Wakil Gubernur Rano Karno Orasi Kebudayaan, Malam Kedua PPN XIII Wujudkan Jakarta sebagai Kota Sastra Global

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Gelora sastra Nusantara kembali menyala di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat malam (12/9/25). Malam kedua Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII ini diisi dua agenda utama, yaitu Orasi Kebudayaan visioner dari Wakil Gubernur DKI Jakarta H. Rano Karno, S.IP., dan Parade Baca Puisi yang menampilkan puluhan penyair dari dalam dan luar negeri, membuktikan Jakarta sebagai rumah inklusif bagi segala bentuk ekspresi kata.

Acara yang dimulai pukul 18.30 WIB itu dibuka dengan alunan musik dan kehadiran MC Palupi. Sambutan pertama disampaikan Ketua Dewan Pengarah PPN XIII, Imam Ma’arif, yang mengapresiasi antusiasme peserta dan penonton. “Malam ini adalah bukti bahwa puisi tetap hidup dan menjadi napas bagi banyak orang,” ujarnya.

Keharuan langsung menyergap saat Sanggar Matahari dari Indonesia naik panggung. Mereka tidak hanya mempersembahkan musikalisasi puisi yang memukau, tetapi juga membawa serta Sahabat Matahari, kelompok anak-anak disabilitas yang dengan lugas dan penuh percaya diri menyampaikan puisi melalui gerak dan bahasa isyarat. Penampilan mereka menyentuh hati setiap orang yang hadir, mengingatkan semua bahwa puisi adalah milik semua kalangan, tanpa batas.

Orasi Kebudayaan: Lima Pilar Jakarta Kota Sastra Global

Puncak acara adalah Orasi Kebudayaan yang disampaikan Wakil Gubernur DKI Jakarta, H. Rano Karno. Dengan gaya khas yang bersahaja namun sarat makna, Rano Karno menyampaikan visi besar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mewujudkan Jakarta sebagai Kota Sastra Global, mengukuhkan statusnya sebagai UNESCO City of Literature yang diraih pada 2021.

“Kebudayaan bukan pelengkap pembangunan, melainkan mesin penggerak,” tegas Rano Karno di hadapan ratusan hadirin yang menyimak khidmat. Ia menegaskan bahwa ekonomi kreatif, industri film, penerbitan, dan musik tidak akan hidup tanpa tanah subur kebudayaan.

Mantan aktor legendaris Si Doel ini lalu memaparkan lima langkah strategis yang akan dijalankan Pemprov DKI Jakarta. Pertama, memperbanyak ‘ruang ketiga’ seperti taman, balai warga, dan sudut baca yang menjadi tempat pertemuan lintas identitas. “Jakarta akan menghidupkan kembali konsep taman sebagai tempat berkumpul warga, bukan sekadar hiasan kota,” janjinya.

Kedua, memperkuat ekosistem literasi melalui ‘diplomasi buku’ dengan kota-kota sahabat dan menekankan pentingnya penerjemahan. “Penerjemahan adalah jembatan persahabatan yang menyingkat jarak,” ujarnya.

Ketiga, mendukung perancangan model penghargaan sastra yang kredibel dan inklusif, bukan sebagai seremoni tapi sebagai proses belajar terus-menerus. Keempat, menguatkan diplomasi budaya, terutama di kawasan ASEAN, dengan puisi sebagai duta. “Kita ingin puisi menjadi duta yang paling fasih karena ia bisa menyeberang tanpa membutuhkan visa,” katanya.

Kelima, menegakkan ‘akses’ sebagai kata kunci, memastikan infrastruktur pendukung kebudayaan, dari transportasi hingga ruang panggung, tertata rapi. “Kota yang peduli seni adalah kota yang cermat mengantar senimannya naik ke atas panggung,” pungkasnya.

Orasi yang diselingi pantun dan cerita personal sebagai anak Betawi asli Kemayoran ini berhasil memukau audiens. Rano Karno menutup dengan pesan kuat: “Bila selama ini kota berlari dengan peta infrastruktur keras, biarlah Jakarta melengkapi langkahnya dengan peta infrastruktur makna.”

Parade Puisi: Keberagaman Suara dari Seluruh Penjuru

Usai orasi, panggung kembali menjadi milik puisi. Pembacaan dimulai Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, dilanjutkan parade puisi antarbangsa. Penyair Awwabin Helmi dari Thailand yang membawakan puisi tentang keberadaan kawasan Provinsi Pattani di negaranya, disusul penampilan penyair Malaysia Wan Nuryani dan Nusanwai Ha’ (Thailand).

Penyair Awwabin Helmi dari Thailand yang membawakan puisi tentang keberadaan kawasan Provinsi Pattani di negaranya


Penyair Awwabin Helmi dari Thailand yang membawakan puisi tentang keberadaan kawasan Provinsi Pattani di negaranya. 

Suara-suara kuat dari berbagai daerah Indonesia terus bergema, di .antaranya, Isbedy Stiawan ZS (Lampung), Ratna Ayu Budhiarti (Garut), Doddi Ahmad Fauzi (Jawa Barat), Ulfatin Ch (Yogyakarta), Suyadi San (Medan), Eddy Pranata, Joshua Igho, Sukardi Wahyudi (Kalimantan), dan Fakhrunnas MA Jabbar. Mereka membacakan karya dengan gaya dan karakter yang unik, mencerminkan kekayaan sastra Nusantara.

Selang-seling pembacaan puisi diisi dengan pertunjukan musikalisasi puisi yang memukau dari Teater Getek Purwokerto dan kembali oleh Sanggar Matahari, menunjukkan bahwa puisi dapat hidup dalam berbagai bentuk ekspresi.

Acara ditutup dengan foto bersama pada pukul 21.10 WIB, mengakhiri sebuah malam yang penuh dengan makna, semangat kebersamaan, dan komitmen untuk memajukan sastra. Para peserta kemudian dipandu kembali ke penginapan oleh tim panitia.

Malam itu bukan hanya menjadi ajang pementasan, tetapi juga pernyataan politik kebudayaan yang jelas dari Jakarta. Melalui PPN XIII, Jakarta membuktikan diri bukan hanya sebagai ibu kota politik dan ekonomi, tetapi juga sebagai ibu kota sastra yang menghidupkan kata, merayakan perbedaan, dan membangun jembatan budaya untuk masa depan yang lebih baik.

• Suyadi San

 

Tinggalkan Balasan

Berita Pilihan

BPS dan Bank Dunia Jelaskan Perbedaan Angka Kemiskinan Indonesia, Bukan Berarti Kondisi Makin Miskin

mimbarumum.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Bank Dunia memberikan penjelasan terkait perbedaan angka kemiskinan Indonesia yang menggunakan garis kemiskinan...