Dosen UNIMED Inovasi Kriya Eco-Print 8 Etnis Sanggar Pendopo Berbasis QR-Code

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Seni tradisi, teknologi tepat guna, dan sentuhan digital kini menyatu dalam sebuah gerakan pelestarian budaya yang inovatif di Sanggar Seni Pendopo, Kabupaten Deliserdang. Tim Dosen Universitas Negeri Medan (UNIMED) melalui Program Insentif Pengabdian Masyarakat Berbasis Riset (PISN) 2026 dari DRTPM Kemendiktisaintek menghadirkan inovasi kriya Eco-Print bermotif Ornamen 8 Etnis Sumatra Utara yang dilengkapi teknologi Smart Tagging berbasis QR-Code.

Tim PISN UNIMED diketuai Dr. M. Oky Fardian Gafari, M.Hum. dengan anggota Dr. Wahyu Triatmojo, M.Sn., M. Anggi Januarsyah Daulay, M.Hum., dan Ayu Nadira Wulandari, M.I.Kom., serta didukung mahasiswa program MBKM, menjalankan program ini secara kolaboratif bersama Pimpinan Sanggar Seni Pendopo, Waritri Mumpuni, dan perwakilan LPPM Unimed.

Ketua Tim Pengabdian menjelaskan, pendampingan ini difokuskan untuk menjawab tiga tantangan utama mitra: menjaga keakuratan motif tradisional, menghentikan pencemaran limbah cair kimia, serta membuka akses pasar digital.

“Kami menerapkan Master Desain Ornamen 8 Etnis Sumatera Utara yang ditautkan pada canting cap tembaga custom. Hasilnya, distorsi motif bisa ditekan hingga nol persen. Kerapian dan nilai filosofis motif adat tetap terjaga presisi sesuai pakem kebudayaan,” terangnya di Medan.

Tak hanya pelestarian motif, tim PISN 2026 juga merombak alur produksi dengan menyerahkan peralatan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa Mesin Steamer Industrial Stainless 304, Overhead Stirrer Mixer Digital, dan Rak Pengering Stainless. Pemanfaatan mesin pengukus modern ini terbukti mempercepat proses fiksasi warna kain hingga tiga kali lebih cepat dibanding metode konvensional.

Inovasi ini juga ramah lingkungan karena mengadopsi teknik Eco-Print berbahan dedaunan lokal dan ekstrak pewarna alam, yang otomatis menghentikan potensi pembuangan puluhan liter limbah cair sintetis per bulan (zero chemical waste).

Menariknya, setiap produk kriya yang dihasilkan kini memiliki “identitas digital”. Melalui Smart Tagging, label QR-Code disematkan pada setiap produk kain dan busana. Saat dipindai dengan ponsel cerdas, pembeli dapat langsung menikmati Digital Storytelling yang mengulas sejarah, filosofi Ornamen 8 Etnis—Batak Toba, Karo, Mandailing, Simalungun, Pakpak, Angkola, Melayu, dan Nias—hingga cerita di balik pembuatan produk oleh pengrajin.

Pimpinan Sanggar Seni Pendopo, Waritri Mumpuni, menyambut hangat hadirnya program ini. “Bantuan mesin TTG dan pelatihan digital dari tim PISN sangat dirasakan manfaatnya. Proses kerja jadi jauh lebih cepat, ramah lingkungan, dan produk kami punya nilai jual lebih tinggi karena pembeli bisa langsung belajar budaya lewat kode QR,” ungkapnya.

Rangkaian kegiatan PISN 2026 yang telah berjalan mencakup sosialisasi, penyerahan mesin TTG, workshop teknis pewarnaan alami, pelatihan pembuatan QR-Code, hingga penyusunan poster dan publikasi ilmiah. Program ini diharapkan dapat terus berlanjut secara mandiri sehingga Sanggar Seni Pendopo makin berdaya dan menjadi pilar pelestarian budaya daerah berbasis ekoteknologi digital.

• Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Mahasiswa Non-Muslim Merasa Nyaman di FKM UINSU

mimbarumum.co.id - Minat calon mahasiswa non-Muslim, khususnya dari kalangan Kristen, untuk menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas...