mimbarumum.co.id – Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia tidak mau ketinggalan hadir memeriahkan gelaran Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII, guna menyampaikan strategi dan komitmennya dalam menumbuhkan minat baca sastra generasi muda di tengah pusaran era digital. Sambutan resmi disampaikan Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, pada acara yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (13/9/25).
Dalam orasi berjudul “Peran Perpustakaan dalam Menumbuhkan Minat Baca Generasi Muda di Era Digital”, Joko Santoso mengawali dengan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para penyair, pegiat literasi, dan seluruh peserta PPN XIII yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Ia menegaskan, perpustakaan tidak hanya menjadi gudang buku, tetapi juga jembatan cita dan kasih, serta ruang demokrasi pengetahuan yang menjadi denyut peradaban.
Santoso memaparkan data terkini yang menggembirakan. Indeks Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) Indonesia pada 2024 naik ke angka 72,44, melampaui target nasional dan meningkat dari 66,77 pada 2023. “Artinya, semakin banyak anak muda yang secara statistik aktif membaca, baik melalui buku fisik maupun digital,” ujarnya.
Namun, di balik angka yang positif tersebut, tersembunyi tantangan besar. Terdapat ketimpangan akses yang signifikan antara wilayah. Akses anak ke perpustakaan di Jakarta mencapai 80%, sementara di Papua masih sekitar 35%. Selain itu, survei GoodStats 2025 mengungkap bahwa sastra, khususnya fiksi dan puisi, bukanlah genre utama pilihan anak muda. Mayoritas responden usia 18-25 tahun lebih memilih buku pengembangan diri dan nonfiksi.
“Persoalan sesungguhnya terletak pada kualitas serta kedalaman pembacaan karya sastra,” tegas Santoso. Derasnya banjir informasi digital dan budaya scroll membuat bacaan sastra yang membutuhkan perenungan sering kalah oleh konten instan dan ringkas.
Fenomena BookTok di platform TikTok disebutkannya sebagai sebuah peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, komunitas BookTok Indonesia dengan lebih dari 400 ribu unggahan berhasil menghidupkan kembali minat pada buku-buku lama dan menjadikannya best seller. Di sisi lain, algoritma media sosial seringkali mendorong “konsumsi sastra” yang dangkal, berupa ringkasan dan kutipan, alih-alih pembacaan utuh yang mendalam.
Menghadapi tantangan tersebut, Santoso memaparkan lima strategi utama yang dijalankan Perpusnas, di antaranya, Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Program ini telah menjangkau 38 provinsi, 296 kabupaten/kota, dan 2.396 desa/kelurahan. Perpustakaan ditransformasi menjadi pusat kreativitas dan ruang dialog budaya, termasuk untuk diskusi sastra dan pentas puisi lokal.
Selanjutnya, Gerakan Literasi Desa. Perpusnas berkomitmen mendirikan ruang baca di 10.000 desa dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), didukung distribusi ribuan judul buku, termasuk karya sastra dan cerita rakyat yang sesuai dengan konteks lokal.
Hal lainnya, Inovasi Digital dengan iPusnas. Aplikasi perpustakaan digital nasional ini menyediakan ribuan e-book gratis, termasuk sastra klasik dan kontemporer. Fitur sosial seperti ulasan, badges, dan diskusi virtual membangun komunitas pembaca yang aktif lintas generasi.
Menurutnya, pustakawan kini berperan sebagai fasilitator literasi digital, content creator, pendamping klub baca, dan mentor pelatihan menulis, yang menjadi ujung tombak transformasi di masyarakat. Dengan mengadopsi elemen permainan seperti tantangan membaca dan pemberian badges, perpustakaan berhasil menciptakan pengalaman membaca yang menyenangkan dan interaktif bagi Generasi Z dan Alpha, meningkatkan partisipasi mereka.
Santoso menutup sambutannya dengan menekankan bahwa budaya baca sastra adalah pondasi menuju Indonesia Emas 2045. “Bangsa maju adalah bangsa pembaca. Membaca bukan sekadar perintah agama dan konstitusi, tetapi juga syarat revolusi mental,” serunya.
Ia mengajak semua pihak untuk bersinergi: orang tua untuk membacakan puisi dan cerita di rumah, guru untuk menjadikan sastra sebagai wahana pembelajaran, pustakawan untuk terus menjadi arsitek pengetahuan, serta para penerbit dan penulis untuk terus menghasilkan karya bermutu.
“Kita hidup pada era yang penuh persimpangan, di mana literasi dan budaya baca adalah garda terdepan untuk menghadapi segala badai informasi. Mari rawat perpustakaan, perkuat budaya baca, dan gelorakan sastra sebagai pondasi kecerdasan bangsa,” pungkas Joko Santoso mengakhiri sambutan yang berisi data, strategi, dan semangat kolaborasi tersebut.
Kehadiran dan paparan Perpusnas dalam PPN XIII ini mengukuhkan peran vital lembaga tersebut tidak hanya sebagai penyedia akses informasi, tetapi juga sebagai motor penggerak literasi yang adaptif, inklusif, dan visioner dalam membangun peradaban bangsa.
• Suyadi San

