GALERI: Bulan Bahasa, Disrupsi Dunia Maya dan Fenomena “Membaca Malas”, Akankah Anak Bahasa Ikut Terlarut?

Berita Terkait

DI antara resep sehat dan awet muda mantan Perdana Menteri Malaysia, Tun Mahathir Mohamad, adalah kebiasaan rutinnya membaca buku, menulis, dan berdiskusi. Di usianya yang sudah seabad ini pun, beliau masih siap jika mesti berdiskusi atau menerima tamu di malam hari. Banyak orang mengagumi usianya yang panjang dan ingin juga kelak sepertinya. Namun, pertanyaannya, siapkah juga kita rutin membaca buku, menulis, dan berdiskusi seperti yang beliau lakukan?

Di gelombang tsunami informasi ini, faktanya, jangankan rutin membaca buku, memahami pesan yang hanya tiga paragraf pun nyatanya banyak orang yang gagal paham, padahal informasi sudah begitu terang benderang tertera. Saya kerap mendapati hal ini pada saat menyampaikan informasi yang tertuang dalam beberapa paragraf.

Ini adalah fakta dari disrupsi terbesar media sosial: pergeseran dari budaya membaca ke budaya menonton. Kita makin acap menyaksikan “kebudayaan” baru di grup WhatsApp (WAG) dengan banyaknya kiriman video dari anggota di dalamnya; dari video remeh-temeh sampai yang sarat manfaat. Belum lagi tren video pendek di berbagai platform media sosial.

Pertanyaan selanjutnya adalah apa dampak dari kebiasaan menonton ini dengan budaya membaca?

Bulan Bahasa dan Budaya Menonton

Bulan Bahasa adalah perayaan bahasa yang identik dengan teks dan literasi di tanah air pada bulan Oktober, yang bermuara dari semangat Sumpah Pemuda. Masihkah ini relevan dengan budaya menonton yang sekarang sangat membanjiri? Justru peran bahasa teks tetap tak terganti dan menjadi semakin penting. Ia tak hanya berperan sebagai penyampai pesan, tetapi juga membentuk cara berpikir: membangun pikiran kritis, analitis, dan mendalam.

Bagaimana caranya?A da beberapa fungsi terbesar teks dalam melatih kita cara berpikir:

  • Pola Pikir Linear: Untuk memahami sebuah paragraf, kita harus membaca kalimat pertama, menghubungkannya dengan kalimat kedua, dan seterusnya. Ini melatih otak untuk berpikir secara runut, logis, dan terstruktur.
  • Analisis Kompleks: Video dan gambar sangat baik untuk menyajikan kesimpulan (emosi atau fakta sederhana). Namun, teks adalah satu-satunya media yang efisien untuk menjelaskan proses yang kompleks, seperti argumen hukum, pembuktian ilmiah, atau analisis filosofis.
  • Mendorong Refleksi: Teks memiliki “jeda”. Kita bisa berhenti membaca sejenak untuk berpikir dan merenung tanpa terdistraksi oleh gambar bergerak berikutnya. Ini adalah ruang untuk refleksi kritis.

Ini baru segelintir dampak membaca teks yang bisa didapatkan, belum lagi yang lainnya, yaitu melatih imajinasi dan kognisi aktif. Membaca adalah latihan mental (kognisi aktif), sedangkan menonton sering kali bersifat pasif. Misal: pada saat kita membaca dalam suatu teks tentang kamp konsentrasi Nazi yang sangat brutal dan mengerikan itu, otak kita akan “dipaksa” bekerja untuk menciptakan gambaran kamp Nazi itu sendiri. Ini akan melatih otak untuk kreatif berimajinasi.

Brain Rot dan Neuroplastisitas

Dalam kamus dunia maya, istilah brain rot (“busuk otak”) berarti penurunan kualitas mental intelektual dan kognitif akibat terlalu banyak mengonsumsi konten digital berkualitas rendah. Menurut Dr. Anna Lembke, pakar neurosains kecanduan dari Stanford, fenomena “brain rot” adalah cerminan dari kecanduan dopamin digital, di mana ia mengibaratkan smartphone sebagai “jarum suntik hipodermik modern” yang menyalurkan konten adiktif.

