Webinar BRIN Seri 85: Mengupas Representasi Pembangunan dan Lingkungan di Masa Orba dalam Sastra

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas (PR BSK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan Webinar Seri 85, Selasa (11/8/26). Kegiatan yang berlangsung secara bauran dari Ruang 507 Gedung Widya Graha BRIN Gatot Subroto, Jakarta, ini mengangkat tema representasi pembangunan dan lingkungan di masa Orde Baru (Orba) dalam karya sastra.

Webinar menghadirkan dua narasumber utama. Pertama, David John Rawson, Postgraduate Researcher dari University of Tasmania, yang memaparkan disertasinya berjudul “Representasi Hubungan Pembangunan-Lingkungan di Sastra Indonesia Kontemporer”. Kedua, M. Yasif Femi Miftah, Peneliti PR BSK BRIN, yang membahas kritik atas relasi kuasa aktor negara, elite agama, dan pemilik kapital dalam cerpen “Pohon Keramat” karya M. Dawam Rahardjo.

Kegiatan dibuka oleh Herry Jogaswara, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, serta Ade Mulyanah, Kepala Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN. Moderator diskusi dipandu Febyasti Davela R., Peneliti PR BSK BRIN.

David Rawson memaparkan temuan kunci dari disertasinya yang menganalisis pidato-pidato kenegaraan Presiden Soeharto periode 1967–1998 dan membandingkannya dengan representasi dalam karya sastra pada periode yang sama. Penelitian ini menggunakan metode analisis naratif untuk mengkaji peristiwa, aktor, ruang, waktu, ideologi, dan fokalisasi (perspektif).

Rawson menjelaskan, narasi politik Orba menggambarkan pembangunan sebagai amanah untuk mengangkat ekonomi bangsa, dengan kekayaan alam yang berlimpah sebagai modal utama. Namun, karya sastra justru menghadirkan kritik mendalam terhadap ongkos ekologis dan sosial pembangunan tersebut.

“Ada golongan cerita sastra yang sejalan dengan narasi aktor negara, namun ada juga yang melawan,” jelas Rawson. “Sastra menghadirkan kritik yang memperkaya pemahaman kita terhadap hubungan pembangunan-lingkungan di masa Orde Baru.”

Sebagai contoh kontras, ia mengutip pidato Soeharto tahun 1968 yang menyebut Indonesia memiliki hutan seluas lebih dari 100 juta hektare dan bahan tambang yang melimpah. Sementara itu, puisi “Zamrud di Khatulistiwa” karya Sitor Situmorang (1994) justru menggambarkan hilangnya hutan dan ekosistem yang tak ternilai. Demikian pula cerpen “Malin Kundang, Ibunya Durhaka” karya A.A. Navis (1986) yang menggambarkan tanah tandus akibat pembangunan berlebihan.

Sementara itu, M. Yasif Femi Miftah memaparkan pembacaan terhadap cerpen “Pohon Keramat” (2006) karya M. Dawam Rahardjo. Cerpen ini dinilainya merefleksikan pemikiran kritis Dawam tentang developmentalisme Orba, aliansi antara penguasa, pemilik modal, dan otoritas keagamaan yang berhasil melumpuhkan pertahanan ekologis masyarakat lokal.

“Perusakan lingkungan dalam skala masif tidak selalu dengan kekerasan fisik semata; ia membutuhkan legitimasi moral yang menciptakan kekerasan simbolik dan marginalisasi,” ujar Yasif.

Ia menambahkan, cerpen ini menunjukkan bagaimana pembangunan tanpa perspektif ekologis dan kearifan lokal berujung pada bencana. Agama yang kering dari empati sosial dan lingkungan hanya akan melahirkan kesalehan individu tanpa kepedulian pada alam.

Relevansi bagi Kekinian

Diskusi dalam webinar menyoroti relevansi kajian sastra Orba bagi pemahaman kritis terhadap wacana pembangunan kontemporer. Sastra dianggap sebagai artefak budaya yang merekam sekaligus menguji wacana dominan, sebagaimana dikemukakan oleh Terry Eagleton (1983). Kegiatan ini juga sejalan dengan pernyataan Habiburrahman El Shirazy, sastra memiliki kekuatan besar dalam membentuk kesadaran kolektif dan menggerakkan perubahan sosial .

Webinar berlangsung selama tiga jam dengan antusiasme peserta yang hadir secara daring melalui platform Zoom dan di lokasi. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian webinar rutin yang diselenggarakan PR BSK BRIN untuk mendiseminasikan hasil-hasil riset kebahasaan, kesastraan, dan kemasyarakatan.

Kepala Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN Ade Mulyanah memberikan sambutan.

Kepala PR BSK, Ade Mulyanah, dalam sambutannya menekankan pentingnya kajian sastra sebagai instrumen kritis dalam membaca dinamika sosial-politik bangsa. Webinar Seri 85 ini dinilainya sangat strategis karena mengangkat tema representasi pembangunan dan lingkungan di masa Orde Baru, sebuah isu yang masih relevan dalam diskursus pembangunan nasional hingga saat ini.

Ade Mulyanah menyatakan, penelitian lintas disiplin yang mempertemukan sastra, politik, dan ekologi seperti yang dipaparkan para narasumber adalah wujud nyata peran BRIN dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang kontekstual dan bermanfaat bagi masyarakat.

Dia juga mengapresiasi antusiasme peserta yang mengikuti kegiatan ini, baik secara daring maupun luring, sebagai bukti bahwa kajian sastra dan kemanusiaan tetap memiliki daya tarik dan urgensi di tengah gempuran isu-isu teknologi dan ekonomi.

Herry Jogaswara, saat membuka acara menyoroti mandat Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra untuk terus mendorong riset-riset yang tidak hanya akademis, tetapi juga mampu memberikan kontribusi bagi penguatan identitas dan kesadaran kultural bangsa.

Menurutnya, kegiatan seperti webinar ini merupakan bagian dari upaya OR Arbastra untuk menjembatani temuan-temuan riset dengan publik yang lebih luas. Ia menyampaikan apresiasi terhadap topik yang diangkat, karena mengingatkan sastra bukanlah ruang yang steril dari politik dan kepentingan, melainkan arena pergulatan gagasan yang merekam sekaligus mengkritisi arus besar kebijakan negara.

Herry Jogaswara berharap agar dialog akademik semacam ini dapat terus menjadi tradisi di lingkungan BRIN dan menginspirasi lahirnya penelitian-penelitian baru yang relevan dengan tantangan zaman, khususnya yang berkaitan dengan isu keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial.

• Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img
spot_img

Berita Pilihan

FJPI Sumut Jajaki Peluang Kolaborasi ke Pemkab Toba untuk Perkuat Kapasitas Profesi Jurnalis

mimbarumum.co.id – Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Sumatera Utara melihat potensi kolaborasi strategis dengan Pemerintah Kabupaten Toba dalam pengembangan...