Jejak yang Bertumbuh untuk Masa Depan

Berita Terkait

Pagi itu, aktivitas di Rumah Pembibitan Modern Paritohan telah dimulai jauh sebelum matahari sepenuhnya meninggi. Di antara ribuan polybag yang tersusun rapi, bibit-bibit kemenyan, suren, andaliman, sampinur, sentul, hingga maja tampak tumbuh dengan ukuran yang beragam. Beberapa masih berupa daun muda yang rapuh, sementara yang lain telah memiliki batang yang cukup kokoh untuk dipindahkan ke kawasan rehabilitasi.

Di tempat itu, setiap bibit mendapat perlakuan yang sama. Kelembapan media tanam diperiksa, gulma dibersihkan, dan pertumbuhan tanaman dipantau setiap hari. Pekerjaan tersebut tampak sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan tahap paling awal dari sebuah proses panjang yang hasilnya baru akan dirasakan bertahun-tahun kemudian.

Konservasi memang tidak pernah menghasilkan perubahan secara instan. Sebatang pohon dapat ditebang hanya dalam hitungan menit, tetapi membutuhkan puluhan tahun untuk kembali menjalankan fungsi ekologisnya. Karena itulah, setiap bibit yang tumbuh di rumah pembibitan bukan sekadar calon pohon. Ia adalah investasi bagi masa depan bentang alam yang lebih lestari.

Kesadaran itu menjadi semakin penting ketika perubahan iklim menghadirkan tantangan yang tidak lagi dapat diabaikan. Dalam beberapa dekade terakhir, suhu bumi terus meningkat, pola curah hujan berubah, dan kejadian cuaca ekstrem semakin sering terjadi. Dampaknya terasa hingga ke kawasan hutan dan pesisir. Tutupan vegetasi yang berkurang menyebabkan kemampuan tanah menyerap air ikut menurun. Pada musim hujan, limpasan air meningkat dan memicu banjir maupun longsor. Sebaliknya, saat kemarau, cadangan air tanah semakin terbatas. Di wilayah pesisir, abrasi terus mengikis garis pantai, sementara ekosistem mangrove yang berfungsi sebagai pelindung alami menghadapi tekanan akibat aktivitas manusia.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan tidak pernah berdiri sendiri. Hutan, sungai, lahan pertanian, dan pesisir merupakan satu bentang ekosistem yang saling terhubung. Ketika kawasan hulu kehilangan tutupan vegetasi, sedimen akan terbawa menuju sungai dan bermuara di laut. Akibatnya, kualitas ekosistem pesisir ikut menurun. Sebaliknya, ketika kawasan hulu dipulihkan, manfaatnya akan dirasakan hingga ke wilayah hilir. Inilah alasan mengapa konservasi harus dipahami sebagai upaya menjaga keterhubungan seluruh sistem kehidupan, bukan sekadar menanam pohon.

Pemahaman tersebut menjadi dasar berbagai program rehabilitasi yang dilakukan secara berkelanjutan. Upaya konservasi diawali dari penyediaan bibit berkualitas melalui Rumah Pembibitan Modern yang memiliki kapasitas produksi sekitar 500.000 bibit setiap tahun. Produksi tersebut diperkuat oleh tiga Kebun Bibit Rakyat di Kabupaten Toba, Humbang Hasundutan, dan Simalungun dengan kapasitas sekitar 150.000 bibit per tahun. Keterlibatan masyarakat dalam proses pembibitan menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan tidak mungkin berhasil jika hanya mengandalkan satu pihak. Konservasi membutuhkan kolaborasi, mulai dari tahap penyemaian hingga pemeliharaan kawasan yang telah direhabilitasi.

Jenis tanaman yang dibudidayakan pun bukan dipilih secara acak. Kemenyan, andaliman, suren, sampinur, sentul, anturmangan, dan maja merupakan spesies yang telah lama menjadi bagian dari ekosistem Sumatra Utara. Selain memiliki nilai ekologis yang tinggi, tanaman-tanaman tersebut mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat sehingga peluang hidupnya lebih besar ketika ditanam di kawasan rehabilitasi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga pada kesesuaian spesies dengan karakter ekosistemnya.

Komitmen tersebut kemudian diwujudkan melalui rehabilitasi kawasan yang telah berlangsung sejak 2018. Hingga 2025, luas area yang dipulihkan mencapai sekitar 1.934 hektare dan terus diarahkan untuk mencapai target rehabilitasi yang lebih luas. Angka tersebut mungkin hanya terlihat sebagai statistik dalam sebuah laporan. Namun di balik setiap hektare yang dipulihkan terdapat ribuan pohon yang kelak akan menyerap karbon, memperbaiki struktur tanah, menjaga siklus hidrologi, serta menyediakan habitat bagi berbagai jenis satwa liar.

