Setengah jam hujan saja cukup membuat tenggelam bukan hanya aspal, tapi juga harapan warga Deliserdang. Got yang penuh sampah dan drainase yang dibiarkan macet telah menjadikan rumah-rumah warga seperti perahu tanpa dayung saat air naik.
Lihatlah di kawasan Jalan Pasar 5 Tembung, kondisinya benar-benar memprihatinkan. Jangankan pada musim penghujan seperti ini, pada musim kemarau saja genangan air hitam dan berbau saja sudah melimpah. Warga sudah mengadu, menyampaikan aspirasi berulang kali ke anggota dewan, tapi apa tanggapan? Sunyi senyap seperti masjid yang ditinggalkan makmumnya.
Sementara itu, para wakil rakyat tampaknya tak pernah tenggelam. Gaji dan tunjangan mereka mengalir deras tiap bulan. Dalam sejumlah daerah, total penghasilan seorang anggota DPRD kabupaten bisa berkisar antara Rp36 juta hingga Rp45 juta per bulan, termasuk uang representasi, tunjangan komunikasi, perumahan, reses, transportasi, dan lainnya . Angka yang mencengangkan, jika dibanding dengan tokoh publik lain yang mengadu setiap bulan bahkan dengan kondisi gaji yang jauh lebih rendah.
Bagaimana wakil rakyat bisa diam ketika rakyatnya sedang terendam? Bukankah amanah itu seharusnya seperti pelampung yang memberi harapan, bukan sekadar kursi empuk di ruang ber-AC?
Kecamatan Percut Sei Tuan, termasuk desa-desa seperti Tembung, Lau Dendang, Sampali, Cinta Rakyat, dan Medan Estate termasuk wilayah paling sering diterjang banjir. Semua itu terjadi setelah hujan deras dan luapan sungai, yang menjadikan sedikitnya 10 desa di kecamatan ini digenangi air, dengan tinggi genangan mencapai 30–50 cm . Ratusan rumah rusak, dan tim BPBD serta URC camat hanya bisa mengimbau agar warga bergotong-royong, sebab penyelesaian struktural tak kunjung ada.
Kontrasnya, agenda anggota dewan lebih banyak soal rapat dan perjalanan dinas. Mungkin mereka lupa bahwa yang mereka wakili bukan papan nama, tetapi manusia yang rumahnya bisa tenggelam karena drainase kampung saja tak diperbaiki.
Dalam agama, amanah kepemimpinan itu bukan sembarang beban. Rasulullah Saw bersabda:
“Pemimpin yang menipu rakyatnya, sungguh Allah akan mengharamkan surga baginya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum



