Ancaman Proxy War dan Disinformasi Menguat, Nusantara Youth Institute Soroti Kesiapan Siber Indonesia

Berita Terkait

mimbarumum.co.id — Ancaman perang siber dan serangan disinformasi dinilai semakin serius mengancam stabilitas nasional. Kondisi itu menjadi sorotan dalam Diskusi Publik Nasional yang digelar Nusantara Youth Institute bertajuk “Kesiapan Indonesia dalam Menghadapi Perang Siber: Antara Proxy War dan Serangan Disinformasi” di Aula Lantai 3 Kelurahan Rawabunga, Jakarta Timur, Sabtu (16/5/2026).

Diskusi tersebut menghadirkan unsur pemerintah, militer, akademisi, mahasiswa, hingga komunitas digital untuk membahas kesiapan Indonesia menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.

Direktur Eksekutif Nusantara Youth Institute, Lingga Pangayumi Nasution, mengatakan perang siber saat ini bukan lagi ancaman masa depan, melainkan sudah menjadi bagian dari dinamika global yang nyata.

“Serangan digital tidak hanya menyasar sistem teknologi, tetapi juga opini publik dan persatuan masyarakat melalui disinformasi,” ujarnya saat memoderatori diskusi.

Dalam forum itu, Kepala BPSDM Komdigi Bonifasius Wahyu Pudjianto yang diwakili Bambang Tri Santoso mengungkapkan Indonesia kini memiliki lebih dari 230 juta pengguna internet dan 180 juta pengguna media sosial. Namun, kemampuan masyarakat dalam memverifikasi informasi dinilai masih rendah.

Ia menilai hoaks dan propaganda digital dapat memicu perpecahan sosial hingga mengganggu stabilitas pemerintahan jika tidak diantisipasi secara serius.

Sementara itu, Komandan Satuan Siber TNI Brigjen TNI Juintah Omboh Sembiring yang diwakili Kolonel Laut (E) Fajar Agung Sutrisno menegaskan perang siber kini menjadi bagian dari strategi hybrid warfare modern.

“Ancaman siber saat ini bukan hanya soal peretasan, tetapi juga operasi psikologis dan manipulasi opini publik,” katanya.

Ia juga menyoroti meningkatnya serangan terhadap infrastruktur digital nasional dalam beberapa tahun terakhir, termasuk kasus serangan terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS).

Dalam kesempatan tersebut, TNI juga membuka peluang bagi generasi muda yang memiliki kemampuan di bidang teknologi dan keamanan siber untuk bergabung melalui jalur khusus prajurit siber.

Diskusi berlangsung interaktif dengan tingginya antusiasme peserta yang menyoroti pentingnya kolaborasi pemerintah, akademisi, komunitas, media, dan sektor swasta dalam memperkuat ketahanan siber nasional.

Nusantara Youth Institute berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran publik terhadap ancaman perang siber dan mendorong lahirnya rekomendasi strategis bagi penguatan keamanan digital Indonesia di masa depan.

Reporter: Ngatirin/rel

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

BPS dan Bank Dunia Jelaskan Perbedaan Angka Kemiskinan Indonesia, Bukan Berarti Kondisi Makin Miskin

mimbarumum.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Bank Dunia memberikan penjelasan terkait perbedaan angka kemiskinan Indonesia yang menggunakan garis kemiskinan...