Direktur Strategic Support & Human Capital INALUM, Benny Wiwoho, menegaskan bahwa pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya bertujuan menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat dan generasi mendatang. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa konservasi bukan sekadar memenuhi target penanaman, melainkan memastikan alam tetap mampu menjalankan fungsi-fungsi ekologisnya sebagai penopang kehidupan.

Di sinilah konservasi menemukan makna yang sesungguhnya. Keberhasilannya tidak diukur dari banyaknya bibit yang ditanam pada satu musim, tetapi dari kemampuan alam untuk kembali menjalankan perannya. Ketika mata air tetap mengalir pada musim kemarau, ketika tanah kembali subur, ketika burung dan satwa liar menemukan habitatnya, serta ketika masyarakat memperoleh manfaat tanpa merusak lingkungan, saat itulah konservasi benar-benar bekerja.

Perjalanan itu memang panjang. Namun setiap perjalanan besar selalu dimulai dari langkah pertama. Dalam konservasi, langkah pertama tersebut sering kali hadir dalam bentuk yang paling sederhana: sebuah benih yang disemai dengan keyakinan bahwa suatu hari nanti ia akan tumbuh menjadi pohon yang menjaga kehidupan.

Memulihkan Ekosistem, Bukan Sekadar Menanam Pohon

Banyak orang menganggap bahwa keberhasilan konservasi dapat diukur dari banyaknya pohon yang berhasil ditanam. Padahal, dalam perspektif ekologi, pohon hanyalah salah satu unsur pembentuk hutan. Sebuah ekosistem dikatakan pulih ketika hubungan antara tanah, air, tumbuhan, satwa liar, dan manusia kembali berjalan secara seimbang.

Karena itu, rehabilitasi kawasan tidak pernah dimulai dengan menanam bibit secara acak. Tahap pertama justru diawali dengan memahami karakter kawasan yang akan dipulihkan. Jenis tanah, ketersediaan air, kondisi topografi, hingga keberadaan flora dan fauna menjadi pertimbangan penting sebelum menentukan spesies yang akan ditanam. Pendekatan ini bertujuan agar vegetasi yang tumbuh mampu beradaptasi dengan lingkungan sekaligus mengembalikan fungsi ekologis kawasan.

Prinsip tersebut terlihat dari pemilihan tanaman yang dibudidayakan di rumah pembibitan. Kemenyan, suren, andaliman, sampinur, sentul, anturmangan, dan maja bukan sekadar tanaman lokal yang dikenal masyarakat Sumatra Utara. Masing-masing memiliki peran ekologis yang berbeda. Kemenyan, misalnya, membantu menjaga tutupan hutan dataran tinggi sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Andaliman tidak hanya menjadi rempah khas Batak, tetapi juga merupakan bagian dari kekayaan genetik yang perlu dipertahankan. Sementara suren dikenal sebagai tanaman yang mampu memperbaiki kualitas tanah sekaligus menjadi habitat bagi berbagai jenis satwa.

Pemilihan spesies lokal memiliki alasan ilmiah yang kuat. Tanaman endemik telah beradaptasi selama ratusan bahkan ribuan tahun dengan kondisi lingkungan setempat. Mereka tumbuh bersama mikroorganisme tanah, menjadi sumber pakan bagi satwa tertentu, serta memiliki pola pertumbuhan yang sesuai dengan iklim di wilayahnya. Ketika spesies tersebut hilang, yang hilang bukan hanya satu jenis tumbuhan, melainkan juga hubungan ekologis yang telah terbentuk secara alami.

Atas dasar itu, konservasi tidak hanya berfokus pada vegetasi. Berbagai kegiatan inventarisasi dan pemetaan keanekaragaman hayati dilakukan untuk mengetahui kondisi ekosistem secara menyeluruh. Melalui pemetaan tersebut, dapat diketahui spesies yang masih bertahan, jenis yang mulai mengalami penurunan populasi, serta kawasan yang membutuhkan perlindungan lebih intensif.

Pendekatan berbasis data seperti ini menjadi ciri penting konservasi modern. Keputusan tidak lagi dibuat berdasarkan perkiraan, melainkan berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Dengan demikian, setiap langkah rehabilitasi memiliki tujuan yang jelas dan peluang keberhasilannya menjadi lebih tinggi.

Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa kawasan konservasi masih menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna yang memiliki nilai ekologis tinggi. Beragam tanaman endemik tetap tumbuh di kawasan tersebut, sementara sejumlah satwa seperti monyet ekor panjang, berbagai jenis burung, hingga reptil masih dapat dijumpai di habitat alaminya. Kehadiran satwa tersebut menjadi indikator bahwa sebagian fungsi ekosistem masih bertahan dan perlu terus dijaga melalui upaya konservasi yang berkelanjutan.

Dalam ilmu ekologi terdapat istilah indicator species, yaitu spesies yang keberadaannya mencerminkan kualitas suatu lingkungan. Semakin beragam jenis tumbuhan dan satwa yang mampu bertahan, semakin besar peluang suatu ekosistem menjalankan fungsinya secara normal. Sebaliknya, hilangnya satu spesies sering kali menjadi tanda awal terganggunya keseimbangan alam. Oleh sebab itu, menjaga keanekaragaman hayati memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar mempertahankan jumlah spesies.

Upaya tersebut diperkuat melalui pengembangan Ruang Terbuka Hijau Keanekaragaman Hayati (Taman Kehati) Paritohan. Kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang hijau, tetapi juga menjadi pusat edukasi sekaligus laboratorium konservasi. Berbagai tanaman lokal dibudidayakan dalam satu kawasan sehingga masyarakat dapat mengenal kekayaan flora daerahnya secara langsung.

Lebih dari itu, Taman Kehati menunjukkan bahwa konservasi tidak hanya berbicara tentang pohon. Di dalamnya terdapat berbagai fasilitas yang mendukung pemulihan fungsi lingkungan, seperti biopori, sumur resapan, kolam ikan, area pembelajaran, hingga penangkaran rusa. Seluruh elemen tersebut dirancang untuk memperlihatkan bahwa setiap komponen ekosistem saling berkaitan dan saling mendukung.

Keberadaan biopori dan sumur resapan, misalnya, memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga siklus hidrologi. Ketika air hujan mampu meresap ke dalam tanah, cadangan air tanah akan meningkat sehingga mata air tetap mengalir meskipun memasuki musim kemarau. Sebaliknya, apabila seluruh permukaan tanah tertutup oleh bangunan atau kehilangan vegetasi, air hujan akan langsung mengalir di permukaan dan meningkatkan risiko banjir.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa konservasi sesungguhnya merupakan investasi untuk ketahanan lingkungan. Pohon yang ditanam hari ini tidak hanya memberikan manfaat berupa udara yang lebih bersih, tetapi juga membantu menjaga ketersediaan air, mengurangi erosi, menstabilkan iklim mikro, serta menyediakan habitat bagi berbagai organisme yang berperan menjaga keseimbangan alam.

Kepala Grup Layanan Strategis INALUM, Daniel Hutahuruk, menegaskan bahwa berbagai program konservasi dijalankan secara berkelanjutan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati. Menurutnya, keberhasilan konservasi bukan hanya diukur dari dampaknya terhadap kawasan yang dipulihkan, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat di sekitarnya. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa konservasi tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan manusia. Ekosistem yang sehat akan memberikan air yang lebih baik, tanah yang lebih subur, serta ruang hidup yang lebih aman bagi masyarakat.

Pemahaman inilah yang menjadi dasar bahwa konservasi tidak berhenti pada kegiatan penghijauan. Menanam pohon merupakan langkah awal, sedangkan tujuan akhirnya adalah mengembalikan kemampuan alam untuk menopang kehidupan secara berkelanjutan. Ketika fungsi-fungsi ekologis tersebut pulih, manfaatnya akan mengalir jauh melampaui kawasan tempat pohon itu ditanam.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan konservasi bukan diukur dari seberapa banyak pohon yang tumbuh, melainkan dari seberapa banyak kehidupan yang berhasil dipertahankan.

Dari Hutan hingga Pantai: Konservasi sebagai Gerakan Bersama

Hutan yang pulih tidak hanya menghadirkan pepohonan yang kembali menghijau. Dampaknya menjalar jauh melewati batas kawasan rehabilitasi, mengikuti aliran air yang menghubungkan pegunungan, sungai, lahan pertanian, hingga pesisir. Karena itu, keberhasilan konservasi tidak pernah berhenti di lokasi penanaman. Ia baru dapat dikatakan berhasil ketika manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Hubungan tersebut menjadi dasar pendekatan konservasi berbasis bentang alam (landscape approach). Dalam pendekatan ini, hutan, pertanian, permukiman, dan kawasan pesisir dipandang sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling memengaruhi. Kerusakan di satu wilayah akan memberikan dampak pada wilayah lain, demikian pula keberhasilan pemulihan akan menghasilkan manfaat yang mengalir ke berbagai sektor kehidupan.

Pemahaman inilah yang kemudian melahirkan berbagai program pemberdayaan masyarakat. Konservasi tidak lagi diposisikan sebagai kegiatan yang membatasi aktivitas masyarakat, tetapi sebagai upaya menciptakan keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan.

Salah satu contohnya adalah penerapan metode Tani Nusantara. Program ini memperkenalkan praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan kondisi alami lahan serta mengurangi ketergantungan terhadap pola budidaya yang dapat menurunkan kualitas tanah. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa menjaga lingkungan tidak harus mengorbankan produktivitas. Sebaliknya, ketika tanah dikelola dengan baik, unsur hara tetap terjaga, kemampuan menyimpan air meningkat, dan hasil panen justru mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil penerapan di lapangan, produktivitas pertanian bahkan mampu meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan metode sebelumnya.

Fakta tersebut menjadi pengingat bahwa keberlanjutan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan. Alam yang sehat justru menjadi fondasi bagi pembangunan yang berkelanjutan. Tanah yang subur menghasilkan panen yang lebih baik, hutan yang lestari menjaga ketersediaan air bagi pertanian, dan ekosistem yang seimbang memberikan perlindungan terhadap berbagai risiko bencana.

Konservasi juga tidak dapat dipisahkan dari upaya mengurangi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Setiap musim kemarau, kebakaran menjadi salah satu penyebab utama hilangnya tutupan vegetasi sekaligus melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar ke atmosfer. Kerusakan yang ditimbulkan tidak hanya menghilangkan pohon, tetapi juga menghancurkan habitat satwa, menurunkan kualitas tanah, serta mengganggu kehidupan masyarakat.

Menyadari pentingnya pencegahan, dibentuk sepuluh Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di berbagai desa sekitar kawasan konservasi. Kelompok ini berperan sebagai garda terdepan dalam melakukan patroli, sosialisasi, serta deteksi dini terhadap potensi kebakaran. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perlindungan hutan tidak cukup mengandalkan teknologi ataupun aparat. Keberhasilannya sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat yang setiap hari hidup berdampingan dengan kawasan hutan.

Dalam konservasi modern, pencegahan selalu lebih bernilai daripada pemulihan. Satu kebakaran yang berhasil dicegah berarti menyelamatkan ribuan pohon yang tidak perlu ditanam kembali. Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa masyarakat bukan lagi objek program, melainkan mitra utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Semangat konservasi tidak berhenti di kawasan rehabilitasi maupun rumah pembibitan. Nilai-nilai tersebut terus mengalir hingga ke ruang-ruang kelas, tempat generasi penerus mulai mengenal bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar materi pelajaran, melainkan kebiasaan yang harus dibangun sejak dini. Sebanyak 41 sekolah terlibat dalam program pendidikan lingkungan yang mengajak peserta didik untuk berinteraksi langsung dengan alam melalui penanaman pohon, pembuatan biopori, pengelolaan sampah, hingga pemanfaatan lahan sekolah sebagai ruang belajar terbuka.

Di salah satu sekolah di Kabupaten Deli Serdang, semangat itu tumbuh melalui tangan-tangan kecil para siswa yang setiap pekan merawat tanaman di halaman sekolah. Bersama Ridho Affandi Simanungkalit, guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SMP IT Ali bin Abi Thalib, mereka tidak hanya belajar mengenal jenis-jenis tumbuhan di dalam kelas, tetapi juga mempraktikkan cara menanam, merawat, dan memanen hasilnya. Bibit-bibit yang ditanam berkembang menjadi tanaman buah dan sayuran yang kemudian dapat dinikmati bersama oleh seluruh warga sekolah. Bagi Ridho, hasil panen bukanlah tujuan utama. Yang jauh lebih penting adalah menumbuhkan kesadaran bahwa setiap tanaman yang dirawat akan memberikan manfaat bagi kehidupan.

“Program ini merupakan program unggulan di sekolah kami. Mengajarkan anak-anak menanam pohon adalah bagian penting untuk menjaga keberlangsungan kehidupan. Kami memulainya dari pembelajaran di kelas, lalu mempraktikkannya langsung di halaman sekolah agar menjadi kebiasaan baik bagi peserta didik. Harapannya, mereka tumbuh menjadi generasi yang lebih mencintai alam, karena pada dasarnya kita hidup dari alam,” ujarnya.