Paparan konstan terhadap konten yang sangat menstimulasi ini membajiri otak dengan dopamin dalam jumlah besar, yang kemudian memaksa otak untuk beradaptasi dengan cara mengurangi jumlah reseptor dopaminnya (proses downregulation) demi melindungi diri. Akibatnya, otak menjadi tidak sensitif (desensitisasi), sehingga aktivitas alami yang sehat (seperti membaca atau bersosialisasi) terasa “membosankan” dan individu tersebut membutuhkan paparan konten yang jauh lebih intens hanya untuk merasa normal.

Di sisi lain, para ahli neurosains dan psikolog kognitif lainnya secara serius meneliti fenomena dan gejala yang dideskripsikan oleh brain rot tersebut. Mereka tentu membahasnya dengan konsep ilmiah seperti neuroplastisitas.

Konsep neuroplastisitas agaknya kini semakin menarik untuk dipahami. Sebab, konsep ini berbicara tentang kemampuan otak manusia untuk mengubah struktur dan fungsinya berdasarkan apa yang kita lakukan berulang kali. “Manusia menjadi seperti apa yang ia latih.”.

​Dr. Michael Merzenich (Professor Emeritus di UCSF) “ Bapak” Neuroplastisitas Terapan adalah salah satu pelopor utama yang membuktikan bahwa otak orang dewasa tetap plastis. Merzenich membuktikan bahwa otak tidak statis dan dapat “memetakan ulang” dirinya sendiri berdasarkan input yang diterimanya, bahkan pada usia dewasa.

Neuroplastisitas adalah dasar dari semua pertumbuhan, pembelajaran, dan ketahanan manusia. Tanpa kemampuan ini, kita akan menjadi makhluk yang statis; kita tidak akan pernah bisa belajar dari pengalaman, pulih dari cedera, atau beradaptasi dengan dunia yang terus berubah.

Dalam konteks pembelajaran, ini berarti kecerdasan bukanlah sesuatu yang “tetap”. Manusia dapat secara harfiah membangun otak yang lebih cerdas dan lebih terampil seumur hidupnya. Ini menjadi sebuah kabar baik bagi kita, untuk tidak langsung percaya pada mitos-mitos kecerdasan bawaan.

Begitu pun dengan mitos kecerdasan otak di usia tua yang pasti menurun. Sebaliknya, neuroplastisitas membantu otak tetap “muda” dan sehat. Maka, terus belajar hal-hal baru akan membangun sesuatu yang disebut “cadangan kognitif” (cognitive reserve).

Seberapa sering kita mendengar orang yang mengeluh dan beralasan sudah tua dan sulit untuk belajar? Sehingga, ini pun membantah ironi faktor “U” (usia) yang sering dijadikan alasan orang untuk bisa terus belajar dan bertumbuh.

“Pisau bermata dua” dahsyatnya otak manusia dengan kemampuan neuroplastisitasnya, maka fenomena brain rot ini bukan mustahil dapat terjadi pada siapa saja. Karena brain rot itu sendiri nyatanya adalah sisi gelap dari otak yang tidak diberdayakan.

Akibat kebiasaan scroll meaningless (menjelajah tanpa berpikir), menonton konten receh tak berfaedah, video-video pendek dan beralih fokus setiap 15 detik, maka sebenarnya seseorang sedang memperkuat sirkuit saraf untuk distraksi dan konsumsi pasif. Akibatnya, sirkuit saraf yang digunakan untuk fokus mendalam (deep work), konsentrasi panjang (misalnya membaca buku), dan pemikiran kritis menjadi melemah karena jarang digunakan. Otaknya tidak “busuk”, tetapi otaknya “berubah bentuk” untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan Anda. Otak menjadi tumpul bak pisau yang tak diasah.

