan berubah. Gedung boleh semakin tinggi, tapi kota ini akan tetap pincang kalau moralnya keropos.
Kota yang besar bukan ditentukan oleh beton dan kaca, melainkan oleh integritas mereka yang mengurusnya. Sebab gedung bisa berdiri megah, tapi kalau moral pejabatnya runtuh, maka seluruh kota ini sebenarnya sedang ambruk perlahan.
Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum


