Dituduh Penipu Saat Edukasi QRIS, Tesalonika Tetap Semangat Mengedukasi UMKM

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Mengedukasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tentang pembayaran digital ternyata tidak selalu mudah. Ada pedagang yang menyambut dengan baik, tetapi ada pula yang menolak, memaki, bahkan menuduh tim edukasi sebagai penipu. Situasi seperti inilah yang dihadapi Tesalonika R.M. Panggabean bersama timnya saat memperkenalkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) kepada pelaku usaha.

Bagi Tesalonika, pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya mengikuti perkembangan pembayaran digital. Ia merupakan peraih juara I QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026 tingkat Sumatera Utara. Bersama timnya, ia turun langsung menemui pelaku UMKM dengan menyesuaikan pendekatan komunikasi berdasarkan situasi di lapangan.

Menurut Tesalonika, edukasi QRIS penting untuk membantu pelaku UMKM memahami kebutuhan konsumen yang menggunakan pembayaran nontunai. Ketersediaan QRIS dapat menjadi salah satu pilihan pembayaran bagi konsumen yang tidak membawa uang tunai.

“UMKM harus diedukasi QRIS biar mereka bisa dijangkau oleh banyak orang. Karena anak muda itu sering enggak punya uang cash, jadi mereka sering enggak jadi beli di UMKM karena enggak ada QRIS,” ujar Tesalonika.

Namun, memperkenalkan pembayaran digital tidak cukup hanya dengan menjelaskan cara penggunaannya. Tesalonika dan timnya harus menghadapi beragam respons dari pedagang. Sebagian bersedia mendengarkan penjelasan, sedangkan sebagian lainnya menunjukkan kecurigaan terhadap kedatangan mereka.

Untuk menghadapi situasi tersebut, Tesalonika menerapkan materi pembekalan dari Bank Indonesia dengan menyesuaikan cara berkomunikasi kepada pelaku usaha. Ia memilih pendekatan yang ramah untuk menjelaskan penggunaan QRIS sekaligus menanggapi kekhawatiran pedagang.

“Cara meyakinkan UMKM untuk pakai QRIS itu adalah kita kasih informasi real di dunia digital. Kita enggak bisa larang orang untuk jangan pakai QRIS, tapi kita harus adaptasi. Kita harus tahu target pasar kita, aku lebih sering pakai gaya yang lebih ramah,” katanya.

Pendekatan komunikasi menjadi salah satu hal yang diperhatikan Tesalonika ketika berhadapan langsung dengan masyarakat. Baginya, informasi mengenai pembayaran digital perlu disampaikan dengan cara yang sesuai dengan kondisi di lapangan agar pelaku usaha dapat memahami tujuan dan manfaatnya.

Dalam kegiatan tersebut, sejumlah pelaku UMKM bersedia mendengarkan penjelasan dan memberikan respons secara langsung, termasuk menyerahkan ponsel mereka kepada peserta. Meski demikian, berdasarkan pembekalan yang diterima dari Bank Indonesia, peserta juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati saat memberikan ponsel kepada orang yang belum dikenal. Hal ini penting untuk menjaga keamanan perangkat dan melindungi data pribadi.

Bagi pelaku UMKM yang tertarik menggunakan QRIS, Tesalonika menyarankan agar mereka mengurus pendaftaran melalui bank atau penyedia jasa pembayaran resmi. Dengan menyediakan pilihan pembayaran digital, pelaku usaha dapat melayani konsumen yang terbiasa bertransaksi secara nontunai, termasuk kalangan anak muda.

Di balik kegiatan edukasi tersebut, QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026 juga memberikan pengalaman tersendiri bagi Tesalonika. Ia mengungkapkan bahwa kompetisi itu memberinya kesempatan untuk memperluas relasi, bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, serta mengenal beragam kuliner di Medan dan Sumatera Utara.

Peserta juga berkesempatan memperoleh cendera mata dari Bank Indonesia. Selain itu, pemenang kompetisi dapat menerima hadiah uang dan kesempatan mengikuti perjalanan sesuai ketentuan penyelenggara.

Melalui QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026, Tesalonika dan timnya menjalankan dua kegiatan sekaligus, yaitu memperkenalkan kuliner lokal dan mengedukasi pelaku UMKM mengenai pembayaran digital. Pengalaman turun langsung ke lapangan menjadi kesempatan bagi mereka untuk berinteraksi dengan masyarakat sekaligus memahami tantangan dalam memperkenalkan sistem pembayaran nontunai.

Pengalaman Tesalonika memperlihatkan bahwa edukasi digital bukan hanya soal mengenalkan teknologi baru. Penerimaan masyarakat, cara berkomunikasi, dan kepercayaan juga menjadi bagian penting dalam proses memperkenalkan perubahan kepada pelaku usaha.

Penulis: Khairiyah

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

MILAD 121 TAHUN SYARIKAT ISLAM: KEMBALI KE JATIDIRI, MENATAP KONGRES KEBANGKITAN

Oleh: Dr. Suasana Nikmat Ginting, SHi, MA Ketua PW Pemuda Muslimin Indonesia Sumatera Utara / Wakil Ketua Syarikat Islam Sumut PADA...