Anak Bahasa: Menolak Terlarut dan Diam Seribu Bahasa

Sebagai seorang “anak bahasa”, saya pernah bertanya dan berefleksi: “Apa bukti jika saya seorang anak bahasa yang pernah belajar bahasa waktu kuliah dulu?” Saya menjawab beberapa poin. Di antaranya adalah akan rutin membaca dan menulis. Maka, saya berupaya untuk mendisiplinkan diri pada keinginan itu. Ibarat seseorang yang ingin berat badannya ideal, dia pun berupaya melakukan tindakan untuk mencapai tujuannya.

Maka alhamdulillah, lahirlah artikel-artikel, (meski baru) empat buah buku fisik, antologi, dan lima e-book,  “efek samping” dari kebiasaan menulis itu. Budaya membaca artikel atau buku menjadi rutinitas harian dengan durasi setidaknya 1,5–2 jam sehari. Entah mengapa saya sangat terdoktrin dengan kebiasaan para pemimpin hebat di luar sana yang siap menginvestasikan waktu untuk membaca dan menulis, bahkan di waktu supersibuk mereka.

Sebagai seorang anak bahasa—sarjana bahasa, master bahasa, doktor bahasa, atau seorang profesor bahasa—membaca dan menulis itu adalah sebuah keterampilan fundamental yang sudah dipelajari sejak kuliah dulu. Tapi, mari sejenak kita hening dan berefleksi, mengapa keterampilan ini berhenti dan seolah senyap di tengah gempuran berbagai video pendek yang rasanya teramat banyak kita konsumsi?

Mengapa jari-jemari ini begitu lincah membagikan video-video itu tanpa kita sendiri melihatnya? Mengapa sebuah pemikiran menarik dalam sebuah tulisan atau video enggan kita diskusikan? Mengapa kita begitu khawatirnya menyampaikan sebuah pandangan secara tertulis? Mengapa kita gagap merangkai sebuah pantun atau puisi? Mengapa tak pernah ada resensi buku atau novel lagi yang pernah kita buat? Dan mengapa bahasa dan respons kita sering digantikan dengan sebuah emotikon? Serta mengapa-mengapa lainnya.

Jika seorang anak bahasa saja larut dan diam seribu bahasa pada fenomena brain rot dan membaca malas, bagaimana lagi dengan orang-orang awam itu? Jika seorang anak bahasa saja tak mampu lagi untuk deep reading (membaca mendalam) atas pesan yang diterima, lantas jangan salahkan orang-orang yang mudah termakan hoaks di luar sana.

Kembali pada kebiasaan membaca, menulis, dan berdiskusi seorang pemimpin dunia, Mahathir Mohamad. Saya semakin paham kenapa di usianya ini beliau tampak tetap muda, bersemangat, dan tetap menarik.

Sebagai seorang dokter, beliau saya duga keras menerapkan konsep neuroplastisitas itu pada dirinya. Mengapa beliau tetap menarik? Ini tentu bukan karena fisik atau kedudukannya kini. Ia tetap menjadi menarik perhatian banyak orang karena terus merawat pikirannya. Karena bukan wajah, senyum, penampilan. warna kulit, usia, atau jabatan yang membuat seseorang menarik, menurut Edward De Bono, tetapi kualitas pemikiran yang mereka punya.

Selamat Hari Soempah Pemoeda. Berjiwa Muda Terus Berkarya!

Cibubur, 281025

• Penulis: Ida Syafrida PCC atau Coach IdaSya adalah seorang Profesional Certified Coach ( PCC) dari International Coaching Federation (ICF), tinggal di Cibubur, Jakarta. Berdedikasi penuh pada dunia coaching dan merupakan inisiator & Faunder www.coachbasbas.com dan Coaching untuk Negeri yang bertujuan memasyarakatkan coaching di Indonesia.

• Editor: Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Jenderal Suyudi Akan Diuji oleh Perkara, Bukan Pidato

Program Jendral Suyudi Ario Setio sudah kita dengar. Sekarang waktunya ia bekerja. Sebab seorang Kapolri tidak akan dikenang karena...