Antara Wisata dan Investasi

Pagi Medan!

Senang kaleee laaa hati awak saat baca berita kalo Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku siap mengucurkan dana sebesar Rp3,5 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk mengembangkan pariwisata di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara.

Apalagi dia menginginkan kawasan Danau Toba menjadi destinasi wisata berkelas. Sebelumnya, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono juga menyatakan, pihaknya telah mengalokasikan anggaran pembangunan infrastruktur untuk pengembangan KSPN Danau Toba sebesar Rp 2,4 triliun tahun 2020, lebih besar dari tahun 2019 yang hanya Rp 821,3 miliar.

Setau awak dari literatur yang pernah awak baca, danau Toba adalah danau alami berukuran besar di Indonesia yang berada di kaldera Gunung Berapi Super. Danau ini memiliki panjang 100 kilometer, lebar 30 kilometer, dan kedalaman 1600 meter. Danau ini terletak di tengah pulau Sumatra bagian utara dengan ketinggian permukaan sekitar 900 meter. Indah dan spektakuler laaa pokoknya.

Nah melihat dua hal di atas tadi, awak jadi agak tersedak siket saat melihat kenyataan di berita lain. Masih banyak hal yang belom selesai di danau tu. Antara menjadikannya sebagai destinasi wisata atau destinasi investasi. Pasalnya dua hal itu ada di kawasan danau. Ini akan bersinggungan dengan kepentingan dan kehidupan masyarakat lokalnya.

Itu belum lagi dengan permasalahan lahan. Sama-sama diketahui kalau kawasan danau didiami masyarakat yang memiliki adat istiadat yang kuat dengan sejarah panjang tentang hak ulayatnya.

Menurut kawan awak bang Ferry Sitepu yang pakar tanah ulayat, hal itu bisa menjadi pemicu masalah yang berkepanjangana nantinya. Karena itu, ahli hukum yang sedang diajukan masyarakat Bali untuk bisa jadi pejabat tertinggi bidang agraria di pemerintahan Jokowi ini, menganggap perlu pendekatan holistik dan lebih mengakar pada budaya masyarakat setempat.untuk menjelaskan status lahan.

Dengan pendekatan yang lebih manusiawi, dia yakin kalo masa keemasan DTW Danau Toba era 80-an. Padahal waktu itu kalau dibanding saat ini kondisinya jauh lebih sulit, acem bang bos awak Efendy Naibaho?

Jalanan kecil dan tidak mulus, penginapan dan penunjang wisata lainnya pon kurang. Tapi jangan coba menghitung jumlah tamu asing yang lalu lalang di kawasan danau itu dan membandingkannya dengan saat ini. Dimana kebijakan dan anggaran menggelontor ke kawasan danau.

Saat ini masyarakat dan turis yang datang ke sana bagai mendua, mau berwisata dan berusaha di perairan dan kawasan danau nan indah. Acem bang bos awak Shohibul Anshor Siregar?