Bupati Bicara tentang Membangun Peradaban di Deliserdang

Berita Terkait

Ada satu kalimat menarik dari Bupati Deliserdang, dr. Asri Ludin Tambunan, ketika bertandang ke dapur redaksi Mimbar Umum. Ia bilang, “Saya ingin membangun peradaban di Deliserdang.” Kalimat yang sederhana, tetapi sarat makna.

Bupati menegaskan, pembangunan fisik semata tidak cukup. Jalan, gedung, atau jembatan bisa selesai dalam hitungan tahun. Namun, jika mental masyarakatnya tetap rapuh, hasil pembangunan itu akan cepat kehilangan arti. Ia tak ingin pembangunan hanya sebatas proyek instan, apalagi pencitraan. Yang ia dambakan adalah pembangunan yang terencana, matang, dan terintegrasi, bukan sporadis.

Ia mencontohkan pengalaman masa lalu. Jalan dibangun tanpa memikirkan drainase. Aspal tampak mulus sesaat, lalu hancur ketika musim hujan datang. Pembangunan yang tidak terintegrasi hanya melahirkan kerja berulang, menguras anggaran tanpa memberikan manfaat jangka panjang. Karena itu, kini ia memastikan 552 kilometer jalan utama yang menghubungkan kecamatan dan kabupaten harus dibangun dengan konsep yang utuh. Ada drainase, ada tata ruang, ada arah

Namun, membangun peradaban tidak berhenti pada aspal dan beton, tetapi perlu juga membangun mental aparatur sipil negara di lingkungannya. ASN yang bekerja bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi memiliki jiwa melayani. Sebab tanpa mental pelayanan yang kuat, sebesar apa pun fasilitas dibangun, hasilnya tak akan terasa. Jalan bisa mulus, tetapi birokrasi tetap berbelit. Gedung bisa tinggi, tetapi warga tetap dipersulit.

Di sinilah tantangan besar itu. Sebab sebagian wajah birokrasi Deliserdang hari ini masih menyisakan keluhan. Warga kerap merasa urusan administrasi lamban, pelayanan publik tidak konsisten, bahkan ada yang masih harus “mengetuk pintu” agar urusannya cepat selesai. Jika ini tidak dibenahi, istilah peradaban akan terasa menggantung. Hanya indah di ucapan, tapi rapuh dalam kenyataan.

Inilah makna “peradaban” yang sesungguhnya: sinkron antara fisik dan jiwa, antara infrastruktur dan kultur. Deliserdang memang butuh jalan yang baik, tapi juga butuh masyarakat yang disiplin menjaga kebersihan. Butuh pasar yang tertata, tapi juga butuh pedagang yang jujur. Butuh ASN yang cekatan, tapi juga butuh pemimpin yang

Bupati Deliserdang Bicara Kemacetan Tembung dan Harapan Baru

 Dokter Aci Rencanakan Ruang Aman untuk Anak Deliserdang

Apresiasi patut diberikan. Tidak semua kepala daerah berani menyebut pembangunan sebagai proyek peradaban. Sebab istilah itu menuntut kerja lebih panjang dari sekadar masa jabatan lima tahun. Ia menuntut arah, kesabaran, dan kesinambungan. Namun, yang juga perlu dijaga adalah konsistensi. Jangan sampai jargon “membangun peradaban” sekadar jadi mantera politik yang pudar usai jabatan berakhir. Peradaban sejati menuntut keberanian mengambil keputusan sulit, menghindari proyek asal jadi, dan memastikan anggaran tidak bocor di tengah jalan.

Islam sendiri menempatkan pembangunan peradaban sebagai kerja mulia. Allah berfirman:

“Dialah yang menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS. Hud [11]: 61)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia diberi mandat bukan hanya untuk membangun, tetapi memakmurkan bumi. Memakmurkan artinya membangun dengan akal sehat, hati yang jernih, dan tujuan yang berjangka panjang.

Jika Deliserdang sungguh-sungguh menempuh jalan itu, maka apa yang kini disebut sebagai pembangunan jalan dan drainase akan menjadi pijakan kecil menuju peradaban yang lebih besar. Peradaban di mana warganya bukan hanya memiliki fasilitas, tapi juga memiliki mentalitas untuk menjaganya.

Tinggalkan Balasan

spot_img
spot_img

Berita Pilihan

Hukuman Mati untuk Koruptor, Benarkah Membuat Mereka Takut?

Kita sudah berbicara tentang bagaimana negara ingin memiliki kewenangan yang lebih kuat untuk mengejar dan merampas harta hasil kejahatan....