mimbarumum.co.id – Trauma akibat erupsi Gunung Sinabung yang berkepanjangan dan proses relokasi ke kawasan Siosar bukanlah hal yang mudah dihadapi, terutama bagi anak-anak usia sekolah. Mereka tidak hanya kehilangan rumah dan lingkungan sosialnya, tetapi juga menghadapi tekanan psikologis yang besar.
Di tengah kondisi ini, pendidikan mitigasi bencana menjadi sebuah keharusan. Namun, kemampuan guru dalam menyampaikan materi kebencanaan serta memanfaatkan teknologi digital masih sangat terbatas.
Merespons tantangan tersebut, sebuah tim pengabdian masyarakat yang dipimpin Laurensia Masri Perangin Angin, Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Medan (Unimed), melaksanakan program pendampingan bagi 35 guru SDN 047175 Siosar.
Program bertajuk “Pendampingan Pengembangan Kemampuan Mitigasi Bencana Berbasis Renderforest bagi Guru Sekolah Dasar di Daerah Rawan Bencana Gunung Sinabung Relokasi Siosar Medan” ini berhasil meningkatkan signifikan kapasitas guru dalam menciptakan media pembelajaran interaktif dan membangun budaya siaga bencana di sekolah.
Hasil identifikasi awal, kondisi di SDN 047175 Siosar cukup memprihatinkan. Dari 35 guru, hanya 2 orang (sekitar 8%) yang pernah mengikuti pelatihan mitigasi bencana. Kurikulum dan bahan ajar belum mengintegrasikan materi kebencanaan secara sistematis, apalagi yang berbasis pada konteks lokal Gunung Sinabung. Metode pembelajaran masih didominasi ceramah dan diskusi konvensional.
“Permasalahan utamanya ada pada rendahnya kapasitas guru. Mereka kesulitan menjelaskan jenis-jenis bencana yang mengancam Siosar, seperti erupsi, lahar dingin, dan tanah longsor. Belum lagi pemahaman tentang tanda-tanda awal dan prosedur evakuasi yang tepat,” jelas Laurensia, yang juga menjadi narasumber utama dalam program ini, saat diwawancarai via sambungan telepontelepon, Jumat (12/9/25).
Tantangan lain adalah keterbatasan teknologi. Sekolah hanya memiliki 1 unit laptop dan 1 proyektor, tanpa laboratorium komputer. Akses internet sangat terbatas dan mengandalkan modem pribadi dengan sinyal yang tidak stabil. Mayoritas guru belum familiar dengan aplikasi digital untuk membuat media pembelajaran, seperti Renderforest.
Program yang dilaksanakan pada Agustus-September 2025 ini memilih Renderforest, sebuah platform digital untuk membuat animasi, video, dan presentasi interaktif, sebagai solusi. Laurensia menjelaskan alasannya. “Kami memilih Renderforest karena kemampuannya menyajikan informasi kompleks tentang bencana menjadi visual yang menarik dan mudah dipahami anak-anak. Platform ini user-friendly, sehingga guru bisa belajar dengan cepat meski dengan perangkat dan akses internet yang terbatas,” katanya.
Kegiatan diawali workshop peningkatan pemahaman dasar mitigasi bencana. Guru-guru dikenalkan pada jenis bencana di Siosar, tanda-tanda awal, prosedur evakuasi, dan pertolongan pertama. Metode yang digunakan tidak hanya ceramah, tetapi juga role play dan simulasi.
“Melalui role play, guru langsung mempraktikkan langkah-langkah evakuasi. Forum diskusi juga memberi ruang bagi mereka untuk berbagi pengalaman pribadi menghadapi erupsi Sinabung. Ini membangun kesadaran kolektif bahwa mitigasi bencana adalah kebutuhan mendesak,” ujar Laurensia.
Untuk memastikan keberlanjutan, sejumlah strategi diterapkan. Guru-guru yang telah terlatih akan menjadi mentor bagi rekan sejawatnya melalui skema Training of Trainers (ToT). Dibentuk juga komunitas guru mitigasi bencana sebagai wadah berbagi praktik baik. Monitoring dan evaluasi rencananya akan dilakukan setiap tiga bulan.
“Kami juga mendorong integrasi modul mitigasi bencana ke dalam kurikulum sekolah agar ini bukan menjadi program insidental, tetapi bagian dari sistem pembelajaran yang berkelanjutan,” tambah Laurensia.
Program ini tidak hanya berhasil meningkatkan kapasitas individu guru, tetapi juga mentransformasi sekolah menjadi pusat edukasi kebencanaan. Kolaborasi yang terbentuk antara sekolah, orang tua, dan komunitas menciptakan ekosistem kesiapsiagaan yang menyeluruh.
“Dampak jangka panjangnya adalah terciptanya generasi yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi ancaman bencana. Program ini diharapkan dapat menjadi model yang dapat direplikasi di sekolah-sekolah lain di daerah rawan bencana, tidak hanya di Sumatera Utara, tetapi juga di seluruh Indonesia,” pungkas Laurensia menutup wawancara.
Dengan dukungan penuh dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Unimed, program ini menjadi bukti nyata bahwa pendekatan teknologi digital dan pendampingan yang berkelanjutan dapat menjadi kunci dalam membangun ketahanan masyarakat menghadapi bencana.
Program Pengabdian kepada Masyarakat tersebut merupakan Kegiatan yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2025, dengan Nomor Kontrak Induk 087/C3/DT.05.00/PL/2025 dan Nomor Kontrak Turunan 074/UN33.8/DPPM/PL/2025.
• Suyadi San


