Dari Akar hingga Ombak: Jejak yang Menjaga Kehidupan

Berita Terkait

Kabut pagi masih menggantung di lereng-lereng Danau Toba. Matahari belum sepenuhnya muncul, tetapi sinarnya mulai menyelinap di antara batang-batang pohon yang menjulang tinggi. Burung-burung bersahutan, sementara embun yang menempel di dedaunan perlahan jatuh ke tanah. Di balik kesunyian itu, hutan sebenarnya sedang bekerja. Akar-akar pohon menahan tanah agar tidak longsor, menyerap air hujan, lalu mengalirkannya ke mata air yang menghidupi sungai-sungai. Dari sanalah perjalanan kehidupan dimulai.

Air yang lahir di hulu akan terus mengalir melewati lembah, sawah, dan perkampungan sebelum akhirnya bertemu laut. Dalam perjalanan panjang itu, setiap tetes air membawa kehidupan bagi manusia, tumbuhan, dan satwa. Hutan dan pantai mungkin dipisahkan oleh jarak, tetapi sesungguhnya keduanya saling bergantung. Apa yang terjadi di hulu akan menentukan nasib di hilir.

Lalu, siapa yang menjaga perjalanan itu tetap berlangsung?

Pertanyaan tersebut semakin penting di tengah dunia yang menghadapi perubahan iklim, meningkatnya suhu bumi, berkurangnya tutupan hutan, serta kerusakan kawasan pesisir. Ketika pepohonan ditebang tanpa kendali, tanah kehilangan penyangga. Ketika sungai dipenuhi sedimen dan sampah, laut ikut menerima akibatnya. Pantai yang kehilangan vegetasi pelindung menjadi semakin rentan terhadap abrasi. Pada akhirnya, bukan hanya alam yang terdampak, tetapi juga kehidupan manusia yang bergantung padanya.

Kesadaran bahwa bumi harus dijaga tidak bisa lagi berhenti pada slogan. Ia harus diwujudkan melalui langkah nyata yang konsisten, melibatkan berbagai pihak, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus masyarakat. Di sinilah sebuah jejak mulai dibangun, bukan jejak yang meninggalkan kerusakan, melainkan jejak yang menghidupkan kembali alam.

Di kawasan operasional PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), komitmen itu perlahan tumbuh menjadi rangkaian aksi yang saling terhubung. Dari kawasan hutan di sekitar Danau Toba hingga wilayah pesisir Kabupaten Batu Bara, upaya konservasi dijalankan sebagai bagian dari tanggung jawab menjaga keberlanjutan lingkungan.

Direktur Strategic Support & Human Capital INALUM, Benny Wiwoho, menyampaikan bahwa konservasi merupakan bagian penting dari komitmen perusahaan dalam mewujudkan bisnis yang berkelanjutan. Melalui pelestarian lingkungan dan perlindungan keanekaragaman hayati, perusahaan berupaya menciptakan keseimbangan antara kegiatan industri dengan kelestarian alam agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat saat ini maupun generasi mendatang. Komitmen tersebut tidak berhenti pada pernyataan. Ia diwujudkan melalui kerja panjang yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan keterlibatan banyak orang.

Sejak tahun 2018 hingga 2025, INALUM telah melakukan rehabilitasi lahan melalui penanaman pohon di area seluas 1.934 hektare. Tahun 2025 menjadi langkah lanjutan dengan target rehabilitasi seluas 500 hektare. Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat ribuan lubang tanam, jutaan akar yang kelak mencengkeram tanah, dan harapan agar kawasan yang sempat kehilangan tutupan hijau dapat kembali menjalankan fungsinya sebagai penyangga kehidupan.

Menanam pohon memang terdengar sederhana. Namun, menjaga agar pohon-pohon itu tumbuh hingga dewasa adalah pekerjaan yang jauh lebih menantang.

Karena itu, INALUM membangun Pembibitan Modern Paritohan dengan kapasitas produksi mencapai 500.000 bibit setiap tahun. Ribuan bibit tersebut dipersiapkan secara bertahap sebelum ditanam di berbagai lokasi rehabilitasi.

