mimbarumum.co.id – Minat calon mahasiswa non-Muslim, khususnya dari kalangan Kristen, untuk menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) terus meningkat. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah mahasiswa non-Muslim di fakultas tersebut bertambah tiga kali lipat, dari 12 orang pada tahun akademik 2023/2024 menjadi 36 orang pada 2026.
Wakil Dekan I FKM UINSU, Prof. Dr. Hasrat Efendi Samosir, MA, mengatakan peningkatan tersebut menjadi gambaran positif tentang kehidupan akademik yang terbuka, inklusif, dan menjunjung tinggi kerukunan antarumat beragama di lingkungan kampus Islam.
“Pada tahun akademik 2023/2024, jumlah mahasiswa non-Muslim, khususnya Kristen, hanya 12 orang. Tahun 2024/2025 meningkat menjadi 26 orang. Pada 2026 ini, jumlahnya sudah mencapai 36 orang,” kata Hasrat Efendi Samosir, Kamis, seusai peringatan Hari Santri di Kampus UINSU, Jalan Sutomo, Medan.
Menurut Hasrat, mahasiswa non-Muslim yang menempuh pendidikan di FKM UINSU tersebut berasal dari Kabupaten Nias, Sumatera Utara. Menariknya, peningkatan jumlah mahasiswa itu terjadi tanpa promosi khusus yang dilakukan pihak fakultas ke daerah tersebut.
“Kami tidak pernah melakukan promosi ke Nias. Karena itu, kami menduga tingginya minat mereka kemungkinan juga dipengaruhi oleh ajakan atau pengalaman positif kakak-kakak mereka yang lebih dahulu kuliah di sini,” ujarnya.
Ia menilai, pengalaman mahasiswa selama menjalani perkuliahan dan berinteraksi dengan teman-teman yang berbeda agama dapat menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan calon mahasiswa terhadap lingkungan kampus.
Hasrat mengatakan, mahasiswa non-Muslim merasa nyaman belajar dan berteman dengan mahasiswa Muslim. Mereka dapat menjalani aktivitas akademik bersama tanpa merasa dibedakan berdasarkan latar belakang agama.
“Mereka tertarik masuk ke FKM karena merasa happy berteman dengan mahasiswa Muslim. Tidak ada perundungan atau bullying. Mereka bisa bergaul dan belajar bersama dengan baik,” katanya.
Bagi Hasrat, kondisi tersebut mencerminkan nilai Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil alamin.Nilai-nilai keislaman, menurut dia, semestinya tidak hanya disampaikan melalui pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam menghormati perbedaan dan membangun hubungan sosial yang harmonis.
“Jadi, Islam di sini benar-benar rahmatan lil alamin,” ujarnya.
Aturan Berpakaian Mengedepankan Kesopanan
Hasrat juga menjelaskan bahwa kebijakan kampus dalam hal berpakaian bagi mahasiswa non-Muslim telah mengalami perubahan.
Jika sebelumnya terdapat kewajiban mengenakan jilbab bagi mahasiswa non-Muslim perempuan, kini kewajiban tersebut tidak lagi diberlakukan.
Menurut dia, mahasiswa non-Muslim cukup mengenakan pakaian yang sopan sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan kampus.
Perubahan tersebut, kata Hasrat, menunjukkan pentingnya menempatkan aturan berpakaian secara proporsional dengan tetap menghormati keyakinan masing-masing mahasiswa.
Kampus, lanjutnya, perlu menjadi ruang pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga membangun karakter, sikap saling menghormati, dan kemampuan hidup berdampingan di tengah masyarakat yang majemuk.
Peningkatan jumlah mahasiswa non-Muslim di FKM UINSU ini menjadi fenomena menarik bagi perguruan tinggi keagamaan Islam.
Kepercayaan mahasiswa dari latar belakang agama berbeda dapat tumbuh melalui pengalaman nyata ketika mereka merasa diterima, dihargai, dan memperoleh kesempatan belajar yang setara.
Pengalaman tersebut sekaligus sekaligus memperlihatkan bahwa kerukunan tidak cukup dibangun melalui slogan atau seruan toleransi. Kerukunan perlu hadir dalam interaksi sehari-hari, tercermin dalam kebijakan yang adil, serta dirasakan langsung oleh mahasiswa di lingkungan kampus.
Bagi FKM UINSU, bertambahnya mahasiswa non-Muslim bukan sekadar peningkatan jumlah peserta didik, melainkan juga momentum untuk terus memperkuat budaya akademik yang inklusif, menjunjung kemanusiaan, dan menghargai keberagaman.inilah yang disebut sebagai moderasi beragama, ucap Hasrat.
Reporter: A. Rasyid


