GALERI: Mencintai Tidak Harus Memiliki?

Berita Terkait

MUNGKIN Anda pernah mendengar kalimat yang sering diulang-ulang: “Mencintai tidak harus memiliki.”

Ah, bagiku itu adalah kalimat paling munafik yang pernah lahir dari mulut manusia. Sebuah kalimat kosong yang dipoles agar tampak bijak, padahal isinya busuk. Itu bukan keikhlasan, melainkan harga diri yang remuk disamarkan dengan senyum.

Dalam Kampus Biru, Ashadi Siregar menulis, “Cinta itu seperti api. Ia bisa menghangatkan, tapi bisa juga membakar habis tanpa sisa.”

Dan bukankah benar? Mereka yang mengatakan tidak apa-apa mencintai tanpa memiliki, sesungguhnya sedang terbakar diam-diam. Mereka pura-pura lupa, padahal hatinya serupa kaca yang diremukkan, serasa diludahi oleh kenyataan.

Seseorang yang mencinta tapi tak mendapat balasan, dia menumpuk harapan yang pernah ia bangun, lalu menghancurkannya dengan tangannya sendiri. Itu bukan cinta yang holistik, bukan pula keikhlasan yang agung. Itu adalah kemarahan yang dipendam terlalu lama.

Dendam kecil yang belum diberi nama. Luka-luka yang dipoles jadi slogan seolah ia menang, padahal ia kalah, kehilangan.

Kita perlu jujur: bila mencintai seseorang tapi tak bisa memilikinya, rasanya bukan pasrah. Rasanya ingin berteriak, ingin marah, ingin lenyap. Tapi kita terlalu pengecut untuk mengakui. Akhirnya kita hanya berbisik lirih, “yang penting dia bahagia.”

Padahal di balik kata itu, tersembunyi doa gelap: semoga suatu hari ia juga ditinggalkan, agar ia mengerti pahitnya patah hati. Maka jangan heran jika kalimat tentang keikhlasan dan kerelaan melepas, sering kali hanyalah kebencian yang dibungkus rapi.

Seperti kata Kahlil Gibran dalam The Prophet:

“Cinta yang tidak jujur pada dirinya sendiri akan berubah menjadi bayangan kelam yang menghantui jiwa.”

Cinta sejati memang bukan soal memiliki, tapi juga bukan soal membohongi diri. Karena mencintai berarti berani mengaku: “Aku luka, aku kecewa, aku merindukanmu—dan aku tidak baik-baik saja tanpamu.”

(Nyantai aja bro, nggak usah serius kali)

Walloohu A’lamu Bisshowaab.

• Penulis: Hendy Mattaro Damanik, Mantan Perwira TNI AL, pernah menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi di Jakarta, dan Anggota DPRD Medan 1999-2004

• Editor: Suyadi San

 

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Sultan Deli XIV: Pembangunan Rendah Karbon Keniscayaan, Kolaborasi Multi-Pihak Jadi Kunci

mimbarumum.co.id - Sultan Deli XIV, Seri Paduka Tuanku Mahmud Arya Lamantjiji Perkasa Alam Shah, menegaskan bahwa Pembangunan Rendah Karbon...