Tidak hanya mengandalkan satu pusat pembibitan, perusahaan juga membentuk tiga Kebun Bibit Rakyat yang berada di Kabupaten Toba, Humbang Hasundutan, dan Simalungun. Ketiga kebun tersebut mampu menghasilkan sekitar 150.000 bibit setiap tahun.

Berbagai bibit seperti durian, alpukat, petai, jengkol, kopi, suren, pinus, hingga tanaman endemik Sumatera seperti kemenyan, suren, dan andaliman tumbuh berdampingan dengan fasilitas pendukung berupa biopori, sumur resapan, tanaman air, dan kolam penangkaran rusa. Kawasan ini menjadi bukti bahwa ruang konservasi dapat berfungsi lebih dari sekadar tempat menanam pohon. Ia menjadi ruang belajar bagi masyarakat tentang bagaimana alam bekerja, bagaimana air disimpan, dan bagaimana keberagaman hayati dapat terus dijaga agar tetap menjadi warisan bagi generasi berikutnya.

Konservasi yang berhasil tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pohon yang ditanam. Ia juga bergantung pada sejauh mana masyarakat merasa memiliki hutan tersebut. Atas dasar itu, INALUM menerapkan Metode Tani Nusantara dalam pengelolaan kawasan rehabilitasi. Pendekatan ini mengajak masyarakat mengelola lahan secara produktif tanpa menghilangkan fungsi ekologisnya. Pada tahun 2024, metode tersebut diterapkan di empat lokasi dengan luas delapan hektare dan diperluas pada tahun berikutnya.

Hasilnya menunjukkan bahwa konservasi tidak harus mengorbankan kesejahteraan masyarakat. Produktivitas pertanian meningkat hingga lebih dari tiga kali lipat setelah metode tersebut diterapkan. Pendapatan petani ikut bertambah, sementara kawasan hutan tetap terjaga.
Pelestarian lingkungan juga tidak dapat dilepaskan dari pendidikan. Menjaga bumi membutuhkan generasi yang memahami bahwa alam bukan warisan yang bisa dihabiskan, melainkan titipan yang harus dirawat.

Melalui Program Sekolah Peduli Lingkungan, sebanyak 41 sekolah tingkat SMP di sekitar wilayah operasional dilibatkan dalam berbagai kegiatan edukatif sejak tahun 2023 hingga 2025. Para siswa belajar membuat lubang resapan biopori, membangun rumah tanaman sederhana, melakukan penghijauan, hingga memahami hubungan antara aktivitas manusia dengan keberlanjutan lingkungan. Di tangan anak-anak itulah harapan masa depan perlahan ditanam.

Sementara itu, di tingkat masyarakat, INALUM membentuk sepuluh Kelompok Masyarakat Peduli Api. Kehadiran kelompok ini menjadi langkah penting dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan yang selama ini menjadi ancaman serius bagi ekosistem. Pencegahan dilakukan melalui pelatihan, sosialisasi, hingga kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi kebakaran.

Menjaga bumi bukan hanya tentang pepohonan.

Di balik rimbunnya hutan, terdapat ribuan makhluk hidup yang menjadi bagian dari keseimbangan alam. Mereka hidup berdampingan dengan tumbuhan, membentuk jaring kehidupan yang saling bergantung satu sama lain.

Melalui kegiatan pemetaan keanekaragaman hayati, INALUM melakukan identifikasi berbagai flora dan fauna yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan dengan mengacu pada daftar konservasi nasional maupun International Union for Conservation of Nature (IUCN). Berbagai tumbuhan khas Sumatera seperti kemenyan, sampinur, andaliman, suren, serta anturmangan dibudidayakan di Taman Keanekaragaman Hayati Paritohan.

Di kawasan yang sama, beragam satwa juga tercatat hidup berdampingan dengan manusia. Monyet ekor panjang masih terlihat beraktivitas di pepohonan. Burung perenjak jawa masih berkicau di sela semak. Bahkan, beberapa satwa yang memiliki status perlindungan seperti penyu hijau hingga ular king cobra menjadi bagian dari pemetaan tersebut.

Pendataan itu bukan sekadar mencatat nama spesies. Ia menjadi dasar dalam menentukan langkah-langkah perlindungan habitat agar setiap makhluk hidup tetap memiliki ruang untuk bertahan.

Perjalanan konservasi berlanjut menuju wilayah yang berbeda.

