mimbarumum.co.id – Ulama Aceh dinilai memiliki karakter pemikiran keagamaan yang moderat dan mengedepankan prinsip wasathiyah. Sikap tersebut tercermin dalam pemikiran para Tengku Dayah yang selama ini memiliki peran penting dalam membimbing kehidupan keagamaan masyarakat Aceh.
Hal itu disampaikan Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA dalam sidang terbuka disertasi M. Azhaikhan yang mengangkat tema “Wasathiyah dalam Pemikiran Tengku Dayah di Aceh.” Sidang tersebut berlangsung di lingkungan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU).
Prof. Syahrin mengatakan, berdasarkan kajian terhadap pemikiran ulama Aceh, tidak ditemukan kecenderungan yang menunjukkan bahwa para ulama tersebut bersikap radikal. Sebaliknya, pemikiran keagamaan yang berkembang di kalangan Tengku Dayah lebih menunjukkan sikap tengah, seimbang, dan mengedepankan kemaslahatan.
“Ulama Aceh tidak ada yang radikal. Mereka lebih bersikap wasathiyah,” ujar Syahrin dalam sidang tersebut.
Menurut dia, wasathiyah menjadi salah satu karakter penting dalam tradisi keilmuan Islam di Aceh. Sikap moderat tidak berarti mengurangi keteguhan dalam menjalankan ajaran agama, tetapi menempatkan ajaran Islam secara proporsional dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat dan kemaslahatan bersama.
Dalam konteks tersebut, keberadaan Tengku Dayah memiliki posisi strategis. Mereka bukan hanya berperan sebagai pengajar ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga menjadi rujukan masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan sosial, keagamaan, dan kehidupan sehari-hari.
Pemikiran wasathiyah yang dikembangkan para Tengku Dayah juga dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman sosial, budaya, dan pemahaman keagamaan. Sikap moderat menjadi modal penting untuk menjaga kehidupan masyarakat agar tetap harmonis di tengah perbedaan.
Syahrin menilai penelitian mengenai pemikiran Tengku Dayah penting dilakukan karena Aceh memiliki tradisi pendidikan Islam yang panjang. Lembaga dayah telah menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan Islam di Aceh dan melahirkan banyak ulama yang memiliki pengaruh luas di tengah masyarakat.
Disertasi M. Azhaikhan tersebut, kata dia, memberikan kontribusi akademik dalam melihat secara lebih mendalam karakter pemikiran keagamaan para Tengku Dayah, khususnya dalam perspektif wasathiyah.
Sidang terbuka disertasi tersebut dipimpin Dekan Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam (FUSI) UINSU, Dr. Maraimbang Daulat, MA. Sidang menjadi bagian dari proses akademik untuk menguji sekaligus memberikan masukan terhadap penelitian yang dilakukan oleh M. Azhaikhan.
Kajian mengenai wasathiyah ulama Aceh juga dinilai memiliki relevansi lebih luas dalam konteks kehidupan beragama saat ini. Di tengah munculnya berbagai tudingan mengenai radikalisme dan ekstremisme keagamaan, penelitian berbasis tradisi keilmuan lokal dapat memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai karakter pemikiran ulama di Indonesia.
Tradisi Tengku Dayah, dengan basis pendidikan Islam yang kuat, menunjukkan bahwa keteguhan menjalankan agama dapat berjalan beriringan dengan sikap moderat, toleran, dan menghargai kehidupan sosial yang majemuk.
Karena itu, pemikiran wasathiyah ulama Aceh tidak hanya penting bagi masyarakat Aceh, tetapi juga dapat menjadi salah satu rujukan dalam memperkuat moderasi beragama di Indonesia. Sikap tengah tersebut diperlukan untuk membangun kehidupan keagamaan yang damai sekaligus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.
Reporter: A. Rasyid