Bagi Ridho, konservasi tidak cukup diajarkan melalui buku pelajaran. Anak-anak perlu merasakan sendiri bagaimana benih yang mereka tanam perlahan tumbuh, bagaimana tanaman membutuhkan air dan perawatan, hingga akhirnya menghasilkan buah yang dapat dipanen bersama. Pengalaman tersebut membentuk pemahaman bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dimanfaatkan, tetapi ruang hidup yang harus dijaga bersama.

Komitmen itu terus dipelihara melalui berbagai kegiatan rutin di sekolah. Setiap tahun, para siswa kembali menanam bibit baru sebagai bagian dari program penghijauan. Selain itu, seluruh warga sekolah juga mengikuti kegiatan “Jumat Bersih” dengan membersihkan lingkungan sekolah dan sekitarnya. Menurut Ridho, kebiasaan sederhana tersebut merupakan cara efektif menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.

“Kegiatan ini kami lakukan setiap tahun. Selain penanaman pohon, kami juga memiliki program Jumat Bersih yang melibatkan seluruh warga sekolah untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kami ingin anak-anak memahami bahwa mencintai alam bukan hanya dengan menanam pohon, tetapi juga dengan merawat lingkungan di sekitar mereka. Harapan saya, kebiasaan seperti ini tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga diterapkan di rumah dan di lingkungan tempat tinggal masing-masing.”

Apa yang dilakukan Ridho dan para siswanya menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya tentang memulihkan hutan atau menanam mangrove di pesisir. Konservasi juga tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Ketika seorang anak belajar menyiram tanaman setiap pagi, memungut sampah tanpa diminta, atau bangga memanen sayuran hasil tanamannya sendiri, pada saat itulah benih kepedulian terhadap lingkungan mulai tumbuh. Kesadaran seperti inilah yang menjadi fondasi penting bagi lahirnya generasi yang mampu menjaga bumi dengan cara yang sederhana, tetapi berkelanjutan.

Langkah tersebut memiliki arti yang sangat penting. Dalam berbagai penelitian, pendidikan lingkungan sejak usia dini terbukti mampu membentuk perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap alam. Anak-anak yang terbiasa berinteraksi dengan lingkungan akan tumbuh dengan kesadaran bahwa menjaga alam bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Generasi muda inilah yang kelak akan mengambil keputusan-keputusan penting mengenai pembangunan, pengelolaan sumber daya alam, dan arah kebijakan lingkungan. Oleh karena itu, menanamkan nilai konservasi kepada mereka sama pentingnya dengan menanam pohon di kawasan rehabilitasi. Pohon membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh besar, demikian pula kesadaran manusia.

Perjalanan konservasi kemudian berlanjut hingga ke wilayah pesisir. Jika hutan menjadi penyangga kehidupan di kawasan hulu, maka mangrove memegang peranan yang sama pentingnya di kawasan pantai. Ekosistem mangrove berfungsi menahan abrasi, meredam energi gelombang, menangkap sedimen, sekaligus menjadi tempat berkembang biak berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir.

Di tengah ancaman perubahan iklim dan kenaikan muka air laut, keberadaan mangrove semakin penting. Selain melindungi garis pantai, mangrove juga dikenal sebagai salah satu ekosistem dengan kemampuan menyimpan karbon yang sangat tinggi. Kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon menjadikan mangrove sebagai bagian penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

Oleh karena itu, rehabilitasi mangrove tidak dipandang sebagai kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai kelanjutan dari upaya menjaga keseimbangan bentang alam. Hutan yang terjaga di kawasan hulu akan menghasilkan aliran air dan sedimen yang lebih baik bagi kawasan hilir, sementara mangrove yang sehat akan melindungi wilayah pesisir dari ancaman abrasi dan gelombang.

Rangkaian upaya tersebut memperlihatkan bahwa konservasi sesungguhnya merupakan sebuah perjalanan yang utuh. Ia dimulai dari benih yang disemai di rumah pembibitan, tumbuh menjadi pohon di kawasan hutan, menjaga air yang mengalir ke lahan pertanian, melindungi sungai yang bermuara ke laut, hingga berakhir pada mangrove yang mempertahankan garis pantai. Setiap tahapan saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Pada akhirnya, konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan alam. Konservasi adalah upaya menjaga ruang hidup agar tetap mampu menopang kehidupan manusia hari ini sekaligus memberikan warisan yang layak bagi generasi yang akan datang.

 

Penulis: ZDS

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Ketika LLDIKTI Tidak Lagi Sekadar Mengurus Administrasi

Oleh : Haris Martondi Hasibuan, S.Sos. (Pengamat Sosial & Pendidikan) ADA cara sederhana untuk membaca sebuah kepemimpinan: melihat apa yang...