Jauh dari kawasan pegunungan, ombak memecah bibir Pantai Sejarah dan Pantai Perjuangan di Kabupaten Batu Bara. Angin laut bertiup membawa aroma garam, sementara garis pantai menjadi batas antara daratan dan samudra. Di tempat inilah upaya menjaga bumi kembali dilakukan.

Di Kabupaten Batu Bara, INALUM memperluas jejak pelestarian melalui Program Konservasi Ekosistem Maritim. Jika di kawasan hulu perusahaan berupaya mengembalikan tutupan hutan, maka di pesisir langkah yang dilakukan adalah memperkuat benteng alami berupa hutan mangrove. Vegetasi pesisir ini memiliki peran penting dalam menahan abrasi, menyerap karbon, menjadi tempat berkembang biaknya berbagai biota laut, sekaligus melindungi kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada hasil laut.

Melalui program unggulan Pohon Asuh, INALUM mengajak masyarakat, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk terlibat langsung dalam upaya adopsi dan penanaman mangrove. Sepanjang tahun 2025, sebanyak 15.000 bibit mangrove ditanam bersama masyarakat pesisir Kabupaten Batu Bara. Penanaman dilakukan di sejumlah titik, di antaranya bersama Kelompok Tani Hutan Lestari Pesisir di Dusun Kuala Sipare, Himpunan Masyarakat Nelayan Indonesia (HMNI) Kabupaten Batu Bara, serta Kelompok Tani Cinta Mangrove di Desa Perupuk.

Kolaborasi ini menunjukkan bahwa menjaga ekosistem pesisir bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau perusahaan, melainkan gerakan bersama yang melibatkan masyarakat sebagai penjaga pertama lingkungan tempat mereka hidup.

Keberadaan mangrove sesungguhnya merupakan penghubung terakhir dalam perjalanan air dari pegunungan menuju laut. Ketika hutan di hulu tetap hijau, sedimen yang terbawa sungai dapat dikendalikan. Ketika mangrove di pesisir tumbuh rapat, ombak tidak mudah mengikis daratan. Dari akar pohon di lereng Danau Toba hingga akar mangrove yang mencengkeram lumpur pantai, semuanya menjalankan peran yang sama: menjaga kehidupan agar tetap berlangsung.

Melalui rehabilitasi kawasan pesisir dan perlindungan spesies yang hidup di dalamnya, INALUM menunjukkan bahwa konservasi tidak berhenti di hulu. Apa yang dilakukan di hutan akan menentukan kesehatan laut. Sebaliknya, pantai yang terjaga akan menjadi benteng terakhir bagi kehidupan pesisir.

Ka Grup Layanan Strategis INALUM, Daniel Hutahuruk, menegaskan bahwa berbagai program konservasi yang dilakukan merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati. Menurutnya, manfaat dari upaya tersebut bukan hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam.

Pada akhirnya, bumi tidak mengingat seberapa banyak sumber daya yang berhasil diambil manusia. Bumi akan lebih mengingat seberapa besar usaha manusia untuk mengembalikan apa yang telah digunakannya.

Jejak yang sesungguhnya bukanlah bangunan yang menjulang atau mesin-mesin yang bekerja tanpa henti. Jejak yang akan dikenang adalah mata air yang tetap mengalir, hutan yang kembali hijau, burung yang masih memiliki tempat untuk bersarang, petani yang memperoleh penghidupan tanpa merusak alam, dan pantai yang tetap menjadi rumah bagi kehidupan laut.

Dari akar yang mencengkeram tanah hingga ombak yang menyentuh bibir pantai, semua saling terhubung dalam satu siklus kehidupan. Menjaga salah satunya berarti menjaga semuanya. Sebab bumi bukan sekadar tempat berpijak. Ia adalah rumah bersama. Dan setiap langkah kecil yang meninggalkan jejak kebaikan hari ini akan menjadi warisan yang tak ternilai bagi generasi yang datang kemudian.

 

Penulis: ZDS (Diperuntukkan untuk lomba)

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Ketika LLDIKTI Tidak Lagi Sekadar Mengurus Administrasi

Oleh : Haris Martondi Hasibuan, S.Sos. (Pengamat Sosial & Pendidikan) ADA cara sederhana untuk membaca sebuah kepemimpinan: melihat apa yang...