GALERI: Keris Tumbuk Lada Masihkah Diperlukan?

Berita Terkait

SUKU Melayu Deli pada zaman dahulu telah mampu mengukir pisau badik (keris) bernama “tumbuk lada” dengan melekatkan seni pada sisi tertentu sehingga unik dan indah dipandang. Kini seni ukir ini sudah sangat langka, bahkan pengukirnya juga sulit dijumpai. Sekadar mengulik sedikit kisahnya berikut ini diurai secara random, bahwa ukiran ini masih bisa disaksikan lewat gambar-gambar.

Secara umum, ornamen yang ada pada senjata ini terdiri atas 3 bagian. Adapun jenis ukirannya mengarah kepada dominasi 3 dimensi, terkesan menyerupai kepala makhluk hidup. Material ukiran terbuat dari bahan tanduk hewan yang keras tapi dapat bertahan lama.

Akurasi yang tinggi menjadikan ukiran pada setiap bagian, menunjukkan keunikan dari keseluruhannya, sehingga ornamen yang spesifik, khusus menandakan kepada nilai artistiknya, sekaligus tidak terdapat pada model “Tumbuk Lada” yang lain.

Bentuk hulu (kepala) keris/pisau ukiran ini mengadopsi sebagian dari sulur-suluran motif “Maha Risi” atau juga motif “Bunga Kukur”. Secara estetis, terlihat bagus karena kerumitannya. Namun, dari fungsional akan mengganggu kekokohan pegangan, karena bentuknya setengah lingkaran (bulat telur).

Penempatan ornamen sangat spesifik, proporsional, dan artistik, terutama penyatuannya ditambah garis lekuk-lekukan bersambung/taut-tautan menyerupai huruf “V” sebagai cara untuk pengikatnya.

Ragam hias yang terdapat pada bagaian sarung Tumbuk Lada ini bernama “Bayam Peraksi”. Ornamen ini sering dijumpai pada bagian hulu perahu, karena letaknya ada di bagian ujung. Biasanya semakin ke ujung sedikit melancip tipis. Dengan sedikit ukiran yang berdimensi, menjadikan hiasan ini melengkapi ornamen lainnya. Bagian yang menonjol itu berfungsi untuk menyangkutkan ke bagian sisi bila diselipkan di bagian pinggang si pemakainya.

Keunikan hiasan suluran ini, di sisi yang berbeda, kesan lain akan muncul yakni mirip dengan kepala hewan. Ada mirip mata dan paruh burung. Tafsirannya “Tumbuk” adalah sejenis burung ungguk sedang menatap musuhnya dengan pandangan tajam. Sementara memakai suluran daun itu mirip tanaman “Lada”, ini dahulu sangat populer sebagai penghasil utama.

Garis-garis yang tegas dikombinasikan dengan garis lengkungan menambah ornamen tidak saja indah dipandang mata, tapi juga menyiratkan “gerakan atau dinamika kehidupan”. Ukiran ini juga bermakna simbolik tentang status sosial dalam perjalanan hidup dan kehidupan duniawi.

Ukiran ini terdapat di bagian paling bawah pada Tumbuk Lada sebagai penutup. Masih dalam bentuk 3d (dimensi) terkesan menyerupai kepala hewan. Pada sisi ujung ada liang kecil bisa jadi difungsikan untuk tempat gantungan.

Ornamen yang digunakan masih sulur-suluran sama dengan yang di bagian atas tersebut. Bedanya sebagai pengikat dibuatkan logam yang juga di ukir dengan motif “Pucuk Rebung”. Lempengan yang melingkar ini dihiasi ornamen sebagai pemanis ukiran lainnya. Material logam bisa juga dari perak dan emas, tergatung modelnya atau keinginan pemilknya.

Ini adalah bagian sarung Tumbuk Lada seukuran bilahnya. Untuk menguatkan agar jangan terlepas maka dipasang logan tipis sebanyak bilangan ganjil antara 5 hingga 7. Kiasan 5 yakni rukun Islam sedangkan 7 itu adalah lapisan bumi dan langit. Bentuk sedikit lengkung menyiratkan makhluk akan bersujud kepada sang Ilahiyah. Ring atau gelang-gelang adalah saling menjaga tali silaturahmi antar makhluk sesama dan makhluk hidup lainnya di muka bumi persada ini.

Secara keseluruhan motif atau pola hiasan pada hakikatnya untuk menjaga keseimbangan. ***

• Penulis: Azmi, staf pengajar Seni Rupa FBS Unimed, peneliti ragam budaya Melayu di Sumatra Utara, penulis buku-buku senirupa dan ornamen Melayu Deli

• Editor: Suyadi San

 

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Sultan Deli XIV: Pembangunan Rendah Karbon Keniscayaan, Kolaborasi Multi-Pihak Jadi Kunci

mimbarumum.co.id - Sultan Deli XIV, Seri Paduka Tuanku Mahmud Arya Lamantjiji Perkasa Alam Shah, menegaskan bahwa Pembangunan Rendah Karbon...