mimbarumum.co.id – Tiga peneliti asal Sumatra Utara turut ambil bagian dalam lokakarya penulisan buku bersama bertajuk “Seabad Setahun Asrul Sani: Identitas, Jejak Karya, dan Sineas Indonesia” yang diselenggarakan Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) secara daring, Jumat (20/2/26). Kegiatan yang berlangsung selama hampir sembilan jam ini menghadirkan 52 penulis dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia.
Dari Sumatra Utara, tercatat Muhammad Hafidz Assalam (dosen Universitas Negeri Medan/Unimed) yang tergabung dalam HISKI Komisariat Sumatera Utara, serta peneliti dari Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN, yakni Suyadi (berbasis di Medan) dan dosen Universitas Sriwijaya Raka Gunaika. Kehadiran mereka memperkaya diskusi akademik tentang warisan intelektual sastrawan, sineas, dan intelektual humanis Angkatan ’45 tersebut.
“Apa Kata Dunia?” dan Hasrat Pengakuan Nagabonar
Muhammad Hafidz Assalam bersama timnya yang terdiri atas Wahyu Wiji Astuti, Deswandito Dwi Saptanto, dan Risma Nurahmawati—ketiganya mahasiswa doktoral di Universitas Gadjah Mada—mempresentasikan kajian berjudul “Apa Kata Dunia?: Objet Petit a dan Hasrat Pengakuan dalam Tokoh Nagabonar Karya Asrul Sani”.
Dengan pendekatan psikoanalisis Jacques Lacan, penelitian ini menyoroti tokoh Nagabonar yang dibentuk Asrul Sani sebagai sosok dengan identitas terpecah. Di satu sisi ia pencopet, tetapi di sisi lain citra simboliknya mengesankan dirinya sebagai pahlawan berpangkat jenderal. Frasa “Apa kata dunia?” menjadi representasi hasrat simbolik tokoh akan pengakuan dari dunia yang difantasikan.
“Penelitian ini memberikan kontribusi untuk memandang tokoh Nagabonar bukan hanya dalam satu perspektif historis atau nasionalisme. Nagabonar dan manusia pada umumnya, identitasnya dibentuk melalui kompleksitas hasrat yang rumit. Kami melacak sisi lain Nagabonar yang selama ini dianggap sekadar representasi komedi atau parodi terhadap militerisme,” papar Hafidz dalam presentasinya.
Data penelitian bersumber dari film “Nagabonar” karya Asrul Sani tahun 1987, dengan analisis terhadap dialog, gestur, adegan simbolik, dan konflik naratif seperti penanda medan, kesawan, selapik seketiduran, mariam tomong, bujang, serta frasa kunci “apa kata dunia?”.
Melacak Visi Artistik Asrul Sani di Panggung Teater
Sementara itu, Suyadi bersama tim yang terdiri atas Ratih Rahayu, Binar Kurniasari Febrianti, dan Asnidar dari Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN mengangkat tema “Dari Surat Kepercayaan Gelanggang ke Panggung Teater Modern: Melacak Visi Artistik Asrul Sani sebagai Perintis Teater Indonesia”.
Penelitian ini berangkat dari kesenjangan historiografis, di mana reputasi Asrul Sani lebih dominan sebagai sastrawan Angkatan ’45 dan sineas legendaris, sementara kontribusinya di dunia teater belum dikaji mendalam. Padahal, Asrul Sani kerap disebut sebagai “Bapak Teater Modern Indonesia”, namun gelar tersebut belum dikukuhkan secara akademik.
Melalui manifesto Surat Kepercayaan Gelanggang (1950) yang digagas Asrul Sani bersama rekan-rekannya, kolaborasi tim BRIN dan HISKI Komisariat Sumatra Utara menemukan fondasi intelektual yang meletakkan estetika baru yang independen bagi teater Indonesia.
“Asrul membawa transformasi dari teater sebagai hiburan dan melodrama menjadi teater intelektual dengan naskah kuat, kedalaman psikologis tokoh, dan struktur naratif modern. Ia memperkenalkan Ibsen, Chekhov, dan Miller melalui adaptasi dan interpretasi yang kontekstual,” ungkap Suyadi.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-historis dengan pendekatan studi tokoh, menelusuri arsip surat kabar sezaman (1950-1970-an), naskah drama Asrul, serta dokumen ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) tempat Asrul Sani berperan sebagai pendidik.
Sastra sebagai Ruang Kegelisahan
Dari Universitas Sriwijaya yang berafiliasi dengan HISKI Komisariat Sumatra Selatan, Nurhayati, Raka Gunaika, dan Utari Rachma Siwi turut mempresentasikan kajian berjudul “Sastra sebagai Ruang Kegelisahan: Membaca Eksistensialisme dalam Antologi Karya Asrul Sani”. Meskipun berasal dari Sumsel, Raka Gunaika juga dikenal sebagai peneliti yang aktif menjalin kolaborasi dengan akademisi Sumatra Utara.
Penelitian ini membaca karya-karya Asrul Sani seperti “Surat Dari Ibu” (1950), “Surat-Surat Kepercayaan” (1950), dan “Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat” (1972) melalui kacamata eksistensialisme Jean-Paul Sartre.
“Bagi Asrul Sani, sastra lahir bukan dari kepastian, tapi dari kegelisahan hidup manusia. Tokoh-tokohnya adalah manusia yang bebas, tapi kebebasan itu justru melahirkan kegelisahan karena setiap pilihan membawa tanggung jawab penuh. Tidak ada tempat bersembunyi pada takdir atau nilai mutlak,” jelas Nurhayati melalui Raka Gunika.
Menurutnya, membaca ulang Asrul Sani hari ini menjadi penting karena sastra Indonesia kontemporer seperti Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (2025), Bungkam Suara (2023), dan Pulang (2013) kembali memperlihatkan manusia-manusia yang lelah, terasing, dan hilang arah. Asrul Sani membantu kita memahami bahwa kegelisahan bukan tanda kegagalan hidup, melainkan bagian dari kesadaran manusia yang jujur.
Warisan Intelektual Lintas Disiplin
Lokakarya yang direviu tim editor yang terdiri atas Prof. Yoseph Yapi Taum, Prof. Aprinus Salam, Dr. M. Yoesoef, M.Hum., dan Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. ini menjadi forum penyamaan persepsi akademik bagi para penulis yang terlibat dalam proyek buku “Seabad Setahun Asrul Sani”. Buku ini direncanakan diluncurkan pada puncak peringatan Seabad Setahun Asrul Sani, 10 Juni 2026.
Prof. Dr. Novi Anoegrajekti dalam sambutannya menegaskan bahwa pemikiran Asrul Sani masih relevan sebagai objek kajian lintas disiplin. “Melalui lokakarya ini, HISKI menunjukkan komitmennya untuk mereaktualisasi warisan intelektual Asrul Sani sebagai sastrawan, sineas, dan intelektual humanis yang karyanya terus dibaca ulang dalam konteks kebudayaan kontemporer,” ujarnya.
Kegiatan ditutup oleh Dr. Sastri Sunarti, M.Hum. pada pukul 17.45 WIB, dengan catatan bahwa antusiasme akademisi terhadap kajian Asrul Sani sangat tinggi, terbukti dari beragamnya perspektif yang dihadirkan—dari psikoanalisis, eksistensialisme, historiografi teater, hingga kritik ideologi kebudayaan modern.
• Suyadi San


