Empat Musim Mengasuh Waktu: 4 Diva Penyair Sumatra Luncurkan Antologi di POPI

Berita Terkait

mimbarumum.co.id —Empat suara perempuan dari Sumatra bersatu dalam sebuah antologi puisi bertajuk “Empat Musim Mengasuh Waktu”, yang diluncurkan dalam acara peluncuran dan diskusi buku di Balai Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (22/8/2026).

Keempat penyair yang tergabung dalam Podium Perempuan Penyair Indonesia (POPI)—Helvy Tiana Rosa, D. Kemalawati, Fatin Hamama R. Syam, dan Devie Komala Syahni—menghadirkan karya-karya yang merekam perjalanan hidup, pergulatan batin, dan refleksi atas waktu yang terus bergulir. Meski sama-sama berakar dari tanah Sumatra, keempat diaspora ini kini menetap di Jakarta, menyatukan pengalaman dan ingatan akan kampung halaman dalam bait-bait puisi.

Helvy Tiana Rosa lahir di Medan, Devie Komala Syahni Siregar berasal dari Binjai, Sumatra Utara, Fatin Hamama dari Sumatra Barat, dan D. Kemalawati dari Meulaboh, Aceh. Keempatnya telah lama “hidup bersama kata” dan memilih puisi sebagai cara membaca dunia.

Acara yang berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 17.00 WIB ini menghadirkan narasumber Dr. Ganjar Harimansyah, S.S., M.Hum., Dr. Yundini Husni Djamaluddin, serta salah satu penyair, D. Kemalawati, dengan moderator Fatin Hamama.

Suasana semakin semarak dengan pembacaan puisi oleh Podium Perempuan Penyair Indonesia, Fauzi Afriansyah, Ayu Puspa Nanda, dan Deklamator Muda Indonesia. Turut hadir sebagai penampilan khusus, Konselor Budaya Iran, Dr. Yahya Jahangiri, yang menunjukkan dukungan terhadap diplomasi sastra antar bangsa.

Empat Perempuan Membaca Dunia

Dr. Ganjar Harimansyah, S.S., M.Hum., Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, pengajar di beberapa perguruan tinggi, dan mantan Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, memberikan ulasan mendalam terhadap antologi puisi “Empat Musim Mengasuh Waktu” karya Podium Perempuan Penyair Indonesia (POPI).

Dalam esai berjudul “Tubuh, Ingatan, Iman, dan Negeri dalam Empat Musim Mengasuh Waktu”, Ganjar mengulas bagaimana keempat penyair—Helvy Tiana Rosa, D. Kemalawati, Fatin Hamama R. Syam, dan Devie Komala Syahni—menghadirkan otoritas puitik yang berbeda namun saling melengkapi.

Dr. Yundhini Hoesni Djamaluddin dan Dr. Ganjar Harimansyah mengulas buku antologi POPI di Balai Sastra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta, Sabtu (22/8/26).

Menurut Ganjar, pada Helvy Tiana Rosa, pengalaman berkali-kali mencari rumah di dalam tubuh. Puisi “Secangkir Salju” menjadikan tubuh perempuan seperti arsip yang menyimpan sejarah tanpa rak dan katalog. Tangis berada di tenggorokan, doa di lutut, orang mati di mata, musim dingin menetap di dada.

“Penempatan pengalaman sejarah ke dalam anatomi mengubah fungsi tubuh. Tubuh menjadi tempat peristiwa meninggalkan bekas sekaligus tempat ingatan mempertahankan sesuatu yang dapat dilupakan dunia,” sebut Ganjar.

Menurut Ganjar, pilihan verba puisi-puisi Helvy Tiana Rosa memperkuat pembacaan tersebut. Perempuan itu menjerang air, merapikan selimut, memutar jam, menyuapi waktu, memandikannya, dan menidurkannya. Semua berasal dari medan kerja perawatan.

“Helvy mengangkatnya menuju skala eksistensial. Badai diberi kursi, waktu diasuh, orang mati diberi kamar agar dapat tidur. Kerja yang secara sosial mudah dianggap kecil berubah menjadi kemampuan mengelola hubungan dengan kehilangan,” katanya.

Ganjar menilai D. Kemalawati menempuh jalur lain. Jika Helvy membawa dunia masuk ke dalam tubuh, Kemalawati membawa pembaca mendatangi tempat-tempat di mana sejarah pernah melukai manusia. Aceh bukan latar geografis. Nama tempat menyimpan pengalaman. Konflik, laut, tsunami, kampung, agama, keluarga, kematian, dan perempuan hadir dalam satu bentang yang membuat sejarah mempunyai tanah tempat berpijak.

Puisi “Kolam Merah di Beutong Ateuh” dibangun melalui pengulangan yang hampir obsesif: “orang-orang”. Mereka datang, mengucapkan salam, berjabatan tangan, memegang senjata, mendengar tembakan, mendengar rintihan, melihat darah, menghitung korban, menggali, lalu bersaksi.

“Pengulangan tersebut memiliki fungsi lebih besar daripada ritme. Ia mempertahankan kehadiran manusia. Setiap “orang-orang” menolak korban dan saksi larut menjadi latar,” tuturnya.

Fatin Hamama R. Syam, menurut Ganjar, membawa pembaca ke wilayah spiritualitas, lalu membuat spiritualitas itu berakar pada tubuh. Puisi “Sebab Aku Hajar dan Kau Ibrahim Itu” menjadi contoh yang paling jelas. Hajar tidak diceritakan dari kejauhan. Persona mengambil posisi melalui pernyataan “aku Hajar”, kemudian bergerak melalui dahaga, tujuh putaran, rahim, susu, kaki, air mata, Safa, Marwa, dan Zamzam.

Pronomina aku mengubah pusat pengetahuan kisah. Hajar mengalami peristiwa dari tubuhnya sendiri. Ia mencintai, cemas, berlari, merasa dahaga, menyusui, lalu menyerahkan. Kisah suci memperoleh kedalaman melalui pengalaman perempuan yang sepenuhnya manusiawi. Tuhan tidak menjauhkan persona dari tubuh; tubuh menjadi jalan menuju penghayatan akan Tuhan.

Devie Komala Syahni, sambung Ganjar, memperlihatkan pergerakan sangat menarik dari bahasa domestik ke ruang kewargaan. Puisi “Perempuan Menampi Musim” dibuka oleh seorang perempuan yang menjemur mimpi di pagar pagi, sementara mahasiswa turun ke jalan dengan poster dan suara. Ia memungut huruf dari “buku-buku bekas janji”, lalu menanaknya menjadi puisi. Sebuah tampah bambu dipakai untuk menampi pidato.

Pilihan verbanya menentukan arah sajak: menjemur, menanak, menampi, menanam, dan menjahit. Semua mempunyai kedekatan kultural dengan kerja rumah dan kerja perawatan. Ketika verba itu dibawa ke alun-alun, demonstrasi, pidato, baliho, kekuasaan, dan kepentingan, asosiasi domestiknya tetap terbawa. Justru riwayat makna itulah yang menghasilkan daya politik.

Ganjar menegaskan bahwa empat penyair tersebut menjelaskan mengapa kategori “penyair perempuan” tetap berguna untuk membaca konteks sosial yang memengaruhi akses terhadap ruang bicara, penerbitan, legitimasi, dan kanon. Setelah karya berada di hadapan kita, teks puisinya meminta pembacaan yang lebih rinci.

Justru karena keempat penyair sama-sama perempuan, perbedaan di antara mereka menjadi bukti paling kuat bahwa identitas sosial tidak menghasilkan satu kode estetik. Helvy membaca dunia melalui tubuh yang menyimpan bekas. Kemalawati melalui ingatan yang menjaga kesaksian. Fatin melalui iman yang bertemu tubuh, cinta, dan pertanggungjawaban moral. Devie melalui pengalaman perawatan yang dibawa sampai ke bahasa kewargaan.

Persilangan itu memperlihatkan mengapa konteks menjadi kunci. Kata yang sama dapat bekerja berbeda ketika ditempatkan dalam pengalaman yang berbeda. Laut dapat menjadi sejarah, bencana, kampung, luka, perlawanan, atau jalan pulang. Rahim dapat menyimpan maternitas, kasih, kecemasan, dan pengetahuan spiritual. Dapur dapat menjadi rumah sekaligus cara membaca politik. Pulau dapat menjadi koordinat bagi birokrasi dan makam ayah bagi warganya.

“Selama puisi masih mampu mengingat ibu yang menjemur kain, Hajar yang berlari, Keumalahayati di atas gelombang, saksi yang menolak dibeli, perempuan yang menampi pidato, dan sebuah pulau yang masih dipanggil rumah, waktu belum sepenuhnya berhasil membuat manusia lupa,” pungkas Ganjar dalam esainya.

• Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Kopi Darat FG Alumni HMI: Karakter Syarat Mutlak, Bukan Sekadar Alternatif

mimbarumum.co.id – Forum Guru Alumni HMI (FG Alumni HMI) Sumatra Utara menggelar agenda dadakan "Kopi Darat", Sabtu (3/10/2026). Bertempat...