Transformasi Hijau dan Lompatan Hilirisasi INALUM, Dari Ketergantungan Menuju Kedaulatan Bahan Baku

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Di bawah langit Kuala Tanjung, suara mesin peleburan terus mengalir. Tepat di kompleks PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), udara terasa hangat oleh pijar tanur yang menyala sepanjang hari, menjaga denyut industri strategis kebanggaan Indonesia tetap hidup.

Pabrik ini sepenuhnya mengandalkan pasokan listrik dari Bendungan Siguragura dan Tangga, memutar turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 603 Megawatt. Tanpa perlu bergantung pada bahan bakar fosil, energi hijau ini membuat proses peleburan logam berjalan bersih sekaligus efisien.

Bahkan, biaya operasional listrik mereka berhasil ditekan hingga kisaran 1,5 sampai 2 sen per kWh. Sebuah daya saing kelas dunia yang jarang bisa disamai industri sejenis. “Berbekal energi hijau berbiaya rendah, kemandirian bahan baku, dan visi hilirisasi yang jelas, INALUM optimis mengawal masa depan industri aluminium nasional agar makin berdaulat dan disegani di kancah global,” ujar Kepala Grup Layanan Strategis INALUM, Daniel JP Hutauruk, saat ditemui di Medan belum lama ini.

Cerita tentang kepulan uap dan lelehan logam panas ini menandai babak baru kemandirian ekonomi kita, di bawah naungan ekosistem Danantara Indonesia dan MIND ID. Daniel sempat mengenang masa-masa ketika pabrik ini masih bergantung penuh pada bahan impor dari Australia atau Venezuela.

“Alumina, dulu kita harus beli dari negara yang paling dekat Australia, Venezuela, atau negara-negara yang punya tambang bauksit,” ungkap Daniel.

Kini, masa lalu itu tinggal kenangan. Lewat sinergi erat dengan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) di Kalimantan, rantai pasok bauksit lokal kini diolah menjadi alumina, dipasok sepenuhnya dari dalam negeri, lalu dilebur di Kuala Tanjung, Asahan menjadi aluminium berkualitas tinggi.

Langkah INALUM juga semakin lengkap lewat empat pilar anak usahanya. PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) berdiri kokoh sebagai penyedia refinery alumina dari tanah Kalimantan. Lalu ada PT Indonesia Aluminium Alloy (IAA) yang mengolah logam cair menjadi produk hilir bernilai jual tinggi seperti Secondary Billet.

Dukungan berikutnya datang dari PT Sinergi Mitra Lestari Indonesia yang mengurus efisiensi logistik dan rantai pasok. Serta PT Industri Baterai Indonesia (IBC) yang menjembatani industri aluminium dengan masa depan kendaraan listrik (EV Battery Ecosystem).

“Lonjakan nilai tambahnya luar biasa. Kalau bauksit cuma dijual mentah, negara paling cuma dapat remah-remahnya. Tapi dengan hilirisasi yang digarap INALUM, nilainya bisa melompat sampai lebih dari 70 kali lipat,” jelas Daniel.

Konsistensi mereka dalam menjaga standar internasional dibuktikan lewat sertifikasi Aluminium Stewardship Initiative (ASI). Kinerja solid ini berbuah manis pada 2026. Pefindo mengerek naik peringkat korporasi INALUM dari idAA-/Stable menjadi idAA/Stable, disusul perolehan peringkat kredit internasional BBB- dengan Outlook Stable dari S&P Global Ratings.

Status investment grade ini menjadi modal penting bagi INALUM dalam mengebut berbagai proyek strategis, mulai dari SGAR Fase I dan II hingga pembangunan Smelter Aluminium II. “Hilirisasi itu bukan sekadar urusan mengolah sumber daya, tapi bagaimana bangsa ini bisa berdiri di atas kaki sendiri dan menciptakan nilai tambah dari kekayaan alamnya,” timpal Direktur Keuangan INALUM, Ken Permana.

Pandangan senada juga disampaikan Ka-Grup Pengembangan Bisnis dan Strategi INALUM, Al Jufri. Menurutnya, seluruh investasi yang digelontorkan bermuara pada satu tujuan: merajut koneksi yang kuat untuk memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri. Pada akhirnya, hilirisasi bukan cuma soal memangkas angka impor, melainkan memperkuat fondasi ekonomi nasional demi kemajuan Indonesia.

Reporter : Siti Amelia

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

PTPN IV PalmCo Dekati Tahap Akhir Penyaluran Bantuan Beras Pensiunan

mimbarumum.co.id - Penyaluran da6na kompensasi lumpsum bantuan beras bagi pensiunan karyawan pelaksana PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo...