CORONG: Mengulik Kehidupan Kaum Diplomat Muda dalam Karya Sastra

Berita Terkait

DIPLOMASI adalah dunia yang penuh dengan intrik, tantangan, dan romantisme. Kaum diplomat muda, dengan idealisme dan semangat mereka, sering menjadi subjek menarik dalam karya sastra, baik di dalam maupun luar negeri. Mereka digambarkan sebagai sosok yang harus menyeimbangkan antara tugas negara, kehidupan pribadi, dan tekanan politik.

Karya sastra yang mengangkat kehidupan diplomat muda tidak hanya memberikan gambaran realistis tentang profesi ini, tetapi juga menyoroti dinamika psikologis, budaya, dan politik yang melingkupinya. Artikel ini terilhami dari kasus diplomat muda berinisial ADP yang ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di kamar indekosnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (8/7/25) pagi.

Salah satu karya sastra Indonesia yang menonjolkan kehidupan diplomat muda adalah “Pulang” (2012) karya Leila S. Chudori. Novel ini mengisahkan tentang Dimas Suryo, seorang eksil politik Indonesia yang terdampar di Prancis setelah peristiwa G30S 1965. Meskipun bukan diplomat resmi, karakter Dimas dan kawan-kawannya mencerminkan perjuangan kaum intelektual dan diplomat Indonesia yang terasing di luar negeri.

Diplomat muda dalam novel ini digambarkan sebagai sosok yang harus berhadapan dengan dilema loyalitas antara negara dan prinsip pribadi. Karya ini juga menyoroti bagaimana tekanan politik rezim Orde Baru memengaruhi kehidupan para diplomat dan eksil Indonesia di luar negeri.

Di tahun sama, Novel “Amba” karya Laksmi Pamuntjak juga menyentuh sisi kehidupan seorang intelektual yang terlibat dalam konflik politik. Meskipun tidak secara eksplisit bercerita tentang diplomat, novel ini menggambarkan bagaimana kaum terpelajar Indonesia—yang sering kali menjadi calon diplomat—harus berhadapan dengan kekuatan politik yang represif.

Tokoh-tokoh dalam “Amba” mencerminkan pergulatan batin yang dialami oleh banyak diplomat muda antara mengabdi pada negara dan mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan.

Ratih Kumala dalam karyanya, “Gadis Kretek” (2012) memperlihatkan bagaimana diplomasi budaya bekerja melalui tokoh Tegar, seorang pemuda yang terlibat dalam industri kretek dan harus bernegosiasi dengan kepentingan asing. Meskipun bukan diplomat karier, karakter ini merepresentasikan bagaimana kaum muda Indonesia berinteraksi dengan dunia internasional.

Bagaimana pula kisah-kisah tentang diplomat muda dalam karya sastra asing? “The Quiet American” (1955) karya Graham Greene adalah salah satu novel klasik yang menggambarkan kehidupan diplomat muda dengan sangat tajam. Kisah ini berpusat pada Alden Pyle, seorang diplomat Amerika yang idealis namun naif di Vietnam pada masa perang.

Pyle mewakili diplomat muda yang penuh semangat ingin “menyelamatkan” Vietnam, tetapi akhirnya terjerat dalam permainan politik yang rumit. Tidak secara langsung Greene mengkritik cara Barat—khususnya Amerika—dalam mendekati konflik global dengan perspektif yang terlalu simplistik.

Pengarang lainnya, John le Carré, penulis terkenal dengan genre mata-mata, sering memasukkan karakter diplomat dan intelijen dalam karyanya. “A Most Wanted Man” (2008) menampilkan diplomat dan agen intelijen yang harus berurusan dengan isu terorisme di Jerman.

Diplomat dan agen dalam novel ini digambarkan sebagai sosok yang harus membuat keputusan sulit antara hukum, keamanan nasional, dan moralitas. Karya ini juga menyoroti beban psikologis yang dihadapi oleh diplomat dan intelijen dalam menjalankan tugas mereka.

“The Sympathizer” karya Viet Thanh Nguyen (2015) memenangkan Pulitzer dengan kisah tentang seorang mata-mata Vietnam yang bekerja untuk Amerika Serikat. Meskipun bukan diplomat resmi, karakter utamanya mencerminkan pergulatan identitas yang dialami banyak diplomat muda dari negara-negara pascakolonial.

Sebagai seorang imigran dan agen ganda, tokoh utama harus terus-menerus mempertanyakan loyalitasnya. Novel ini menggali sisi humanis dari kehidupan seorang “diplomat” yang terjebak dalam permainan kekuasaan.

Baik dalam sastra Indonesia maupun asing, diplomat muda sering digambarkan sebagai sosok yang awalnya idealis, tetapi kemudian dihadapkan pada realitas politik yang keras. Diplomat dari negara berkembang (seperti Indonesia) maupun negara Barat kerap mengalami krisis identitas antara nilai-nilai nasional dan tekanan global.

Banyak karya sastra yang menyertakan elemen romansa atau tragedi pribadi dalam kehidupan diplomat, menegaskan bahwa profesi ini tidak hanya tentang politik, tetapi juga tentang manusia yang penuh kelemahan.

Diplomat dalam sastra Indonesia sering dikaitkan dengan trauma politik (seperti Orde Baru), sementara dalam sastra Barat, mereka lebih sering dikaitkan dengan Perang Dingin atau terorisme kontemporer.

Diplomat dari negara maju (seperti dalam karya Greene atau le Carré) sering digambarkan sebagai bagian dari mesin kekuasaan global, sementara diplomat dari negara berkembang lebih sering menjadi korban atau penengah dalam konflik.

Sastra Indonesia cenderung lebih personal dan melodramatis dalam menggambarkan diplomat, sementara sastra Barat sering menggunakan pendekatan sinis atau kritis.

Kehidupan diplomat muda dalam karya sastra—baik di Indonesia maupun luar negeri—menawarkan cerminan yang menarik tentang kompleksitas profesi ini. Mereka digambarkan sebagai sosok yang harus berjuang antara idealisme dan real politik, antara loyalitas pada negara dan hati nurani.

Karya sastra Indonesia cenderung menekankan pada trauma sejarah dan pergulatan identitas, sementara sastra asing lebih banyak mengeksplorasi sisi gelap dari permainan kekuasaan global. Namun, keduanya sepakat bahwa dunia diplomasi bukanlah dunia yang hitam-putih, melainkan penuh dengan nuansa abu-abu yang memaksa para diplomat muda untuk terus bertanya: “Untuk apa dan untuk siapa mereka bekerja?”

Dengan membaca karya-karya ini, pembaca tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga wawasan mendalam tentang dinamika politik, budaya, dan psikologi yang membentuk kehidupan seorang diplomat muda. Begitu. Semoga arwah almarhum ADP tenang di sisi Allah Swt. Aamiin.

• Suyadi San, pegiat budaya, Ombudsman Koran Mimbar Umum, peneliti BRIN

Tinggalkan Balasan

spot_img
spot_img

Berita Pilihan

Jenderal Suyudi Akan Diuji oleh Perkara, Bukan Pidato

Program Jendral Suyudi Ario Setio sudah kita dengar. Sekarang waktunya ia bekerja. Sebab seorang Kapolri tidak akan dikenang karena...