Di Medan, banjir sudah seperti tamu tetap yang datang tanpa diundang. Setiap musim hujan, ia mampir di jalan-jalan utama, di gang sempit, bahkan di hati warga yang sudah lelah menunggu perubahan. Tapi ada satu hal lain yang tak kalah rutin datang bersamanya yakni anggaran.
Setiap genangan air, ada gelontoran uang yang mengalir dari kas daerah dengan nama yang tampak mulia: penanganan banjir.
Angka-angka itu tidak kecil. Dalam tiga tahun terakhir, Pemerintah Kota Medan mengalokasikan lebih dari seratus miliar rupiah untuk urusan air yang tak pernah surut. Tahun demi tahun, anggaran bertambah, tapi banjir tak juga berkurang. Jika logika pembangunan masih berlaku, seharusnya penambahan anggaran berarti pengurangan genangan. Namun di Medan, rumus itu terbalik. Makin besar uang yang digelontorkan, makin luas air yang menggenang.
Ironi itu membuat warga bertanya-tanya, apakah yang mengalir di kota ini benar-benar air hujan, atau justru anggaran yang hanyut ke tempat yang tak semestinya? Di setiap proyek pengendalian banjir, ada kontraktor yang tersenyum, papan proyek yang berdiri gagah, dan laporan kemajuan yang selalu “sesuai target”. Namun begitu langit menumpahkan hujan, target itu lenyap disapu arus.
Banjir memang musibah bagi warga, tapi bagi sebagian orang, ia berkah yang datang rutin setiap tahun anggaran. Setiap genangan adalah dalih untuk proyek baru. Parit digali ulang, beton dipasang, kolam retensi dibangun. Tentu semua dengan nilai miliaran. Tapi ketika air meluap kembali, yang disalahkan adalah alam, bukan mereka yang tak pernah belajar dari genangan yang sama.
Beginilah wajah banal pembangunan di Medan, dimana proyek penanganan banjir menjadi ritual tahunan, bukan solusi permanen. Ia lebih mirip “industri air”, di mana setiap hujan adalah momentum bisnis. Bagi warga, air itu dingin dan menyulitkan. Bagi segelintir orang, air itu hangat, sebab di dalamnya ada peluang, ada kontrak, ada persentase yang tak tercatat di laporan akhir.
Namun, dalam pandangan Islam, amanah adalah hal yang suci. Rasulullah bersabda: “Apabila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran.” (HR. Bukhari). Banjir di kota ini sejatinya bukan hanya urusan drainase yang tersumbat, tapi juga amanah yang bocor. Saat jabatan dijadikan ladang, dan proyek lebih diutamakan dari tanggung jawab, maka murka Allah turun bukan dalam bentuk petir, tapi dalam bentuk ketidakberesan yang menahun.
Warga yang saban tahun harus menimba air dari ruang tamu mungkin tak sadar sedang menjadi saksi kecil dari hilangnya barakah. Sebab, kezaliman yang dibiarkan akan menjadi banjir yang lebih dahsyat yakni dosa yang meluas. Dan selama banjir masih bisa jadi proyek, selama penderitaan masih bisa jadi anggaran, maka Medan akan terus basah bukan karena hujan, tapi karena nurani yang tak lagi kering oleh kejujuran.
Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum


